Ketika Monyet Tak Lagi Menggemaskan

Silvia Galikano, CNN Indonesia | Minggu, 22/05/2016 16:50 WIB
Ketika Monyet Tak Lagi Menggemaskan Wisatawan di Monkey Forest, Bali. (Agung Parameswara/Getty Images)
Jakarta, CNN Indonesia -- Gemas melihat tingkah laku monyet di habitatnya kerap mendorong wisatawan menyodorkan makanan kepada kawanan primata ini.

Tak mengapa jika satu-dua wisatawan saja yang melakukan ini. Apa jadinya jika hampir seluruh pengunjung membawa bekal sebungkus kacang rebus untuk diberikan ke monyet, setiap hari?

Tentu monyet akan menganggap manusia pasti membawa makanan, entah itu kacang yang jelas-jelas tampak di genggaman atau roti atau makanan lain yang “disembunyikan” di dalam tas.


Jika si manusia tak juga melemparkan makanan, monyet akan menagih dengan caranya sendiri. Memanjat hingga ke atas kepala pengunjung, menarik kaca mata, menarik topi, menarik tas, dan menarik apa saja yang sedang digenggam untuk kemudian melarikannya. Maka monyet tak lucu lagi, malah jadi mengganggu.

Kejadian tersebut umum dijumpai di Pantai Bama, Taman Nasional Baluran, Jawa Timur tempat hidup monyet ekor panjang. Mereka mengincar kantong plastik yang ditenteng pengunjung. Selain itu, tas apa saja juga jadi incaran, entah tas sandang atau backpack kecil.

Seakan hafal bahwa tempat sampah juga jadi tempat membuang sisa makanan, ada pula monyet yang nongkrongnya di atas tutup tempat sampah flip. Begitu ada yang membuang sampah, si monyet akan langsung masuk, mencari jika ada sisa makanan.

Pemandangan serupa ditemui juga di Uluwatu, Bali Selatan. Kawanan monyet sudah menyambut begitu pengunjung melewati pintu gerbang, siap merebut makanan di dalam genggaman.

Uniknya, di sana ada pedagang kacang, buah, dan telur rebus tapi tak jadi sasaran monyet. Kawanan ini hanya menyerbu wisatawan.

Kacang rebus, ketika masih di tangan pedagang, aman-aman saja. Begitu sebungkus kacang berpindah tangan ke pengunjung, seketika itu juga monyet merubung.

Bahkan ketika monyet berhasil mengambil dan membawa lari barang milik pengunjung ke atas pohon, pedagang datang membawa “pertolongan”, menawarkan telur yang menurutnya dapat membuat monyet mengembalikan barang tersebut.

Telur dibeli, pedagang memanggil monyet, dan ajaib! Monyet turun, mengambil telur, dan menyodorkan barang yang dia rebut.

Monyet-monyet di Monkey Forest, Padangtegal Ubud, Bali berperilaku sebaliknya. Di sini, monyet semi-liar lebih banyak bermain dengan sesama mereka. Walau dijumpai juga monyet yang mengambil botol air minum pengunjung, namun tak ada yang seagresif di dua tempat sebelumnya.

Di pintu masuk Monkey Forest memang terpampang larangan memberi makan dan minum kepada monyet demi kesehatannya. Tertulis pula “Monyet secara alamiah bukan binatang agresif.”

Mengapa monyet di tempat wisata bisa demikian agresif? Seperti dilansir Pro Fauna, perilaku tersebut karena monyet-monyet terbiasa diberi makan pengunjung.

Yang sebaiknya dilakukan pengunjung jika datang ke habitat hewan semi-liar hanyalah mengamati dan mengambil foto. Jangan pernah memberi mereka makan.

(sil)