Melansir Oddity Central, untuk menghindari kegagalan saat ujian, SMA 1 Nanjing di China, membuat bank kelas yang dapat 'meminjamkan' nilai pada siswanya.
Lihat juga:Topi Koran Pencegah 'Nyontek' Saat Ujian |
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sebelumnya, China memang dikenal memiliki sistem pendidikan yang ketat. Untuk sampai di bangku perkuliahan, seorang siswa harus lulus dalam ujian akhir yang dianggap sangat sulit.
Tidak mengherankan, hal itu memunculkan berbagai cara menyontek mulai dari menggunakan kamera agen rahasia sampai kacamata canggih ala James Bond.
Huang Kan, Kepala Sekolah dari SMA 1 Nanjing mengatakan, sistem baru ini diterapkan untuk mengembalikan esensi awal dari ujian yang bertujuan meningkatkan kemampuan belajar siswa. Bukan untuk menghancurkan semangat belajar siswa.
"Tujuan dari ujian adalah mengevaluasi, membenarkan serta meningkatkan kemampuan belajar siswa. Bukan menjadikannya sulit, dan menghancurkan semangat siswa," ujar Kan seperti yang diberitakan media lokal Yangtse Evening News.
Sementara itu, Mei Hong seorang guru fisika di sekolah itu mengatakan, bank kelas dirancang untuk menawarkan siswa kesempatan kedua.
"Nilai 59 dan 60 sebenarnya tidak beda jauh. Namun bagi siswa, perbedaan tersebut dapat menjadi beban psikis yang berat. Jadi daripada gagal hanya karena satu poin, siswa dapat meminjam poin untuk lulus selama mereka setuju membayar kembali," ujar Hong.
Di sisi lain, Zhu, seorang siswa yang gagal dalam pelajaran geografi mengungkapkan sangat terbantu dengan adanya bank nilai. Ia mengaku sistem tersebut memberinya kesempatan untuk melakukan perbaikan.
"Saya sakit sebelum ujian, dan akhirnya ketinggalan beberapa kelas geografi. Saat ujian saya gagal, namun bank nilai membantu memperbaikinya," ujar Zhu.
Bank nilai sendiri merupakan sistem percontohan yang diperkenalkan sejak November 2016. Untuk saat ini, sistem tersebut hanya berlaku di kelas 10 SMA tersebut. Untuk merancang skema pinjaman sendiri Kan mengaku mengundang langsung para pekerja sistem perbankan.
Meskipun mendapat sambutan baik dari siswa dan publik di media sosial, Xiong Binqi, seorang pakar pendidikan mengaku tidak setuju dengan sistem tersebut. Bingqi mengakui meskipun bank nilai mampu menarik rasa khawatir siswa, namun hal itu tidak cocok digunakan saat ujian. Para siswa ditakutkan akan menjadi malas karena mengetahui memiliki kesempatan kedua pada tes berikutnya. (okt/chs)