Dua Ratus Hari Menjelajah Dunia Demi Barbecue Terbaik

Syanne Susita, CNN Indonesia | Selasa, 14/03/2017 19:35 WIB
Dua Ratus Hari Menjelajah Dunia Demi Barbecue Terbaik Barbecue, film dokumenter mencari barbacue terbaik. (CNN Indonesia/Laudy Gracivia)
Jakarta, CNN Indonesia -- Barbecue, film dokumenter yang menguak berbagai dinamika dalam budaya daging panggang, mendapat sambutan hangat saat pemutaran perdananya di festival film Southwest di Austin, Texas. Film ini dipuji karena dengan sukses menggabungkan makanan, api dan selera makan yang besar.

Disutradarai oleh sutradara Australia, Matthew Salleh dan pasangannya, Rose Tucker, syuting film ini dilakukan di 12 negara berbeda.

“Barbecue adalah kombinasi sempurna dari tradisi, komunitas dan budaya. Awalnya hanya sekedar obrolan dengan mereka yang membanggakan gaya barbecue negara  masing-masing,” ujar Salleh.

Namun, pembicaraan santai itu berkembang menjadi undangan untuk Matthew dan Rose ke berbagai negara untuk mendokumentasi teknik memasak barbecue.


“Selama 6 atau 7 bulan melakukan penelitian, kita dihubungi banyak orang dari berbagai negara yang ingin mengundang kita untuk melihat sendiri tradisi barbecue di negara mereka,” terang Salleh yang kini tengah sibuk mencari distributor film dokumenternya itu.

Matthew dan Rose pun akhirnya menghabiskan waktu 200 hari berkeliling dari Swedia hingga Uruguay. Selama perjalanan itu, mereka juga berhenti di Armenia, Mongolia, Jepang, dan kamp pengungsi yang terletak di perbatasan Syria dan Jordania.

Dalam film ini ditampilkan berbagai cara memanggang di berbagai negara, mulai dari memanggang daging marmut dengan batu panas di Mongolia hingga lubang memanggang daging kambing di Mexico. Walau menampilkan berbagai cara memanggang daging, pesan dari film ini tetap sama. Makanan menyatukan komunitas dan keluarga.

“Film ini sempat ditonton oleh para vegetarian dan tidak ada yang menyangkal mengenai pentingnya budaya berkumpul di depan api sambil memakan daging.” Seru Salleh.

Seusai perjalanan mereka keliling 200 hari menelusuri budaya barbecue, banyak orang mempertanyakan mengapa negara mereka tidak dimasukan dalam dokumenter ini dan masih mempertanyakan barbecue yang terbaik seperti apa.

“Jika ada orang yang mempertanyakan mana yang terbaik, jawaban kami sangat politis. Kami menyukai semuanya!,” terang Salleh.

Sedangkan rekan Salleh, Rose Tucker, langsung memberikan peringkat penilaian barbecue terbaik versinya sendiri.

“Yang pasti, pengalaman dan rasanya. Kita memiliki pengalaman terbaik di Armenia dimana kita minum vodka di gigitan daging pertama.”