'Detektif Cinta' Angelina Jolie Juga Ada di Indonesia

Rizky Sekar Afrisia , CNN Indonesia | Kamis, 22/09/2016 14:20 WIB
'Detektif Cinta' Angelina Jolie Juga Ada di Indonesia
Jakarta, CNN Indonesia -- Mematai-matai suami bukan gaya Angelina Jolie. Tapi perasaan tidak enak membuatnya menyewa detektif swasta untuk mengawasi gerak-gerik Brad Pitt.

Ternyata dari situ ia mendapat bukti, ada sesuatu yang spesial antara sang suami dengan Marion Cotillard, lawan mainnya dalam film Allied.

Pitt bahkan disebut-sebut sudah berhubungan dengan Cotillard sejak sebelum syuting film yang dimulai musim gugur tahun ini.

Itu sesuai dengan pernyataan produser film, Graham King. Menurutnya, Pitt dan Cotillard memang banyak menghabiskan waktu bersama untuk mendalami karakter, sejak sebelum syuting.

Rumor perselingkuhan itu disebut-sebut menjadi alasan Jolie menggugat cerai Pitt, pada Senin (19/9). Alasan resminya: perbedaan-perbedaan yang tak bisa diselesaikan.

Jolie bukan satu-satunya selebriti yang pernah menyewa detektif swasta. Tujuannya memang tidak melulu untuk mengintai pasangan dan membuktikan perselingkuhan.

Michael Jackson misalnya, menyewa detektif pribadi pada 1990 sebagai upaya menyangkal kasus penganiayaan yang terus menghantuinya sampai meninggal.

Bill dan Hillary Clinton juga menyewa detektif swasta untuk mengawasi Gennifer Flowers yang mengaku punya skandal dengan sang mantan presiden. Maria Shriver melakukannya untuk mematai Arnold Schwarzenegger, sang suami sendiri.

Detektif serupa juga ternyata ada di Indonesia. Tidak banyak memang, gerakannya pun ‘underground.’ Promosi kebanyakan dari mulut ke mulut. Setidaknya begitulah yang diakui Jack, penggagas jasa detektif bernama Detektif Perselingkuhan.

Kepada CNNIndonesia.com Jack mengakui, bisnis itu dimulainya sejak sekitar 1997. Klien pertamanya adalah seorang pemilik supermarket. Untuk memata-matai pasangan sang pebisnis, ia harus lima kali bolak-balik Jakarta-Surabaya.

“Dibayarnya kecil banget, Rp5 juta,” kata Jack saat dihubungi melalui telepon.

Saat akhirnya berhasil, pengusaha itu memintanya bertemu untuk memberinya uang lebih. Tapi Jack menolak. “Saya memang tujuannya bukan cari duit,” ia mengakui.

Tapi kesuksesan sejak klien itu ternyata merambat. Sang klien merekomendasikannya kepada lingkungan yang lebih besar. Kebanyakan komunitas Tionghoa. Dari situlah ia mulai berkembang. “Komunitas Tionghoa biasanya kenal saya semua,” ujarnya.

Sekarang ia bisa mendapat sekitar tiga klien per hari, dari berbagai kota.

Biasanya di Indonesia kota-kota 'emas' yang banyak perselingkuhan itu Jakarta, Bali, dan Surabaya.Jack, detektif swasta
Ia juga menangani artis, pejabat, sampai orang biasa. “Tapi namanya saya tidak bisa sebut.”

Ia bahkan punya klien ekspatriat, sekitar 15 persen. Kebanyakan mereka  berhubungan jarak jauh. Sang suami yang tinggal di Indonesia dirasanya berubah.

Jack ingat pernah punya klien ekspatriat yang sangat sulit. Targetnya sangat lihai. “Saya sampai tiga bulan [menangani itu],” ujar Jack. Padahal targetnya perempuan.

“Tapi dia punya anak buah banyak. Cara pakai bajunya, cara bergeraknya, cara berjalannya, bisa berubah-ubah. Kadang jadi seperti perempuan malam, kadang seperti pembalap,” kata Jack bercerita. Tapi akhirnya ia terbukti berselingkuh juga.

Biasanya, kata Jack, setiap proyek butuh waktu sekitar lima sampai 10 hari. Tergantung tingkat kesulitannya. Juga tergantung jarak libido pria dan wanita yang sudah diukur dan diamati sendiri oleh Jack.

“Laki-laki itu biasanya libido memuncak tiga hari sekali. Kalau perempuan biasanya memuncak enam hari sekali,” ujar Jack. Jadi kalau sampai batas waktu itu tidak juga selingkuh, artinya biasanya mereka bersih.

