Cerita Aji Susanto Hadapi Tantangan Budidaya Ikan Nila

Rahman Indra, CNN Indonesia | Selasa, 04/07/2017 15:30 WIB
Cerita Aji Susanto Hadapi Tantangan Budidaya Ikan Nila Sebagai pembudidaya ikan di Jatiluhur, Anto tak tahu pasti penyakit yang menimpa ikan nila, termasuk peringatan akan wabah Virus Tilapia yang kini melanda. (Foto: AFP PHOTO / SEYLLOU)
Jakarta, CNN Indonesia -- Tahun ini memasuki tahun ke-sepuluh Aji Susanto menjadi pembudidaya ikan di Jatiluhur, Jawa Barat. Biakannya terdiri dari ikan mas, patin dan nila. Meski sudah hampir satu dekade, ia mengakui tidak tahu pasti jenis penyakit yang melanda ikan biakannya, meski kadang tiba-tiba ikan-ikan itu mati. 

Begitu juga dengan mewabahnya Tilapia Lake Virus atau Virus Tilapia pada ikan nila yang terjadi di enam negara, dan masuk peringatan Kementerian Kelautan dan Perikanan. Anto, demikian ia biasa disapa, juga tak pernah mendengarnya. Menurutnya, selama menjadi pembudidaya ikan, yang ia tahu, dirinya kerap berhadapan dengan ikan yang tiba-tiba mati ketika kena penyakit. 

"Namun, saya tak tahu jenis penyakitnya, ini lebih karena kondisi air yang dingin, lalu ikan-ikan itu matanya hilang," ujarnya lugas, saat dihubungi pada Selasa (4/7).



Sejauh pengalamannya, Anto menilai virus atau penyakit yang melanda ikan nila biakannya biasa datang pada waktu tertentu seperti sekitaran Juni atau Juli.  

"Selama ini hampir tidak ada penyuluhan untuk itu, jadi memang lebih ke individu. Kadang kita sendiri yang cari informasi, kadang ada juga masukan dari pihak pakan," ujarnya menambahkan.

Anto menuturkan budidaya ikan di Jatiluhur kondisinya tidak selalu stabil. Yang patut diantisipasi, kata dia, adalah ketika musim penghujan datang sekitar Desember-Januari-Februari, di mana terjadi arus balik (upwelling) yang bisa merugikannya karena ikan-ikan banyak yang mati.

"Pernah kejadian di 2013, hampir 90 persen ikan di Jatiluhur mati, penyebabnya air jadi putih, oksigen tidak ada sehingga ikan lemas dan mati," tuturnya.


Namun, arus balik bukan kejadian yang terjadi setiap tahun. Menurutnya, kejadian itu pernah berlangsung pada 2008, 2009 lalu 2013. Tahun lalu juga kembali terjadi. 

Menurut Anto, dari ketiga jenis ikan biakannya, ikan patin yang paling kuat. Jika ikan mas dan nila mati, ia lalu memberikan bangkai ikan pada patin. "Sayang kalau dibuang, dimakan patin bisa gede ikannya," kata dia.

Lebih jauh, Anto mengatakan dirinya hingga saat ini masih menjalankan budidaya ikan dengan pengetahuan sendiri. Ia tak memungkiri jika ada keinginan untuk mengetahui lebih dalam seputar budidaya ikan. Terkait wabah virus Tilapia ia berharap itu tidak melanda pada ikan hasil budidayanya.


Sebelumnya, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), melalui Direktur Jenderal Perikanan Budi Daya KKP, Slamet Soebjakto, di Jakarta, Senin (3/7) mengingatkan para pembudidaya di berbagai daerah untuk meningkatkan kewaspadaan akan penyakit "tilapia lake virus" yang mengancam ikan jenis nila dan mujair, baik hasil budi daya maupun perairan umum.

Peningkatan kewaspadaan ini menjadi penting mengingat virus yang menyerang ikan ini sudah mulai mendekat ke Indonesia.

Saat ini sudah cukup banyak negara yang sudah terjangkit virus tersebut, di antaranya Israel, Ekuador, Mesir dan Kolombia. Sedangkan di kawasan Asia Tenggara, lanjutnya, negara yang dilaporkan sudah terjangkit oleh penyakit ikan tersebut adalah Thailand.

"Dengan peringatan ini diharapkan penyakit 'TiLV' dapat dicegah masuk ke Indonesia," ujarnya. (rah/rah)


ARTIKEL TERKAIT