Lancong Semalam

Tamasya Gereja di Jakarta

agr, CNN Indonesia | Minggu, 01/04/2018 12:07 WIB
Tamasya Gereja di Jakarta Pengurus Gereja Katedral di Jakarta. (CNN Indonesia/Hesti Rika)
Jakarta, CNN Indonesia -- Perayaan Paskah merupakan momen yang penting bagi umat Kristiani di dunia, termasuk di Indonesia. Umat Kristiani memasuki Pekan Suci dan bersiap menyambut perayaan Tiga Hari Suci Paskah (dimulai dari Kamis Putih, Jumat Agung, Sabtu Suci) sebelum Minggu Paskah.

Keberadaan agama Kristen di Jakarta tidak lepas dari datangnya pedagang dan penjajah ke Indonesia di masa lampau. Menurut buku 'Batavia: Masyarakat Kolonial Abad XVII' karya Hendrik E. Niemeijer, agama Kristen masuk ke Jakarta sejak zaman Portugis, kemudian berkembang di era penjajahan Belanda.

Dalam buku tersebut, Hendrik menuliskan orang di Batavia pada abad ke-17 lebih memilih agama Islam daripada Katolik Romawi. Singkatnya sentimen anti-Katolik di zaman kongsi dagang Belanda atau VOC sudah lama berkibar, meskipun itu di Kota Batavia yang notabene toleran.


Namun sentimen anti-Katolik itu ternyata tidak lepas dari unsur-unsur lain di luar agama, dalam hal ini perebutan kekuatan. Kemunculan VOC sebagai sebuah kekuatan dagang, juga merupakan hasil pemberontakan Belanda terhadap Spanyol dan Portugal yang pada tahun 1585 berada di bawah kekuatan Spanyol.

Datangnya agama Kristen di Batavia meninggalkan kenangan berupa gereja-gereja tua yang kini masih berdiri kokoh di Jakarta.

Sejarawan Jakarta asal Jerman, Adolf Heuken, mengabadikan kisah gereja-gereja tua di Jakarta dalam sebuah buku berjudul 'Gereja-gereja tua di Jakarta'. Dalam buku tersebut, Adolf Heuken berhasil mendata setidaknya 14 gereja Kristen Protestan dan sembilan gereja Katolik yang bersejarah di ibukota.

Salah satu yang tertulis dalam buku tersebut adalah Portugeesche Buitenkerk atau yang saat ini dikenal dengan nama Gereja Sion, di Jalan Pangeran Jayakarta. Salah satu jalan tertua di Jakarta.

Dalam rangka Paskah, saya melakukan wisata religi dengan mengunjungi beberapa gereja tua di Jakarta. Dari sekian banyak yang ada, saya hanya sanggup mengunjungi enam gereja selama seharian berkeliling. Kendalanya apalagi selain macet. Di kota ini yang fana adalah kebahagiaan, sedangkan macet dan polusi tetap abadi menemani sampai akhir hayat.

11.00 - Gereja Katedral

Butuh waktu lebih dari dua jam bagi saya untuk menginjakkan kaki di halaman Gereja Katedral. Demo ojek online pada Selasa (27/3) di pusat Jakarta menularkan kemacetan yang abstrak di seluruh sudutnya. Dalam perjalanan dari kawasan Condet, saya berkali-kali terhenti oleh rombongan ojek online yang sedang mengarah ke Istana Merdeka untuk meneriakkan tuntutan mereka, terlepas apakah tuntutan mereka difasilitasi atau tidak.

Bagi warga Jakarta, mencari letak Gereja Katedral tidaklah sulit. Jika sudah berada di kawasan Gambir atau Monas, arahkan kaki atau kendaraan menuju Masjid Istiqlal. Gereja berarsitektur Neo-Gotik ini berada persis berada di depan Masjid terbesar se-Asia Tenggara itu. Setiap Natal atau Lebaran, kedua tempat ibadah ini saling meminjamkan lahan parkirnya sebagai bentuk rasa saling menghargai dan menolong sesama.

Meraba Wajah Jakarta Lewat GerejaGereja Katedral tampak depan. (CNN Indonesia/Agung Rahmadsyah)

Setelah parkir motor dan melangkahkan kaki ke halaman, ternyata sudah ada tenda putih yang berdiri untuk menyambut misa Paskah. Ada tiga area yang bisa dikunjungi pengunjung berwisata sejarah, bangunan utama, Museum Katedral, dan Goa Maria Katedral.

Di dalam gereja bernama resmi De Kerk van Onze Lieve Vrouwe ten Hemelopneming (Santa Maria Pelindung Diangkat Ke Surga) itu, petugas gereja nampak sibuk menata ruangan dengan lilin dan bunga. Sedangkan di Goa Maria Katedral, nampak lima sampai enam umat sedang larut dalam doa.

