Orangutan Masuk Sekolah Agar 'Move On' dari Trauma

Gloria Safira Taylor, CNN Indonesia | Sabtu, 02/09/2017 09:15 WIB
Orangutan Masuk Sekolah Agar 'Move On' dari Trauma Sama seperti manusia, tingkat ‘move on’ orangutan dari trauma berbeda-beda. Tentu saja butuh banyak waktu dan juga biaya untuk menghidupkan pusat konservasi. (CNN Indonesia/ Hesti Rika)
Ketapang, CNN Indonesia -- Kawanan orangutan hidup di Kalimantan, Sumatera dan Malaysia. Tahun lalu, total populasinya tinggal 230 ribu, dengan perhitungan Orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus) tersisa 104.700, dan Orangutan Sumatera (Pongo abelii) tersisa 7.500.

Di beberapa pusat rehabilitasi orangutan Tanah Air, banyak ditemukan orangutan yang masih bernyawa namun trauma akibat ulah manusia, sehingga harus direhabilitasi sebelum dikembalikan ke hutan.


Sama seperti manusia, tingkat ‘move on’ orangutan dari trauma berbeda-beda. Tentu saja butuh banyak waktu dan juga biaya.


Di Pusat Penyelamatan dan Konservasi Orangutan Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) yang berada di Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat, banyak orangutan yang sedang direhabilitasi.


Ada yang direhabilitasi karena terlalu lama dijadikan hewan peliharaan, diperlakukan seperti hama, sampai yang hampir terbunuh dalam perburuan untuk perdagangan.

Walau tak bisa berbahasa manusia, tapi trauma pada orangutan dapat terlihat dari gerak geriknya yang jadi penakut atau agresif, sehingga dikhawatirkan tak dapat bertahan hidup di hutan.

YIARI berdiri sejak tahun 2009 dan telah merehabilitasi sekitar 111 orangutan, dari mulai yang jantan, betina, hingga anak-anak.

Manajer Operasional YIARI, dr Adi Irawan mengatakan, ada tiga hal yang diperhatikan saat menerima orangutan yaitu rescue (penyelamatan), rehab (rehabilitasi) dan release (pelepasan).

[Gambas:Instagram]

Di tahap rescue, orangutan akan dikarantina selama dua bulan. Dalam tahap ini, orangutan akan dibantu beradaptasi agar traumanya hilang.

Setelah itu, di tahap rehab, kondisi kesehatan orangutan dianalisa, sehingga tak membawa penyakit hepatitis A atau B yang bisa mengancam kawanannya dan tim.

Di tahap terakhir, release, orangutan kembali dianalisa untuk dipertimbangkan dikembalikan ke hutan.

"Orangutan yang berpotensi kecil untuk dilepasliarkan akan kami masukkan ke dalam kandang, sedangkan orangutan berpotensi besar dilepasliarkan akan kami masukkan ke sekolah," kata Adi kepada CNNIndonesia.com.

Masih ingat lagu 'Orangutan' milik penyanyi cilik pada tahun 90-an? Ada yang fakta yang perlu 'diluruskan' dari lagu jenaka tersebut. Dalam lagu tersebut disebut orangutan tidak sekolah, tapi Adi berkata lain.

“Sekolah di sini memiliki tingkatan seperti sekolah manusia, tujuannya untuk mengasah insting hewannya setelah mengalami trauma,” lanjutnya.

Adi tidak berkelar, karena ada tingkatan PAUD sampai tingkatan yang lebih serius, yakni Sekolah Hutan.

[Gambas:Instagram]

“Dari sekolah, orangutan akan dinilai lima hal; apakah mereka bisa mencari makan, membuat sarang, memanjat pohon, berinteraksi dengan sesama, dan mempertahankan diri,” ujar Adi.

Setelah dilepaskan ke hutan, orangutan masih tetap dipantau selama dua tahun.

Orangutan di Kalimatan biasanya dilepaskan ke Hutan Lindung Gunung Tarak, Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya, atau Taman Nasional Gunung Palung.

Diwawancarai secara terpisah, Gubernur Kalimantan Barat Kornelis berani mengklaim kalau saat ini tidak ada lagi keresahan di kawanan orangutan karena pemerintahannya sudah menindak tegas pelaku penyebab trauma orangutan.

[Gambas:Instagram]

"Orang memelihara orangutan sudah tidak ada, sudah jarang. Walaupun dulu pernah ada. Tapi kalau sekarang kan yang memelihara akan ditangkap,” kata Kornelis kepada CNNIndonesia.com.

“Hutan di Kalimantan Barat juga masih luas dan dapat ditinggali oleh mereka. Meski ada yang ditanami pohon sawit, tidak semuanya habis untuk pohon sawit,” lanjutnya.

Jika janji Kornelis untuk menindak pelaku kekejaman terhadap orangutan ditepati, kawanan orangutan di Indonesia bisa bernapas lega.

Pasalnya, berdasarkan data penelitian oleh Population and Habitat Viability Assessment, kalau kelestarian orangutan tak dijaga, maka tak akan ada lagi orangutan dalam satu abad ke depan.

Wisata di hutan konservasi

Butuh persiapan ekstra sebelum berkunjung ke hutan konservasi orangutan. Karena jika kondisi tubuh lemah, bisa saja tertular penyakit mulai dari yang ringan sampai berat. Pengelola YIARI menyarankan agar pengunjung melalui tes kesehatan sebelum berkeliling.

Kawasan YIARI memang ditujukkan bagi penelitian. Untuk yang berkonsep wisata, bisa mengunjungi hutan konservasi orangutan yang dikelola oleh pabrik pengolahan kelapa sawit, PT Kayung Agro Lestari (KAL).

[Gambas:Instagram]

Kepala Konservasi PT KAL, Nardiyono mengatakan, pihaknya ingin menjadikan hutan konservasi ini sebagai objek wisata, agar turis semakin berempati dengan keberadaan orangutan.


"Sebulan sekali biasanya ada yang kunjungan sekolah atau universitas ke sini. Kami ingin berikan kesempatan juga supaya mereka dapat melihat orangutan," kata Nardiyono.

“Tapi ingat untuk tidak memegang atau memberikan makanan untuk orangutan. Hal itu bertujuan agar pengunjung tak tertular penyakit dan tak mengganggu insting hewan orangutan,” pungkasnya.

[Gambas:Youtube]