'Accidental Suicide', Histeria yang Sebabkan Bunuh Diri

Endro Priherdityo, CNN Indonesia | Sabtu, 14/05/2016 00:12 WIB
'Accidental Suicide', Histeria yang Sebabkan Bunuh Diri Kasus tewasnya Prince di kediamannya di Minnessota, April lalu, diduga termasuk accidental suicide. (Stuart Wilson/Getty Images)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kasus bunuh diri seringkali dikaitkan dengan tindakan menghabisi nyawa sendiri secara sengaja. Namun, ada beberapa kasus bunuh diri yang terjadi secara tak diniatkan sebelumnya. Kejadian ini disebut accidental suicide atau bunuh diri tak sengaja.

"Accidental suicide kalau di dalam psikiatri terjadi pada pasien-pasien yang mencoba bunuh diri sebagai reaksi histeria pada dirinya," kata dr Andri, psikiater Rumah Sakit OMNI saat dihubungi CNNIndonesia.com, Jumat (13/5).

"Misalnya pada pasien dengan gangguan kepribadian ambang, atau Borderline Personality Disorder (BPD), mereka kadang suka menyilet tangan sebagai bentuk mencari perhatian dari orang-orang sekitar. Namun, ternyata ia menyilet tangannya terlalu dalam," lanjutnya.


Andri mengatakan untuk pasien gangguan depresi, pihak Badan POM Amerika Serikat sudah memberi peringatan kepada para dokter jiwa. Wanti-wanti tersebut berupa peringatan agar dokter tidak memberikan obat jenis tertentu kepada pasien anak-anak dan remaja.

Golongan obat yang dimaksud adalah serotonin karena dapat memicu bunuh diri. Serotonin biasa digunakan sebagai bagian dari anti-depresan, antipsikotik, obat antimigrain, serta beberapa jenis obat psychadelic dan empathogen.

Banyak peneliti percaya bahwa kandungan serotonin yang tak seimbang dapat mempengaruhi perubahan mood menuju depresi. Selain depresi, gangguan biokimia karena ketidakseimbangan serotonin dapat menyebabkan gangguan obsesif-kompulsif, kecemasan, panik, dan agresi berlebihan.

"Untuk kejadian depresi, obat jenis itu memang tidak diberikan pada anak-anak dan remaja tanpa pengawasan yang ketat. Karena pada anak dan remaja, penggunaan obat jenis ini dapat memicu bunuh diri," kata Andri.

Namun tidak semua orang akan memiliki reaksi yang sama ketika mengonsumsi obat psikotropik. Maka dari itu, setiap dokter akan mengecek terlebih dahulu kondisi pasien, terutama fungsi jantung.

Kasus accidental suicide di Indonesia, diakui Andri sulit untuk diketahui jumlah maupun tipe kejadiannya. Hal ini karena tidak pernah ada laporan yang terekam terkait accidental suicide.

"Malah lebih banyak orang yang tidak ingin diketahui bila ada kasus meninggal karena bunuh diri,” kata Andri.

Berkaitan dengan hal tersebut, accidental suicide diduga terjadi juga pada kasus Prince yang meninggal secara mendadak Kamis (21/4) lalu. Dugaan ini muncul setelah beragam pengembangan penyidikan yang mengindikasikan Prince menggunakan obat sejenis pereda nyeri sebelum ia akhirnya ditemukan tak bernyawa.

Namun Andri menyangsikan accidental suicide terjadi dalam kasus Prince. Menurutnya, segala kemungkinan dapat terjadi dengan sang penyanyi dan dapat berbeda artinya bila dibandingkan dengan terminologi accidental suicide menurut psikiatri. (les)