Presiden Direktur CPI, Albert Simanjuntak menjelaskan, saat ini perusahaan masih mencari pola EOR yang paling efisien bersama Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Migas (SKK Migas). Karena pada formula awal, EOR bisa ekonomis jika harga minyak berada di angka US$80 per barel.
"Saat ini EOR baru kami kembangkan satu pattern dan uji surfaktan yang dilakukan itu adalah tahapan yang paling akhir dari beberapa seri EOR. Sekarang, kami sedang mencari pola yang paling ekonomis," terang Albert di Gedung Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI, Senin (5/9).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Yang baru kami lakukan kemarin adalah sebatas mengembangkan satu pola titik sumur untuk membuktikan keteknisannya. Hasilnya, produksi bisa naik sampai 22 persen, atau lebih tinggi dibandingkan catatan teoritisnya," lanjutnya.
Di tahun depan, Chevron menargetkan lifting minyak sebesar 228,91 barel per hari, atau menurun 8,79 persen dibandingkan target Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Penyesuaian (APBNP) 2016 sebesar 250,9 barel per hari.
"Januari 2016 kami bisa produksi 263 ribu barel per hari, dan Desember nanti rata-rata lifting setahun bisa mencapai 250 ribu barel per hari. Harga minyak yang turun juga membuat kami mengurangi pengeboran sumur dan kerja ulang (workover) sumur," lanjutnya.
Sementara, Kepala SKK Migas Amien Sunaryadi mengatakan, EOR dengan injeksi surfaktan belum bisa dilakukan secara full scale karena kontrak bagi hasil produksi (Production Sharing Contract/PSC) Chevron di blok Rokan akan habis di tahun 2021.
"Setelah diskusi dengan Chevron, karena PSC mau habis, sehingga EOR belum diputuskan full scale. Namun, biayanya sudah dianggap sebagai bagian dari cost recovery," ujarnya.
Sebagai informasi, ujicoba EOR di lapangan Minas memakan biaya sebesar US$225 juta. Sementara itu, biaya operasional proyek yang telah dikembalikan ke Kontraktor Kontrak Kerjasama (KKKS) tercatat sebesar US$179 juta, sebagai bagian dari cost recovery tahun 2015.