Vatikan, Kota Suci Penuh Romansa

Ervina Anggraini, CNN Indonesia | Senin, 02/04/2018 00:27 WIB
Vatikan, Kota Suci Penuh Romansa Kota Vatikan di Roma. Italia. (Pixabay/Lurunz)
Jakarta, CNN Indonesia -- Mengunjungi Roma, Italia tak lengkap rasanya jika tidak singgah ke Vatikan. Bukan hanya letaknya yang khusus, komplek negara yang berada dalam kota ini memiliki nuansa religi yang sangat kental.

Vatikan hanya berjarak 3,7 km dari tempat saya menginap di kawasan Pizza di Spagna. Tak sulit untuk mengenali area negara terkecil di dunia tersebut, tembok tinggi yang memisahkan area kota Roma dan Vatikan menjadi ciri khas utamanya.

Saat tiba di Vatikan, bus yang membawa saya dan rombongan masuk ke area basement-- tempat parkir khusus bus wisata. Dari sana, saya dan rombongan berjalan menaiki anak tangga untuk masuk ke area Vatikan.


Laura -- pemandu wisata kami mengingatkan untuk selalu berhati-hati terhadap barang berharga yang kami bawa, lantaran banyak pencopet berkeliaran di sana. Modusnya pun beragam, mulai dari bertanya seakan-akan ia juga turis hingga meminta difotokan.

Ketika memasuki Vatikan, pengunjung akan disuguhi dengan bangunan megah dengan lapangan luas di depannya. Laiknya masuk ke sebuah negara, semua pengunjung harus melalui pos pemeriksaan dan metal detector di negara seluas 0,44 kilometer persegi ini.

Meski tak harus membawa paspor, pengunjung tetap tidak diizinkan mengambil foto atau video saat memasuki area pemeriksaan.

Sebelum bisa menjejakkan kaki ke Saint Peter Square dan Saint Peter Basilica, pengunjung harus bersiap antre. Jika sedang hoki, tak perlu mengantre lama untuk memasuki area Saint Peter Square. Sebaliknya, di hari-hari tertentu antrean pengunjung akan mengular. Hari itu saya 'hanya' mengantre selama 30 menit untuk sampai di area pemeriksaan.

Usai melalui area pemeriksaan, saya dan pengunjung disuguhi area terbuka luas yang tak lain adalah Saint Peter Basilica atau disebut juga Piazza San Pietro persis di depan Saint Peter Basilica.

Di tengah-tengah piazza berdiri sebuah tugu/batu tinggi, The Obelisk yang dibawa dari Mesir puluhan ribu tahun lalu. Tugu ini diapit dua buah air mancur yang merupakan salah satu karya buatan Gian Lorenzo Bernini dan Carlo Moderno.

Vatikan, Kota Suci Penuh RomansaKawasan Saint Peter Basilica. (AFP PHOTO / VINCENZO PINTO)
Di depannya terdapat jajaran kursi dalam jumlah banyak yang kerap dipakai umat Katolik untuk mendengarkan khotbah Paus.

Selain di hari Minggu, Paus sebenarnya akan keluar menyapa pengunjung Vatikan di hari Rabu. Sayangnya, saya mengunjungi Vatikan sehari lebih awal dari jadwal sehingga tak ada kemungkinan melihat langsung pimpinan besar umat Katolik tersebut.

Dari titik yang sama, pengunjung juga bisa melihat balkon yang kerap digunakan Paus untuk menyapa umatnya. Balkon tersebut hanya terbuka ketika Paus pertama kali terpilih dan rutin setiap tahun di malam perayaan Natal.

Meskipun ada beberapa bangunan utama, Saint Peter Basilica dengan sebuah kubah besar dengan panjang 118 meter dan lebar 64 meter-- jadi satu-satunya tempat yang boleh dieksplorasi secara gratis.

[Gambas:Instagram]

Memang, dibandingkan bangunan lain, Saint Peter Basilica menjadi daya tarik utama dengan pilar dan bentuk bangunan yang kokoh. Namun, jika ingin berbayar ada bangunan lain seperti The Vatican Museum, Sistine Chapel, St. Peter's Dome, The Vatican Garden yang bisa dikunjungi.

