Kesalahpahaman Terbesar Soal Alat Kontrasepsi

Filani Olyvia, CNN Indonesia | Selasa, 26/09/2017 16:00 WIB
Kesalahpahaman Terbesar Soal Alat Kontrasepsi Sejumlah penelitian dunia mencatat bahwa 41 persen dari 208 juta merupakan kehamilan yang tak direncanakan dan berakhir dengan aborsi. (Thinkstock/Peerayot)
Jakarta, CNN Indonesia -- Sejumlah penelitian dunia mencatat bahwa 41 persen dari 208 juta merupakan kehamilan yang tak direncanakan dan berakhir dengan aborsi.

Di Indonesia sendiri, data Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) pada 2016 mengungkapkan ada empat juta kelahiran setiap tahunnya. Sebanyak 14 persen dari total kelahiran tersebut adalah kehamilan yang tidak direncanakan.

Kehamilan yang tak direncanakan ini merupakan salah satu akibat dari pergaulan bebas dan juga minimnya penggunaan alat kontrasepsi.



Penggunaan alat kontrasepsi diperkirakan dapat mencegah sedikitnya 188 juta kelahiran yang tidak direncanakan di seluruh dunia setiap tahunnya ini. Hal ini berarti bisa mengurangi 112 juta aborsi, 1,1 juta kematian bayi dan 150 ribu kematian ibu.

Deputy General Manager Consumer Healthcare DKT Indonesia, Perre Frederick mengungkapkan masalah besar yang muncul di Indonesia dan berakibat pada aborsi.

Dia mengungkapkan, hal ini bisa terjadi karena penggunaan alat kontrasepsi masih dititikberatkan bagi kaum wanita. Antara lain dengan penggunaan suntikan, pil, implan atau intrauterine device (IUD) atau spiral.

"Dilihat dari jenis kelamin, hanya sekitar 6,34 persen laki-laki dari keseluruhan peserta aktif KB (keluarga bencana) yang turut serta menggunakan alat kontrasepsi (Data BKKBN pada 2014)," ujar Perre Frederick, saat ditemui dalam media gathering Kondom Sutra di bilangan Senayan, Jakarta, Senin (25/9).


Padahal untuk menekan angka kelahiran yang tidak direncanakan, menurut Pierre, perlu kesadaran dan partisipasi masyarakat secara menyeluruh. Terutama kaum pria. Salah satunya dengan penggunaan kondom sebagai alat kontrasepsi.

Sejauh ini, menurut data BKKBN pada 2016, penggunaan kondom sebagai alat kontrasepsi di Indonesia masih berkisar 3,15 persen dari keseluruhan peserta aktif KB.

"Karena dalam hubungan seksual itu kan selalu ada pria dan wanita. Sudah seharusnya pria ikut bertanggung-jawab dalam mengatur kelahiran dalam keluarga," ucapnya.





(chs)