Para ilmuwan spesialis otak, psikolog, dan beberapa pakar lainnya telah menyatakan bahwa otak tidak mampu memusatkan perhatian pada lebih dari satu hal dalam waktu yang sama.
Multitasking yang berarti mengalihkan perhatian dari satu hal ke hal lain dan kembali lagi, meski dianggap menyenangkan, ternyata membuat tiap-tiap tugas menjadi diselesaikan dalam waktu yang lebih lama, dibanding jika mengerjakan satu hal dalam satu waktu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lihat juga:Fakta Gelap Tentang Multitasking |
Tak hanya itu, multitasking juga dianggap menurunkan kecerdasan emosional seseorang. Kondisi tersebut tak lagi mengejutkan jika Anda mempunyai kebiasaan mengalihkan perhatian Anda dari pekerjaan yang sedang Anda lakukan di laptop kemudian ke telepon genggam Anda atau bahkan ke tivi.
Mereka yang mempunyai kebiasaan tersebut diyakini sering tidak memperhatikan tanda nonverbal dari lawan bicara di hadapannya.
Meski dampak multitasking dapat membuat seseorang tidak cerdas secara emosional, lebih kurang cerdas atau dipastikan mengalami kerusakan otak, namun banyak perusahaan yang masih mencantumkan kemampuan multitasking sebagai syarat saat merekrut karyawan baru.
"Mampu multitasking adalah syarat yang sering dicantumkan oleh perusahaan di seluruh dunia. Para pebisnis ternama pun banyak yang menyebut kemampuan multitasking sebagai syarat yang diharapkan dimiliki kandidat," ujar juru bicara Ryan College seperti dilansir Inc.
1. Jadwalkan untuk membuat waktu khusus yang tak bisa diganggu
Dalam kurun waktu di mana Anda harus memusatkan perhatian kepada satu tugas di kantor, kerap terjadi distraksi dari telepon pintar Anda. Sebaiknya, buat jeda lima menit setiap Anda telah menghabiskan waktu 25 menit untuk berkonsentrasi mengerjakan satu tugas.
2. Pasang aplikasi blokir-distraksi
Mengaktifkan aplikasi anti-distraksi pada telepon pintar dapat melawan keinginan Anda untuk mengintip media sosial atau mungkin bermain Candy Crush, ketika seharusnya Anda harus berkonsentrasi menulis laporan atau mengisi tabel tugas.
Meditasi atau yoga dapat meningkatkan kemampuan untuk fokus bekerja atau berkonsentrasi. Cara ini juga dapat mengurangi stres yang biasanya terkumpul di ujung hari. Keduanya pun diyakini dapat mengurangi kebiasaan multitasking. Para periset pun menyarankan perusahaan-perusahaan untuk membuka kelas meditasi di kantor.
4. Memperpendek jam kerja dalam per minggu
Para periset menyarankan untuk membuat jam kerja menjadi 32 jam atau 25 jam per minggunya. Hal itu dianggap dapat membuat karyawan terpacu semangatnya untuk lebih cepat menyelesaikan pekerjaan, karena akan ada banyak waktu luang jika tugasnya sudah selesai. Karyawan dianggap dapat termotivasi untuk lebih bekerja dengan efisien, lebih fokus, dan tidak mudah terdistraksi.
(meg)