Warga China percaya Naga akan menangkal kesialan dan mengundang hujan, yang diasosaikan dengan keberuntungan. Hujan juga akan menyuburkan tanah dan membuat panen berhasil.
Oleh karena itulah, Naga selalu hadir di acara festival, terutama di kawasan Liancheng.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kemudian, naga raksasa tersebut ditandu oleh dua belas orang.
Uniknya, kepala dan badan Naga, diarak terpisah dengan ekornya. Warga Gutian percaya, jika ekor diarak bersama, maka hal itu justru mendatangkan banjir. Memisahkan ekor dan badan Naga, dipercaya bisa mencegah bencana tersebut.
Usai arak-arakan Naga keliling desa, warga akan memulai festival lampion. Di malam hari, desa akan berubah terang-benderang dengan lampion kertas yang menyala di setiap sudut. Mereka juga menyalakan kembang api.
Parade Naga tersebut selalu dirayakan usai Tahun Baru China. Harapannya agar tahun yang baru penuh dengan keberuntungan dan kesuksesan.
Selain di Lianchen, festival serupa juga dirayakan di desa Hakka, di kawasan Peitian. Hanya saja, di Hakka, naganya tampil berbeda dengan kulit yang berpendar. Mereka percaya, Naga bercahaya itu merupakan warisan dari era Dinasti Ming yang menguasai China dari tahun 1368 hingga 1644.
(les)