Kalau dalam jarak waktu yang ditentukan tidak ditemukan bukti perselingkuhan, klien tak perlu membayar sisa biaya sewa.

Tapi 50 persen uang muka tak bisa dikembalikan. Atau, jika masih benar-benar penasaran dan belum tenang, klien bisa meminta penyelidikan lebih lanjut, dengan biaya tambahan 15 persen.

Biaya yang ditetapkan Detektif Perselingkuhan bermacam-macam, sesuai kemampuan klien. “Jangan tersinggung, bukan apa-apa tapi saya biasanya tanya dulu targetnya kerja di mana, kendaraannya apa, kondisi ekonominya bagaimana.”

Ilustrasi selingkuh (paolo81/Thinkstock)

Jika klien pengendara motor misalnya, Jack menerapkan harga Rp20 jutaan. Pengendara mobil bisa Rp30 juta sampai Rp50 juta. Lain lagi jika pejabat, artis, atau ekspatriat. Tarif untuk mereka biasanya lebih mahal, bisa sampai Rp100 jutaan.

Biaya itu biasanya digunakan untuk operasional. Agen di lapangan harus membuntuti target ke mana-mana. Naik taksi, makan di restoran, dan lain-lain. Bahkan bisa ke luar kota atau ke luar negeri.

“Tapi biasanya ada biaya tambahan, sesuai transportasi dan akomodasi di sana. Ke luar negeri pun demikian,” kata Jack lagi, menerangkan.

“Biasanya di Indonesia kota-kota 'emas' yang banyak perselingkuhan itu Jakarta, Bali, dan Surabaya,” tutur pria yang sudah menyukai kasus sejak kecil itu.

Detektif Perselingkuhan akan memberikan bukti kepada klien berupa foto atau video. “Waktu mereka jalan berdua, bergandengan tangan, makan, sampai masuk hotel,” kata operator hunting Detektif Perselingkuhan saat ditelepon CNNIndonesia.com.

Tapi Jack tidak pernah mau bertemu klien. Agennya pun demikian. Mereka hanya berkomunikasi melalui telepon, WhatsApp, BBM, maupun surat elektronik.

“Kalau ingin memergoki langsung, kami bisa telepon dan memberi tahu lokasinya target sedang ada di mana dan bersama siapa,” ujar operator itu melanjutkan.

Untuk klien yang sekarang membeludak itu, Jack sudah punya sekitar 270 agen lapangan. Uniknya, mereka tidak saling kenal karena tak punya kantor. Masing-masing bahkan tak pernah saling bertemu. Pun demikian dengan Jack.

Mereka hanya pernah diberi ‘pelatihan’ beberapa saat setelah direkrut. Mereka harus tahu, misalnya, bagaimana cara membuntuti orang tanpa diketahui, meski duduk semeja.

Agen yang jumlahnya ratusan itu, kebanyakan diambil Jack dari jalanan. “Karena saya ingat dulu waktu terlantar, tidak ada yang mau bantu. Jadi sekarang kalau ketemu orang yang terlantar begitu, saya angkat,” kata Jack saat ditanya alasannya.

Ilustrasi selingkuh (crossstudio/Thinkstock)

“Bahkan wanita malam saja saya datangi, saya dekati. Sampai kapan sih dia mau begini, saya kasih kerjaan mau tidak? Lama-lama saya ajak bergabung,” lanjutnya.

Masing-masing agen akan punya satu proyek. Dari tarif proyek, setelah dikurangi biaya operasional, mereka bisa mengantongi bayaran. Yang masuk ke saku Jack sebagai bos, biasanya hanya sekitar Rp3 jutaan. “Pokoknya semakin mereka efektif dan efisien mengelola biaya itu, semakin besar bagian mereka,” ujar Jack.

“Jadi tergantung mereka. Tapi saya intinya tidak cari duit, mau membantu saja. Bahkan pernah dari tarif itu mereka tekor, saya tidak marah,” ia melanjutkan.

Bisnis detektif swasta seperti itu, dikatakan Jack masih jarang di Indonesia. Tapi ia pernah diajak bergabung oleh beberapa kantor detektif swasta di daerah, terutama di Jawa Timur dan Jawa Tengah. Menurutnya, bisnis itu sebenarnya dibutuhkan.

Banyak orang yang ingin membuktikan pasangannya selingkuh. Tapi kalau mereka datang ke polisi, akan ditertawakan. Untuk itulah orang-orang seperti Jack, ada.

“Ada klien yang malah menyuruh saya buka kantor di Eropa. Saya tidak mau, jasa saya masih dibutuhkan di Indonesia,” ujar sosok yang penuh rasa penasaran itu.
Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:
Akhir Dongeng Cinta Brangelina