Kisah Pengabdian Bergodo Suparlan di Kasunanan Surakarta

Christina Andhika Setyanti, CNN Indonesia | Kamis, 14/04/2016 15:02 WIB
Kisah Pengabdian Bergodo Suparlan di Kasunanan Surakarta Suparlan, prajurit keraton Surakarta di Hotel Royal Surakarta Heritage (CNN Indonesia/Christina Andhika Setyanti)
Solo, CNN Indonesia -- "Sugeng Rawuh," sapa Suparlan dengan logat Solo yang kental. Dengan ramah Suparlan menyambut tamu yang datang ke Hotel The Royal Surakarta Heritage di Solo.

Dengan pakaian prajurit Kesunanan Surakarta yang lengkap, Suparlan sehari-harinya bertugas menyambut tamu hotel. Suparlan bukanlah 'penyambut tamu' biasa. Dia benar-benar seorang prajurit yang dulunya bekerja ditugaskan di Kasunanan Surakarta.

"Dulunya saya bertugas di Kasunanan, tapi kemudian pihak hotel ini matur (meminta) kepada Gusti di Kasunanan untuk menempatkan beberapa prajurit di hotel," kata Suparlan kepada CNNIndonesia.com di hotel Royal Surakarta Heritage di sela-sela Fam Trip Travel Operator Kementria Pariwisata, beberapa waktu lalu.


"Atas perintah Gusti, saya dan dua orang teman ditugaskan di sini, jadi pekerja harian. Apapun perintah Gusti, ya saya harus berangkat," katanya.

Christian Barbier, general manager The Royal Surakarta Heritage mengungkapkan bahwa hotel ini adalah satu-satunya di Solo yang memiliki prajurit Kasunanan asli untuk menyambut tamu.

Suparlan sudah mengabdikan dirinya kepada Kasunanan Solo sejak tahun 1979. Dan sejak enam bulan lalu dia mulai bergabung dengan hotel. Bagi pria berusia kepala enam ini, menjadi prajurit bukanlah sebuah pilihan, melainkan panggilan hati.

"Istilahnya ya saya terpanggil untuk mengabdi," ucapnya.

"Kalau tidak ada panggilan ya susah, enggak bakal jadi."

Pengabdian Suparlan ke Kasunanan Surakarta bermula karena ajakan kakak-kakaknya. Dalam darah keluarga besarnya juga mengalir darah pengabdian pada keluarga kerajaan Surakarta. Sekalipun kala itu, dia sempat mencecap pahitnya tak diupah, namun dia tak mundur.

"Satu yang saya yakin, pasti ada berkah."

'Pekerjaan' sebagai prajurit keraton dilakoninya sebagai pekerjaan sampingan. Untuk mencukupi kebutuhan keluarganya, pria enam anak ini sempat usaha anyaman. Usaha anyaman ini bisa dilakukannya karena sebagai prajurit dia punya banyak waktu luang.

"Kerja di keraton itu shift-shiftan dengan ratusan orang lainnya, dan sekali kerja jaganya per dua jam sekali," katanya.

"Satu kali jaga ada enam orang."

Seperti prajurit pada umumnya, Suparlan dan teman-temannya harus siap kapan pun dibutuhkan, sekalipun dia sedang libur. Dengan ingatan yang mulai samar-samar, dia mengatakan bahwa dalam satu tahun ada sembilan acara yang wajib dihadiri semua prajuritnya.

"Setahun ada sembilan kali acara. Muludan, Jumenengan, Suro, Alas ketonggo, ngubur kepala kerbau (Mahesa Lawung), Larungan, sisanya saya kok lupa," katanya diiringi tawa ramah.

"Selain itu semua kirab-kirab untuk event luar kota. Prajurit ada sembilan bergodo, tamtomo, prawiro anom, jayeng astero, sorogeni, mbaki, panyutro. Satu bergodo 15-20 orang. jadi kalo pas ada acara keraton semua orang dikoordinasikan untuk ikut."

"Pokoknya apa kata Gusti kami sendiko dawuh (menurut)."

Saat melakukan kirab, sebagai prajurit keraton bertugas untuk menarikan tarian penghormatan. Suparlan mengatakan bahwa prajurit keraton bukan hanya untuk menjaga istana, mengabdi, tapi juga melestarikan kebudayaan Surakarta.

"Ini kan juga buat pariwisata, jadi saya senang. Saya enggak pernah ragu mengabdi jadi prajurit."

Meski sempat merasakan tak digaji, kini prajurit Keraton sudah mendapatkan upah bulanan dari Keraton. Jumlahnya memang tak besar, namun dia tetap mengucap syukur atas semua berkah yang diterimanya.

"Senangnya sekarang gajiannya dua kali, dari hotel dan dari keraton. Ya tidak besar sih, tapi Alhamdulillah bisa buat hidup dari anak-anak sekolah sampai sekarang sudah pada menikah."

Meski usianya tak lagi muda, namun Suparlan masih tetap tegap dan tak mengeluh untuk berdiri dan menyapa ramah para tamu. Gurat-gurat keriput yang ada di wajahnya seolah menggambarkan titik-titik pengabdian iklas terhadap perkembangan budaya, wisata, dan kejayaan keraton.

Sayangnya sampai saat ini, dia masih sulit untuk membujuk anak-anaknya untuk ikut mengabdi pada Keraton.

"Mungkin karena sudah bekerja, jadi masih nanti-nanti saja kalau disuruh ke keraton," ujar pria yang sekarang ini menekuni dunia ukir sangkar burung saat waktu liburnya dari hotel.

"Ya mungkin karena mereka belum terpanggil itu. Susah kalau belum terpanggil, mereka tak akan bisa tahan jadi prajurit."

"Tapi yang pasti, sampai saat ini saya tidak pernah menyesal jadi prajurit. Saya bangga jadi prajurit."




(chs/chs)


ARTIKEL TERKAIT