Kak Seto: Harus Ada Tindakan Tegas Untuk Pelaku Bullying

Ferdy Thaeras, CNN Indonesia | Selasa, 18/07/2017 09:50 WIB
Kak Seto: Harus Ada Tindakan Tegas Untuk Pelaku Bullying Bullying yang seakan sudah menjadi tradisi harus ditindak tegas agar tidak terulang menurut Kak Seto. (Foto: ANTARA FOTO/Vitalis Yogi Trisna)
Jakarta, CNN Indonesia -- Isu bullying atau kekerasan di usia sekolah kembali marak, mulai dari mahasiswa yang melakukannya pada penderita disabilitas hingga anak-anak kecil yang mengeroyok seorang anak perempuan di Thamrin City.

Menurut pemerhati anak, Seto Mulyadi atau yang akrab dipanggil Kak Seto, sebenarnya hal ini bukanlah sesuatu yang baru dan sudah terjadi sejak lama. Hanya saja kebetulan sekarang ini media sosial semakin viral dan orang-orang gemar mengabadikan sebuah adegan ke dalam akun mereka.

“Pada kenyataannya, ini hanya segelintir dari kasus bullying yang kebetulan terekam dan masyarakat menjadi tahu. Sebenarnya masih banyak lagi kasus bullying yang tidak kita ketahui terjadi di seluruh penjuru Indonesia, namun tidak tersorot media massa ataupun diunggah ke media sosial,” ujarnya via telepon kepada Cnnindonesia, Selasa (18/07/2017).

Bullying Seperti Tradisi
Kak Seto melihat bahwa bullying seakan masih seperti menjadi tradisi. Pelaku bullying biasanya mendapatkan perlakuan yang tidak pantas di lingkup keluarga hingga sekolah dan kemudian ia melampiaskannya kepada orang lain.

“Hal ini adalah sebuah kritik untuk dunia pendidikan. Harus ada kontrol dan pengawasan hingga tindakan atau sanksi yang tegas. Tidak boleh dibiarkan begitu saja dengan alasan masih kecil atau belum mengerti keadaan,” tambahnya.

Jika sebuah aksi bullying dibiarkan begitu saja, kemungkinan si pelaku akan berkembang menjadi pribadi yang buruk di masa depan. Sama halnya dengan si korban bullying, yang juga berpotensi memiliki kecenderungan untuk balas dendam.


“Dampak terbesarnya adalah kejiwaan anak, yang tidak lagi berkembang dengan baik. Baik si pelaku maupun korban bullying sama-sama memiliki gangguan yang berbeda,” ujarnya. Perlu diingat bahwa korban bullying ada yang sampai bunuh diri karena tidak sanggup menerima tekanan.

Tindakan Tegas
Berbicara soal peraturan yang sudah ada, mungkin sudah tertera jelas tentang perlindungan anak. Namun bagi Kak Seto, peraturan hanya menjadi peraturan yang tidak terealisasi jika tidak ada kontrol maupun pengawasan dari orang yang punya kewajiban.

Dihimbau agar guru selalu berkomunikasi sekaligus mengawasi murid-muridnya. Bisa diambil contoh, jika seorang anak menolak untuk pergi ke sekolah, jangan langsung dimarahi, tapi diajak bicara apa penyebabnya yang kemungkinan bukan malas, mungkin adanya tekanan dari teman-temannya yang suka menyiksa.

“Baik orangtua maupun guru harus peduli. Harus memberikan sanksi tegas jika ketahuan anaknya melakukan bullying kepada orang lain. Bukan dibiarkan saja,” kata Kak Seto.

Sama halnya dengan bullying yang terjadi di tingkat universitas, dalam hal ini rektor dinilainya harus bersih. “Berikan tindakan sesuai aksinya. Sanksi itu ada ringan sampai berat. Jika berat dan tidak bisa ditolerir harus berani untuk mengeluarkan dari institusi pendidikan. Jika sampai berdarah-darah harus segera dilaporkan ke polisi untuk dijatuhi hukuman kriminal,” tambahnya.

Pendekatan Menegur
Menegur pelaku bullying antara anak yang masih kecil hingga mahasiswa tentu pendekatannya berbeda. Pada anak-anak, jika aksinya masih ringan, harus diberikan pengertian yang kreatif, bukan menyuruh tanpa ada pengertian.

Guru sebaiknya memahami apa yang terjadi di lingkungan rumah hingga pertemanannya. Kemungkinan besar anak menirukan apa yang dilakukan orangtuanya. Begitu pula dengan tingkat universitas di mana para mahasiswa sudah mulai dewasa, dihimbau dikomunikasikan dengan tegas.

Kasus bullying menurut Kak Seto bukan sesuatu yang boleh dianggap remeh. Sosialisi dan pengawasan harus dilakukan secara terus-menerus, karena masa depan bangsa ini ada di tangan anak-anak. (frt/frt)