Menjajal Jalur Trekking Purba di Sekitar Kota Kembang

Lesthia Kertopati, CNN Indonesia | Senin, 08/08/2016 17:41 WIB
Menjajal Jalur Trekking Purba di Sekitar Kota Kembang Gunung Batu Lembang jadi salah satu destinasi wisata baru di Kota Kembang, Bandung. (Thinkstock/Purestock)
Jakarta, CNN Indonesia -- Bandung memang terkenal sebagai destinasi wisata paling dekat dari Ibu Kota, selain Bogor, Sukabumi dan Banten. Oleh karena itu, wajar jika setiap akhir pekan, Bandung selalu dipenuhi pelancong dari Jakarta.

Selain ingin mendapatkan pemandangan yang berbeda, Bandung juga punya daya tarik tertentu yang membuat orang selalu ingin kembali datang. Tapi, tidak berhenti sampai di situ, Kota Kembang pun seperti tidak pernah kehabisan destinasi baru untuk ditawarkan.

Belakangan, Farmhouse Lembang tengah jadi destinasi favorit baru, begitu juga dengan Kampoeng Tulip di Pasir Pogor, Ciwastra. Kini, ada satu lagi jujugan wisata baru, Geo Culture Trek di Gunung Batu Lembang.


Seperti namanya, Gunung Batu merupakan bentang alam dengan batu-baru raksasa yang berlokasi di dataran tinggi Lembang. Sejarah menyebut Gunung Batu Lembang terbentuk dari aliran lava akibat letusan dari Gunung Sunda purba sekitar ratusan ribu tahun silam.

Pemandangan alam indah dari puncaknya, membuat Gunung Batu ini kerap disambangi para pencinta alam dan pehobi trekking, dengan jalurnya yang menantang.

Dari puncak Gunung Batu setinggi 1.250 mdpl, pengunjung bisa menyaksikan seluruh Kota Bandung yang dikelilingi pegunungan, seperti Gunung Burangrang, Gunung Tangkuban Parahu, Gunung Putri, Gunung Bukittunggul, serta Gunung Palasari.

Jika penasaran menjajal trekking ke Gunung Batu, Anda bisa mencoba Geo Culture Trek yang diperkenalkan oleh Alumni Institut Teknologi Bandung (ITB) angkatan 1981.

“Jaraknya hanya 2,7 kilometer di Gunung Batu, Desa Pagerwangi, Kecamatan Lembang, Bandung,” kata Arlan Septia, Ketua Alumni ITB 81 di Lawangwangi Café, Lembang.

Meski tidak terlalu jauh, Arlan menyebut, lokasi trekking ini cukup menantang, medannya naik turun menyusuri perbukitan, tapi masih ramah untuk seluruh keluarga.

“Ini bisa menjadi destinasi wisata petualangan keluarga yang seru. Udara paginya sejuk. Setelah trekking bisa dilanjut dengan aktivitas seni budaya, pameran, dan mendongeng buat anak-­anak,” sebut Arlan.

[Gambas:Youtube] (les)