Melansir AFP pada Rabu (18/1), pembuat minuman keras bernama Chen Chao tersebut menggunakan batang bambu untuk melakukan proses fermentasi minuman alkohol yang ia buat.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bulan April dianggap sebagai momen paling tepat untuk panen lantaran bersamaan dengan perayaan tahunan Qingming. Perayaan ini dilakukan untuk menghormati leluhur.
"Selama proses fermentasi, minuman keras di dalam bambu bercampur dengan senyawa flavon yang dihasilkan bambu, juga bercampur dengan getah," kata Chen.
Menurut Chen, sesuai dengan kepercayaan lokal, flavon dan getah bambu dianggap memiliki efek detoksifikasi dan berperan dalam kesehatan paru-paru.
Metode membuat minuman keras di dalam bambu ini juga mengurangi kandungan alkohol. Dikatakan Chen, bambu akan menyerap alkohol dari minuman tersebut.
"Produksi kami cukup terbatas, sekitar 50 hingga 60 ribu botol per tahun, setiap botol berisi 500 hingga 600 mililiter," kata Chen yang menyebut total produksi dapat mencapai setidaknya 25 ribu liter per tahun.
Namun Chen berharap dapat meningkatkan jumlah tersebut dengan menggunakan teknik baru yang lebih efisien sebagai upaya menangani kompetisi antar pembuat minuman keras dalam bambu.
"Sebelumnya, sedikit orang tahu tentang alkohol bambu, karena produksi minuman ini cukup rahasia. Kini berubah," kata Chen.
Chen mempelajari teknik tradisional ini dari tempat asalnya, timur provinsi Fujian. Ia kemudian merilis produksi minumannya sendiri pada 2015 di Sichuan, tempat hutan bambu terkenal Shunan Bamboo Sea.
Di hutan bambu tersebut, biasa dikenal sebagai tempat produksi minuman keras yang terbuat dari sorgum, ketan, jagung, dan gandum.
Namun usaha Chen mulai menurun sejak China meluncurkan kampanye anti-korupsi yang melarang pemberian barang mewah seperti wine dan minuman keras lainnya kepada pejabat publik.
(chs)