Mencari Gaya Baru Bordir Kudus
Endro Priherdityo | CNN Indonesia
Senin, 06 Feb 2017 16:23 WIB
Jakarta, CNN Indonesia -- Kudus, kabupaten di jalur pantai timur laut Jawa Tengah, bukan cuma terkenal soal kretek dan batik ataupun jenang, melainkan juga teknik bordir.
Bila biasanya bordir Kudus dikenal untuk kebaya dan mukena, empat desainer Jakarta mencoba mencari gaya baru bagi bordir tradisional ini.
Empat desainer tersebut adalah Rudy Chandra, Ariy Arka, Defrico Audy, serta Ivan Gunawan. Keempatnya direkrut Pemerintah Kabupaten Kudus untuk memberikan angin segar bagi industri kerajinan bordir yang ada sejak 1970-an itu.
Keempat desainer itu pun mengeluarkan koleksi hasil 'merombak' bordir Kudus dalam tema Savana Muria di malam penutupan Indonesia Fashon Week (IFW) 2017, Minggu (5/2), di Jakarta Convention Center (JCC).
"Kami diutus bapak Bupati Kudus (Musthofa) untuk menggarap bordir Kudus ini, masing-masing dari kami berkolaborasi dengan pengrajin bordir di Kudus selama dua bulan," kata Ivan saat ditemui di arena IFW.
"Kami ingin bordir ini jadi berbeda, bukan sekadar kebaya encim, tutup gelas, dan lain yang sederhana,"
Selain Tasikmalaya, industri kerajinan bordir juga marak di Kudus, bahkan sejak 40 tahun lalu. Kebanyakan pengrajin bordir di Kudus menggunakan teknik manual.
Teknik manual tersebut membuat upaya pembuatan produk menjadi lama, sekitar dua hingga beberapa bulan. Dan biasanya, bordir ini ditemukan untuk kebaya encim, mukena atau pakaian salat, hingga aksesori rumah tangga seperti tutup dan alas gelas.
Namun dalam gubahan empat desainer pria ini, bordir Kudus bukan hanya terlihat 'terlepas' dari kesan bordiran mukena dan alat rumah tangga, namun berkesan modern dengan sentuhan cita rasa ala metropolitan.
Bila biasanya bordir Kudus dikenal untuk kebaya dan mukena, empat desainer Jakarta mencoba mencari gaya baru bagi bordir tradisional ini.
Empat desainer tersebut adalah Rudy Chandra, Ariy Arka, Defrico Audy, serta Ivan Gunawan. Keempatnya direkrut Pemerintah Kabupaten Kudus untuk memberikan angin segar bagi industri kerajinan bordir yang ada sejak 1970-an itu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Salah satu koleksi Defrico Audy yang menggunakan bordir Kudus dan bertema alam kabupaten tersebut. (CNN Indonesia/Andry Novelino) |
"Kami ingin bordir ini jadi berbeda, bukan sekadar kebaya encim, tutup gelas, dan lain yang sederhana,"
Selain Tasikmalaya, industri kerajinan bordir juga marak di Kudus, bahkan sejak 40 tahun lalu. Kebanyakan pengrajin bordir di Kudus menggunakan teknik manual.
Koleksi Ivan Gunawan yang juga menggunakan bordir Kudus dalam tema Savana Muria di IFW 2017. (CNN Indonesia/Andry Novelino) |
Namun dalam gubahan empat desainer pria ini, bordir Kudus bukan hanya terlihat 'terlepas' dari kesan bordiran mukena dan alat rumah tangga, namun berkesan modern dengan sentuhan cita rasa ala metropolitan.
Dari bunga hingga Dior
BACA HALAMAN BERIKUTNYA
Salah satu koleksi Defrico Audy yang menggunakan bordir Kudus dan bertema alam kabupaten tersebut. (CNN Indonesia/Andry Novelino)
Koleksi Ivan Gunawan yang juga menggunakan bordir Kudus dalam tema Savana Muria di IFW 2017. (CNN Indonesia/Andry Novelino)
Koleksi Savana Muria oleh Ariy Arka di Indonesia Fashion Week (IFW) 2017, Minggu (5/2). (CNN Indonesia/Endro Priherdityo)
Defrico Audy mempersembahkan koleksi terbarunya di Indonesia fashion Week 2017, yang diselenggarakan di Jakarta Convention Center. Jakarta. Minggu, 5 Februari 2017. (CNN Indonesia/ Andry Novelino)
Salah satu tampilan koleksi Ivan Gunawan dengan paduan bordir Kudus dan motif anggrek bulan, bulu ayam, serta tegel antik. (CNN Indonesia/Andry Novelino)