Melansir Telegraph, penelitian tersebut dilakukan oleh University of Pennsylvania dan menemukan bahwa pesan yang menyakiti orang berbobot lebih dapat memengaruhi pola asupan mereka.
Ejekan seperti pemalas, tidak berkompeten, tidak menarik, dan menyalahkan bentuk badan, ternyata diketahui dapat membuat pola asupan berantakan dan meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular seperti jantung juga metabolisme seperti diabetes.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kami menemukan dampak yang berkebalikan. Ketika orang merasa malu karena berat mereka, mereka akan lebih menghindari latihan dan mengkonsumsi lebih banyak kalori untuk mengatasi stres."
Penelitian ini dilakukan dengan menguji 159 orang dewasa yang mengidap obesitas. Hasil penelitian menunjukan orang yang kerap menerima stereotip negatif punya risiko lebih besar menderita penyakit jantung, stroke dan diabetes.
Selain itu, mereka yang punya kesan negatif terhadap ukuran tubuh, tiga kali lebih mungkin menderita sindrom metabolisme dan memiliki tingkat trigliserida atau lemak darah enam kali lebih tinggi.
Tom Wadden, peneliti lain yang berpartisipasi dalam penelitian tersebut, menyarankan penyedia layanan kesehatan, media, dan publik, agar tidak mempermalukan dan membuat malu penderita obesitas.
Lihat juga:Rahasia Langsing Para Wanita di Perancis |
"Mempermalukan bukan cara terbaik untuk membuat mereka menurunkan berat badan, namun justru malah berdampak pada kesehatan penderita obesitas," tutur Wadden.
"Konsultan kesehatan dapat memerankan peran penting untuk mencegah ini dengan memperlakukan mereka dengan hormat, membahas berat badan dengan sensitivitas dan tanpa penghakiman, serta memberikan dukungan juga dorongan kepada pasien yang berjuang menurunkan berat badan."
(end/les)