Kejadian itu bermula jelang perayaan Hari Kartini 2015. Tina yang sudah menjalani karier di dunia mode selama lebih dari tiga dekade itu mengaku, tidak memiliki kebaya yang dapat dia kenakan.
Setelah mencari ke berbagai tempat untuk mendapatkan kebaya dan batik yang diinginkannya, Tina pun memutuskan untuk membuat sendiri koleksi berbahan batik dan kebaya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun, setelah menjalani dua tahunnya berhadapan dengan batik, Tina justru jatuh cinta. Dia yang baru saja meluncurkan koleksi dalam The Art of Heritage Culture pun merasa puas.
Menurut Tina, seorang fashion desainer layaknya koki dalam restoran. Dia ingin memberikan cita rasa terbaiknya dan menjadi ciri khas yang dikenal oleh masyarakat.
"Saya itu membayangkan diri saya sebagai koki di sebuah restoran yang ingin terus membuat masakan yang nikmat dan memiliki cita rasa khas bagi para pecintanya," ucapnya.
Dirinya pun akan merasa berhasil dalam dunia fesyen jika seseorang mau mengenakan koleksinya lebih dari sekali.
"Daya pakai, itu yang ukuran keberhasilan. Jika seseorang hanya mengenakan baju ciptaan saya sekali tandanya saya belum berhasil. Tapi, jika mengenakan lebih dari sekali bahkan ratusan kali berarti saya berhasil," ujarnya. (rah)