Meraba Wajah Jakarta Lewat GerejaGoa Maria Katedral. (CNN Indonesia/Agung Rahmadsyah)

Sebenarnya saat itu saya ingin mengunjungi Museum Katedral, namun sayang museum sedang tutup. Padahal jika mengacu pada jam operasionalnya masih dalam batas aman. Mungkin karena sedang persiapan Paskah, pikir saya. Saat menghubungi nomor kontak untuk museum yang tertera di lembar pengumuman, balasan tak kunjung saya terima hingga akhirnya saya memutuskan untuk beralih ke lokasi selanjutnya.

12.30 - Gereja Santa Maria De Fatima

Rute tercepat untuk menuju Gereja Santa Maria De Fatima jika berangkat dari Gereja Katedral adalah melewati Jalan Veteran. Sialnya siang itu sepanjang Jalan Veteran padat merayap karena demo ojek online. Setelah lepas dari Jalan Veteran, Jalan Gajah Mada menjadi tantangan tersendiri untuk ditaklukkan.

Gereja Santa Maria De Fatima terletak di Jalan Kemenangan III, Jakarta Barat. Untuk mencapai tempat ini, ada baiknya untuk tidak sungkan bertanya kepada warga sekitar. Sebab jika tersesat di jalan-jalan berunsur kebaikan ini, niscaya nasib kita tidak akan berakhir dengan gembira.

Meraba Wajah Jakarta Lewat GerejaGereja Santa Maria De Fatima. (CNN Indonesia/Agung Rahmadsyah)

'Kata kunci' posisi gereja ini adalah di belakang Pasar Petak Sembilan dan dekat Wihara Toasebio.

Jika mengharapkan kehadiran arsitektur khas Belanda pada bangunan ini, maka Anda tidak akan pernah menemukannya. Karena bangunan yang sudah masuk dalam cagar budaya DKI Jakarta ini benar-benar bernuansa oriental. Mulai dari bentuk pintu, atap, ornamen, hingga pemilihan warna yang doidominasi merah.

Bahkan, jika cukup jeli maka kita akan melihat 'penampakan' sosok Yesus yang terpampang di ruangan sebelah timur berperawakan seperti pria Tionghoa.

13.00 - Kwetiaw Rebus

Entah kenapa setiap memasuki kawasan yang padat warga Tionghoa, otak saya selalu teracuni untuk mencari bakmi atau sejenisnya. Kali ini saya menyinggahi rumah makan Bakmi Akwet untuk memesan seporsi kwetiaw rebus dan segelas teh tawar hangat.

Kwetiaw ini disajikan dalam sebuah mangkok putih sederhana, gumpalan mie berwarna putih itu hanya ditemani potongan daun bawang dan sendok besi. Nampak sangat tidak menarik jika dibandingkan makanan para remaja zaman sekarang.

Seorang pria tua bertanggung jawab untuk mengendalikan rasa yang akan menjadi pertaruhan nama tokonya. Ia berjalan perlahan dan sangat berhati-hati saat menyuguhkan kwetiaw yang saya pesan. Ada dua orang lain yang sudah lebih dahulu makan di tempat ini. Usia mereka juga tidak jauh berbeda dengan si pemilik toko, nampaknya mereka sudah menjadi langganan di tempat ini.

Meraba Wajah Jakarta Lewat GerejaBakmi Akwet. (CNN Indonesia/Agung Rahmadsyah)

Sebelum menyantap, saya hanya menambahkan sesendok sambal cair dan seperempat sambal kecap asin untuk penyeimbang rasa pedas, sebelum menyantap kwetiaw rebus ini. Penampilan memang bukan segalanya, karena rasa kwetiaw ini benar-benar istimewa!

Meskipun cukup licin untuk ditangkap dengan sumpit, namun teksturnya yang kenyal membuat semua rintangan itu sirna. Belum lagi mangkuk kecil yang berisi kaldu, menambah keriangan dalam menyantap masakan ini paripurna.

Untuk masalah harga, semangkuk kwetiaw ayam rebus ini bisa ditebus dengan selembar uang Rp20 ribu. Menurut saya itu bukanlah angka yang besar untuk menikmati sekelumit 'perjalanan rasa' dari kedai berusia setengah abad lebih.

14.00 - Gereja Sion

Usai menyantap kwetiaw rebus, saya segera memacu sepeda motor saya menuju ke arah Mangga Dua. Tujuan saya selanjutnya adalah Gereja Sion di Jalan Pangeran Jayakarta. Saya sengaja memacu motor agak cepat karena awan hitam sudah mengepung kawasan Glodok hingga Mangga Dua.

Tak berselang lama setelah tiba di Gereja Sion, akhirnya awan tak sanggup membendung kawanan hujan yang ingin segera membasahi bumi. Karena enggan menjadi kuyup, saya pun meminta izin untuk berteduh di pos keamanan kawasan Gereja Sion.

