Nyeri Punggung Dapat Disebabkan Faktor Psikologis

Endro Priherdityo, CNN Indonesia | Senin, 01/08/2016 08:31 WIB
Nyeri Punggung Dapat Disebabkan Faktor Psikologis Nyeri punggung dan pinggang bisa jadi disebabkan faktor psikologis, bukan fisik. (Thinkstock/Comstock Images)
Jakarta, CNN Indonesia -- Selama ini sakit di punggung sering dikaitkan dengan posisi tidur yang salah, jarang berolahraga, atau mungkin mengalami cedera tertentu. Namun ternyata, beberapa sakit di punggung justru tak disebabkan oleh faktor fisik semata.

Melansir Daily Mail, fisioterapis the Royal Orthopaedic Hospital di Birmingham, David Rodgers dan Grahame Brown menjelaskan bahwa sakit pada bagian punggung mungkin saja disebabkan faktor psikologis.

"Kami merasa sangat penting untuk mengenali bahwa unsur psikologis seperti kecemasan memiliki dampak pada fisik. Ini seperti menciptakan serangkaian reaksi kimia kompleks pada tubuh yang dapat meningkatkan rasa sakit, dan kemudian membuat rasa cemas yang dirasakan menjadi makin buruk," kata Rodgers.


Kedua fisioterapis tersebut menyebut fenomena ini sebagai bioposikososial yang meliputi faktor biologis, psikologis, dan sosial. Faktor biologis mengacu pada perubahan fisik yang terjadi pada sistem saraf, hormon, imunitas, otot, tendon, tulang dan sendi yang kemudian berpengaruh pada nyeri persisten atau kontinu.

Keduanya menyebut bahwa nyeri yang dirasakan di punggung dapat berasal dari stres. Rasa stres itu akan memicu pelepasan hormon kortisol yang mengurangi aliran oksigen ke otot dan memperlambat pencernaan.

Stres yang berkepanjangan juga membuat tubuh berada dalam status waspada terus-menerus berupa tersebarnya adrenalin ke seluruh tubuh.

Nyeri punggung yang terjadi secara kontinu dapat meningkatkan kadar hormon kortisol yang berujung pada sulit tidur, kelelahan, dan depresi.

Bila berlangsung dalam jangka panjang, nyeri punggung kemudian berdampak pada sistem kekebalan tubuh dan memicu perubahan sel khusus sitokin. Sel sitokin ini meningkatkan sensitivitas saraf dan membuat sakit semakin terasa menjadi.

"Pikiran negatif tentang sakit punggung yang dialami dapat mengubah keseimbangan kimiawi otak dan dalam prosesnya, mempengaruhi impuls saraf antara sel saraf atau neuron," tambah Brown.

Rasa sakit yang dialami punggung dikirim ke otak dan diterima sebagai sebuah peringatan. Otak kemudian menerjemahkan sebagai tanda bahaya yang memungkinkan sistem saraf jadi lebih sensitif lalu mengirimkan rasa sakit semakin menjadi.

Sakit tersebut lama-kelamaan akan berdampak secara sosial dengan cara mengganggu kualitas hidup dan hubungan dengan lingkungan.

Namun Rodgers dan Brown menjelaskan bahwa tubuh memiliki kemampuan untuk menolak penyebaran pesan negatif dari sakit punggung yang dirasa. Melatih diri dengan kebiasaan yang baik dan membuang semua hal yang membawa dampak buruk juga jadi salah satu cara menghadapi penyakit punggung.

"Dengan membuat perubahan kecil di berbagai aspek dari hidup setiap harinya makan akan dapat menciptakan perbedaan besar secara keseluruhan dari kadar nyeri dan kemampuan fungsional tubuh," tulis keduanya. "Satu langkah yang teramat penting adalah kembali bergerak." (les)