Sebagai Tahta Suci umat Katolik di dunia, ada beragam koleksi karya seni dari nama-nama seperti Micheangleo, Raphael Da Vinci, Caravaggio, dan seniman besar dunia lainnya. Di samping menyimpan beragam artefak dan lukisan yang mengundang decak kagum.

Saat masuk, pengunjung akan merasakan Basilica merupakan bangunan luas dengan beberapa kapel di dalamnya. Lukisan dan pahatan memenuhi dinding dan langit-langit d Basilica. Di bagian tengah terdapat sebuah mimbar besar yang menjulang tinggi.

Vatikan, Kota Suci Penuh RomansaBagian dalam Basilica. (CNN Indonesia/Ervina Anggraini)
Di dalam Basilica juga terdapat beberapa makam Paus, bahkan ada beberapa yang dimakamkan tepat di bawah altar pada kapel. Ada banyak pengunjung yang berdoa dan menyampaikan harapannya di kapel. Selain itu juga terdapat puluhan patung orang-orang suci yang terbuat dari batu marmer.

Usai berdoa, pengunjung bisa membasuh wajah atau sedikit menyimpan air suci ke dalam botol kecil dari baki di dekat kapel. Pemandu tur saya mengatakan air suci bukan hanya terdapat di dalam kapel di Basilica, air suci di semua gereja di Roma sudah diberkati oleh Paus.

Salah satu yang mencuri perhatian saya adalah patung Saint Peter yang tengah duduk di sebuah kursi. Konon dipercaya bagi pengunjung yang menyentuh kaki patung tersebut maka bisa kembali mengunjungi Vatikan. Tak mau melewat kesempatan, saya ikut mengantri untuk menyentuh kaki patung Saint Peter agar bisa kembali ke sana.

Vatikan, Kota Suci Penuh RomansaPatung Saint Peter diguyur salju deras bulan lalu. (REUTERS/Max Rossi)
Diperlukan waktu sekitar 1,5 hingga 2 jam untuk melihat sudut-sudut di dalam Saint Peter Basilica. Sebelum keluar dari area Basilica, saya lagi-lagi disuguhi tiga buah pintu besar. Hanya satu dari tiga pintu yang boleh dilalui pengunjung, sementara dua lainnya tertutup dan akan dibuka hanya di momen tertentu seperti ketika ada Paus yang meninggal atau saat Paus terpilih diperkenalkan ke publik.

Keluar dari area Basilica, pengunjung akan melihat Swiss Guard yang merupakan tentara bayaran Swiss yang bertanggung jawab menjaga keamanan Paus. Selain ciri khas seragam warna-warni dari era Renaissance, sesuai namanya hanya warga negara Swiss yang diperbolehkan jadi tentara khusus.

Vatikan, Kota Suci Penuh RomansaPaus Fransiskus melintasi Saint Peter Basilica saat hendak melakukan prosesi keagamaan.  (REUTERS PHOTO/Tony Gentile)
Lelah berkeliling, bagi pengunjung yang ingin membeli buah tangan terdapat jajaran toko oleh-oleh di dinding dekat pintu keluar Vatikan. Ada hal menarik saat saya melangkahkan kaki ke dalam toko. Ketika mendengar saya dan beberapa teman bercakap-cakap dalam bahasa Indonesia, sontak penjaga toko menyebut "Beli lima, gratis satu" dalam bahasa Indonesia.

Mendengar hal itu, saya dan beberapa teman merasa cukup terkejut. Tapi, kemampuan berbahasa Indonesia para penjaga toko memang cukup sampai menawarkan promosi, tidak lebih dari itu.

Hanya saja, saya harus sedikit kecewa lantaran saat melangkahkan kaki keluar dinding pembatas Vatikan saya menemukan pernak-pernik dan barang-barang yang sama dijual dengan harga jauh lebih murah-- termasuk tawaran untuk beli lima gratis satu.

Kejutan lain kembali menghampiri ketika saya dan rombongan bertemu dengan suster berkebangsaan Indonesia asal Nusa Tenggara Timur yang sedang menempuh studi di Vatikan sejak tiga tahun terakhir.

Lelah, saya dan rombongan melangkahkan kaki ke restoran yang menjual gelato dan espresso. Hangatnya espresso dipadu manisnya gelato rasanya pas untuk mengembalikan energi sekaligus menghangatkan tubuh di tengah cuaca dingin kota Roma. (evn/ard)