'13 Reasons Why' Buat Pencarian Soal Bunuh Diri Meningkat

Endro Priherdityo, CNN Indonesia | Selasa, 01/08/2017 00:55 WIB
'13 Reasons Why' Buat Pencarian Soal Bunuh Diri Meningkat Peneliti menemukan, pasca perilisan serial '13 Reasons Why', jumlah pencarian frasa bunuh diri di internet meningkat cukup signifikan. (Courtesy Netflix/Beth Dubber)
Jakarta, CNN Indonesia -- Sebuah laporan riset menemukan pencarian topik maupun metode bunuh diri di internet meningkat pada beberapa pekan usai penayangan serial Netflix, 13 Reasons Why. Serial itu sendiri mengisahkan tentang seorang remaja putri yang memutuskan mengakhiri hidupnya.

Meski meningkatkan keingintahuan tentang bunuh diri, seperti diberitakan AFP, laporan yang diterbitkan dalam the Journal of the American Medical Association (JAMA) Internal Medicine itu tidak memeriksa jumlah bunuh diri yang terjadi pasca rilisnya serial tersebut.

Secara keseluruhan, tim peneliti menemukan permintaan yang terkait dengan bunuh diri meningkat 19 persen setelah penayangan 13 Reasons Why.


“Ada sekitar antara 900 ribu hingga lebih dari 1,5 juta pencarian lebih banyak terkait bunuh diri selama 19 hari usai penayangan 13 Reasons Why,” kata salah satu peneliti studi tersebut, Mark Dredze, dari Johns Hopkins University.


Frasa yang menunjukkan pencarian metoda bunuh diri meningkat 26 persen, frasa ‘bunuh diri’ meningkat sebesar 18 persen, dan frasa yang mengindikasikan cara membunuh diri sendiri meningkat sembilan persen.

Di sisi lain, pencarian atas frasa seperti ‘bunuh diri online’ meningkat 12 persen, dan ‘pencegahan bunuh diri’ meningkat 23 persen.

“Meski ini membesarkan hati bahwa rilisnya serial tersebut juga diiringi kesadaran akan bunuh diri dan pencegahannya, seperti pencarian ‘mencegah bunuh diri’. Hasil kami juga mendukung kritik terburuk atas serial tersebut,” kata penulis utama penelitian tersebut, John Ayers dari San Diego State University Graduate School of Public Health.

“Acara tersebut mungkin juga telah mengilhami banyak orang untuk bertindak atas pemikiran bunuh diri mereka dengan mencari tahu informasi metoda tindakan tersebut,”


Serial tersebut telah menciptakan dua kubu. Para pendukung menyebut serial yang menggambarkan isi jurnal rekaman audio peninggalan gadis yang bunuh diri itu sebagai penggambaran jujur tentang perjuangan remaja era modern.

Namun banyak kritik mengatakan acara tersebut tidak memberikan bimbingan yang cukup atas upaya pencegahan bunuh diri bagi mereka yang berisiko, serta menggambarkan adegan bunuh diri dengan detil pada episode terakhir.

Riset tersebut dicari melalui analisis Google Trends di Amerika Serikat antara 31 Maret, tanggal serial tersebut dirilis, dan 18 April.


Tapi riset itu dihentikan karena kasus kematian pemain National Football League, Aaron Hernandez karena bunuh diri pada 19 April. Dikhawatirkan, kasus tersebut mempengaruhi tren yang tengah diamati.

Sebagai perbandingan, para peneliti menggunakan data dari Januari hingga Maret sebelum serial tersebut dirilis guna menentukan jumlah pencarian biasanya untuk frasa tersebut.

Penelitian sebelumnya menunjukkan ‘tren pencarian bunuh diri berkorelasi dengan aksi bunuh diri yang sesungguhnya’. Selain itu, ‘liputan media tentang kejadian bunuh diri juga selaras dengan jumlah bunuh diri yang terjadi’.


Tim peneliti mendesak sineas pembuat 13 Reasons Why menambahkan nomor darurat untuk pencegahan bunuh diri pada episode awal yang masih tersedia secara daring.

Salah satu rekomendasi yang diberikan juga oleh tim peneliti adalah sineas harus mengikuti petunjuk media dari Badan Kesehatan Dunia atau WHO terkait pencegahan bunuh diri, yaitu menghilangkan adegan bunuh diri.