Klub Kebugaran Pertama Dibuka di Kabul

Vega Probo , CNN Indonesia | Senin, 31/10/2016 06:46 WIB
Klub Kebugaran Pertama Dibuka di Kabul
Jakarta, CNN Indonesia -- Klub kebugaran pertama untuk para wanita telah dibuka di Kabul. Pengelola klub senilai US$20 ribu ini menyasar para wanita di ibu kota Afghanistan yang masyarakatnya menganut sistem patriarkal.

“Saya berambisi membuka klub ini—Blue Moon Fitness Club—dan melayani para wanita seperti saya,” kata pemilik klub, Tahmina Mahid Nuristani, kepada agen berita Xinhua pada Minggu, dikutip Laman NDTV.

“Masyarakat Afganistan,” Tamina melanjutkan, “dikenal konservatif, namun bertentangan hal tersebut, saya membuka klub ini hampir dua bulan lalu, dengan harapan bisa berkontribusi memberdayakan wanita.

Diakui wanita berusia 20 tahun ini, di kalangan masyarakat Afganistan yang konservatif, terutama di kawasan pinggiran, ada tradisi, di antaranya melarang para gadis pergi ke sekolah atau bekerja di luar rumah.

Maka langkahnya membuka klub kebugaran tergolong berani. Tamina berkata, “Saya berniat membangun klub ini untuk mendukung dan menyemangati para wanita agar keluar rumah, pergi ke klub dan berlatih kebugaran.”

Kenyataannya, bidang olahraga di Afganistan tergolong berkembang, sejak runtuhnya rezim Taliban, pada 2001. Atlet di negara yang diapit Asia Selatan dan Asia Tengah ini berjaya di berbagai turnamen dunia.

Di Olimpiade Beijing 2008, misalnya, atlet Afganistan beroleh banyak medali. Begitu pula di Olimpiade London 2012. Namun keikutsertaan atlet wanita nyaris tidak ada. Potensi mereka dibatasi tradisi dan budaya.

“Para pria di jalanan melecehkan saya setiap hari saban saya pergi menuju ke klub kebugaran,” kata Rukhsar Habibzai, anggota klub kebugaran berusia 19 tahun. Bahkan para pria juga bertindak dan berkata kasar.

Para pria, menurut Rukhsar, tak segan melempari batu ke arahnya saat bersepeda menuju klub kebugaran. Alasannya, hanya karena ia wanita. Rukhsar menilai, para pria berusaha mencegah dirinya pergi ke klub kebugaran.

Rukhsar memang aktif berolahraga. Tiga tahun terakhir, ia menjadi anggota National Women's Cyclist Association. Saat ini, ia berlatih yoga di klub kebugaran. Namun perlakuan diskriminatif tak menyurutkan semangatnya.

“Dengan semangat dan kekuatan, kami, para wanita Afgan, bisa melampaui batasan tradisi dan budaya yang menyakitkan demi membuktikan dan meningkatkan eksistensi kami di masyarakat,” kata Rukhsar.

Sebetulnya status sosial para wanita di Afganistan sudah lebih baik dibanding sebelumnya, dan para wanita telah terlibat di bidang politik, bisnis, seni. Sebelumnya, hal tersebut terlarang bagi kaum wanita.

Banyak keluarga masih tidak memperbolehkan anggota keluarga wanita untuk beranjak keluar rumah. Maka dengan dibukanya klub kebugaran tersebut 45 hari lalu, segera menarik perhatian para wanita.

Mereka antusias berolahraga dan para anggota klub kebugaran tersebut pun terus bertambah, sekalipun mendapat tentangan dari para pria. Demikian disampaikan oleh instruktur yoga, Fakhria Ibrahim, dikutip NDTV.

“Sejak klub tersebut dibuka, 50 wanita dan gadis muda sudah mendaftar dan secara rutin berlatih yoga, pembentukan tubuh dan latihan lain,” kata Fakhria. “Jumlah anggota terus bertambah sekalipun ada larangan.”