Selain Dumolid, Ada Tiga Jenis Obat yang Kerap Disalahgunakan

Elise Dwi Ratnasari, CNN Indonesia | Jumat, 04/08/2017 19:05 WIB
Dokter spesialis kejiwaan, Arundhati N Aji menjelaskan ada beberapa jenis obat yang digunakan untuk terapi psikiatri tetapi sering disalahgunakan. Sejatinya digunakan untuk terapi pengobatan, namun obat ini kerap disalahgunakan. (Foto: Pixabay/PublicDomainPictures)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kasus penyalahgunaan dumolid oleh pasangan artis Tora Sudiro dan Mieke Amalia masih hangat dibicarakan masyarakat. Untuk fungsi, dumolid sebenarnya digunakan untuk mengatasi gangguan tidur pada pasien dan telah lama digunakan di dunia kedokteran.

Menurut BNN, dumolid termasuk dalam psikotropika golongan IV dan bisa didapat hanya melalui resep dokter. Beberapa obat untuk keperluan medis memang sering disalahgunakan.

Dokter spesialis kejiwaan, Arundhati N Aji menjelaskan ada beberapa jenis obat yang digunakan untuk terapi psikiatri tetapi sering disalahgunakan. Berikut jenis obat-obatan tersebut:


Golongan Benzodiazepin

Golongan ini, menurut Arundhati, merupakan golongan yang paling sering disalahgunakan. Benzodiazepin dikenal dengan nama generik seperti alprazolam, lorazepam, clonazepam, clobazam, diazepam dan termasuk nitrazepam.


Nitrazepam sendiri merupakan nama generik dari obat label dumolid yang dikaitkan dengan kasus Tora dan Mieke. 
Arundhati menjelaskan, golongan ini dipakai untuk gangguan cemas, gangguan panik dan gangguan tidur. "Oleh dokter saraf bisa juga dipakai untuk terapi kejang," katanya melalui pesan singkat, Jum'at (4/8).

Trihexyphenidil

Obat ini bisa disebut anti parkinson, karena fungsinya memang mengatasi gangguan gerakan yang tidak normal dan tidak terkendali akibat parkinson atau efek samping obat. Biasanya, obat yang menimbulkan efek samping pergerakan adalah obat untuk psikosis dan masalah kejiwaan atau emosional. Ia termasuk golongan antimuskarinik.

Arundhati menuturkan, obat ini sebenarnya tidak terlalu menimbulkan kecanduan, tetapi sering disalahgunakan oleh anak-anak sekolah.
"Saya ketemu beberapa pasiennya. (Mereka menyalahgunakan karena) efek pergaulan. Mereka dapat barang dari teman-temannya, coba-coba, ingin dianggap bagian dari kelompoknya," ucapnya.

Obat ini diduga berkaitan dengan mood seseorang. Ada yang bereaksi menimbulkan euforia, walau tak selalu terjadi dan sering tidak terkontrol. Ini pun harus pemakian dosis tinggi. Ada pula efek halusinasi, tapi jarang. 

Metylphenidate

Dalam golongan psikotropika, ia masuk dalam golongan II. Biasanya, lanjut Arundhati, obat ini digunakan untuk pasien dengan Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) atau gangguan pemusatan perhatian dan hiperaktivitas.

"Metylphenidate diresepkan oleh psikiater anak biasanya," katanya.

Obat jika dikonsumsi dalam dosis tinggi, bisa menimbiulkan efek eksitasi atau perangsangan, di mana tubuh terasa bertenaga. Lama-kelamaan bisa mengakibatkan delusi atau gangguan mental di mana orang tidak dapat membedakan kenyataan dan imajinasi, serta halusinasi yakni sensasi yang diproses otak dan mempengaruhi kinerja indera.

Selain itu, orang juga dapat mengalami manik, atau fase di mana ia merasa aktif, bertenaga dan tidak bisa diam. Fase ini seperti fase orang yang menderita bipolar.