Berbeda Bangsa Tapi Satu 'Bahasa': Musik

advertorial, CNN Indonesia | Jumat, 08/09/2017 00:00 WIB
Berbeda Bangsa Tapi Satu 'Bahasa': Musik
Jakarta, CNN Indonesia -- Satu per satu komposisi yang diperdengarkan di aula besar Sekolah PENABUR Internasional Kelapa Gading memukau para penonton Special Concert PENABUR International Choir Festival (PICF) 2017, Kamis (7/9) malam.

Konser malam ini menampilkan paduan suara dari tiga negara: Indonesia, Malaysia, dan Filipina. Masing-masing menampilkan lagu-lagu tradisional yang disambut meriah oleh penonton yang memadati aula itu.

Itu membuat nuansa kebersamaan sangat terasa, meski berbeda bangsa dan budaya. Konser malam itu menunjukkan bahwa meski berbeda-beda, kita bisa punya satu ‘bahasa’, yaitu musik.


Konser spesial ini dibuka dengan penampilan paduan suara Smukiez Choir dari SMAK 1 PENABUR. Paduan suara ini memperdengarkan Everytime I Feel The Spirit oleh Bob Chilcott dan Ondel-Ondel, lagu tradisional Betawi.

Disusul penampilan bocah-bocah dari Kajang, Malaysia, yang tergabung dalam kelompok The Silhouettes. Mereka membawakan lagu Mak Inang, yang diaransemen oleh Mak Chi Hoe. Dilanjutkan Medley of Southeast Asian Music yang diaransemen oleh Yeo Chow Shern.

Berikutnya adalah remaja-remaja dari Manresa High School Glee Club dari Paranaque City, Filipina, yang menampilkan Orde-e yang diaransemen Maria Theresa Visconde-Roldan, serta Saligumay yang diaransemen oleh Mark Ryan Mallari.

PSM UNIMA dari Manado, pemenang PICF 2013, makin menghangatkan malam itu dengan menampilkan berturut-turut 5 lagu. Dibuka dengan lagu Fajar dan Senja II composed by Ken Steven, disusul Dung Nene Dung Tete lagu tradisional dari Manado.

Berikutnya adalah Rockin’ Jerusalem yang diaransemen Stacey V. Gibbs, Paris Barantai hasil aransemen Ken Steven, dan ditutup dengan Circle of Life OST Lion King yang diaransemen oleh Ana Abeleda.

Konser ditutup dengan kolaborasi seluruh paduan suara, menyanyikan lagu Amigos Para Siempre yang dikonduktori oleh Janis Liepins, juri asal Latvia. Disebutkan bahwa lagu itu dilatih hanya dalam waktu 30 menit dan seluruh paduan suara ditambah para juri, bisa menyanyikannya dengan indah.

Salah satu juri kompetisi itu, Ivan Yohan, mengatakan penyelenggaraan PICF 2017 yang dihelat di Jakarta, 5-9 September 2017, baik kompetisi maupun konser khusus macam malam itu, menjadi bukti bahwa Indonesia sukses membuka mata dunia bahwa negeri ini memiliki banyak sumber daya paduan suara yang berkualitas dan diakui oleh negara lain.

"Tidak hanya mengembangkan paduan suaranya sendiri, tapi juga network, akhirnya ada paduan suara Indonesia yang bertemu dengan paduan suara internasional di Indonesia," kata Ivan, Rabu (6/9). "Biasanya mereka kalau mau ketemu harus ke luar negeri dulu. Sekarang kita bisa undang mereka ke sini dan lihat budaya kita dengan lebih intens."

PICF 2017 adalah kompetisi paduan suara internasional yang mempertemukan 131 kelompok paduan suara dari 3 negara: Indonesia, Malaysia, dan Filipina. Selain berkompetisi, kekayaan khazanah paduan suara berkelas internasional itu juga bisa dinikmati dalam konser spesial yang diadakan pada Kamis (7/9) malam.

Kompetisi ini menunjukkan bahwa paduan suara di Indonesia, kata Ivan, telah memperlihatkan perkembangan yang menjanjikan. Dalam waktu singkat, keikutsertaan paduan suara Indonesia ke kancah internasional semakin tinggi dan prestasinya juga membanggakan.

"Setiap mereka pergi, pulangnya bawa prestasi, menunjukkan betapa kayanya sumber daya kita dalam hal bernyanyi dalam hal repertoar, karena tadinya kita belum punya banyak," tutur konduktor di PSM Parahiyangan Bandung itu.

Penyelenggaraan PICF 2017 juga menunjukkan bahwa penggemar paduan suara semakin beragam kalangannya. Kalau dulu kebanyakan mahasiswa, kini semakin tersebar ke generasi yang lebih muda. Alhasil, bibit-bibit penyanyi di paduan suara semakin banyak dan rata-rata memiliki teknik vokal yang tinggi.

Ivan, pendiri SWARA di Brussels itu berharap, kompetisi internasional macam PICF 2017 semakin banyak diselenggarakan dengan kualitas yang tinggi. Dia mengakui, penyelengaraan PICF 2017 berlangsung dengan sangat profesional.

Dalam kesempatan terpisah, Winnie Setiaatmadja, alumnus BPK PENABUR dan pernah menjadi pengurus BPK PENABUR Jakarta, mengaku kagum pada keberhasilan BPK PENABUR mengangkat level PICF 2017 menjadi kompetisi kelas internasional.

Dia mengatakan, alumni BPK PENABUR sudah tersebar ke berbagai belahan dunia dan banyak juga yang sukses di bidang musik dan paduan suara level internasional. Dia berharap, nantinya kompetisi PICF akan semakin mendunia.

Sebagai informasi, kompetisi ini diselenggarakan dua tahun sekali oleh BPK PENABUR Jakarta. Segera setelah penyelengaraan PICF tahun ini selesai, BPK PENABUR Jakarta akan membuka pendaftaran untuk PICF 2019.

Pantau terus website www.picf.or.id dan media sosial Twitter @BPKPENABURJkt, Facebook Humas Penabur Jakarta, atau email info@picf.or.id.