Dalam pos tersebut, ada seorang petugas keamanan bernama Revly dan seorang petugas Balai Pelestari Cagar Budaya bernama Yahya G Poceratu. Dari kedua orang tersebut saya mendapatkan banyak cerita tentang gereja tertua di Indonesia ini.

Meraba Wajah Jakarta Lewat GerejaGereja Sion. (CNN Indonesia/Agung Rahmadsyah)

Bedasarkan penuturan Yahya, Gereja Sion sudah masuk ke dalam daftar cagar budaya nasional. Namun sayangnya tidak banyak orang yang tahu terlebih lagi peduli dengan potensi bangunan bersejarah yang pernah menjadi bagian dari lahan pemakaman tua ini.

"Memang ada beberapa gereja yang lebih tua. Seperti Gereja Tugu misalnya, namun itu sudah pernah terbakar dan strukturnya berubah. Beruntung Gereja Sion belum pernah mengalami perubahan struktur," ujar Yahya.

Yahya menuturkan saat ini pihak Gereja Sion sedang dalam langkah mengajukan proposal untuk merestorasi kawasan. Pasalnya ada beberapa bagian gereja yang sudah usang karena salah penanganan. Ia berharap banyak pihak yang tergerak untuk menyelamatkan cagar budaya ini.

Bangunan gereja ini memiliki arsitektur khas gereja-gereja di Portugis, dan terkenal dengan daya tahannya yang kokoh. Sebelum bernama Sion, gereja ini dijuluki Portugeesche Buitenkerk. Portugeesche Buitenkerk atau Gereja Portugis selesai dibangun pada 1695 untuk menggantikan pondok kayu sederhana yang sudah tidak memadai bagi umat 'Portugis Hitam'.

Bukti utama tentang usia Gereja Sion adalah lonceng bercat emas yang terletak di halaman.

17.00 - Gereja Koinonia

Dengan berat hati, saya terpaksa melewatkan Gereja Tugu mengingat ini adalah misi yang mustahil untuk menempuh perjalanan ke arah Cilincing dalam tempo 60 menit. 

Saya harus mengubah rute perjalanan menuju ke arah timur Jakarta, tepatnya ke Gereja Koinonia di kawasan Jatinegara. Komplek gereja yang berada di ujung Jalan Matraman ini merupakan gereja pertama di kawasan timur Batavia. Gereja ini dibangun saat Meester Cornelis Senen membuka Pos Pelayanan berbahasa Melayu tahun 1656-1661.

Meraba Wajah Jakarta Lewat GerejaGereja Koinonia. (CNN Indonesia/Agung Rahmadsyah)

Gereja ini awalnya dibangun sekitar tahun 1889, kemudian direnovasi pada tahun 1911-1916 dan diberi nama Bethelkerk. Arsitektur bangunannya bergaya vernacular. Kemudian gereja ini dipakai oleh De Protestantse Kerk in Westelijk Indonesie, dan akhirnya menjadi GPIB Bethel Jemaat Djatinegara dan pada 1 Januari 1961 menjadi GPIB Jemaat "Koinonia" Jakarta. Koinonia diambil dari bahasa Yunani yang berarti 'Persekutuan'.

17.30 - Gudang Musik

Persis di seberang Gereja Koinonia ada sebuah ruko yang berisikan artefak industri musik, baik itu dalam maupun luar negeri. Ruko dengan pintu kerek berwarna hijau ini memang hanya dijadikan gudang CD, kaset, atau piringan hitam. Namun bagi para "penyembah musik" seperti saya, tempat seperti ini adalah arena berburu harta karun.

Meraba Wajah Jakarta Lewat GerejaGudang Musik. (CNN Indonesia/Agung Rahmadsyah)

Sayangnya saya tidak bisa berlama-lama di tempat ini, karena ada beberapa lokasi lagi yang harus saya kunjungi. Sekadar berbagi saran jika berkunjung ke sini adalah ketahuilah terlebih dahulu apa yang sedang dicari, karena barang yang tersimpang sungguhan banyaknya.

18.30 - Gereja Santa Theresia

Gereja ini terletak di belakang salah satu jalur utama kota Jakarta yaitu Jalan Thamrin. Bahkan letaknya juga tidak jauh dari salah satu pusat perbelajaan tertua di Jakarta yaitu Sarinah, dan sentra kuliner di Jakarta Pusat yakni Jalan Sabang. Lokasi yang strategis ini ternyata tidak lepas dari pertimbangan para pendirinya

Meraba Wajah Jakarta Lewat GerejaGereja Santa Theresia. (CNN Indonesia/Agung Rahmadsyah)

Pada tahun 1930, Batavia diperluas dengan mengembangkan kawasan Menteng dan Gondangdia. Umat Katolik yang mendiami kedua kawasan tersebut harus berjalan kaki cukup jauh bila ingin mengikuti misa di Gereja Katedral. Hal tersebut membuat pengurus Gereja Katedral untuk mencari solusinya, mereka mencari lahan sampai akhirnya ditemukan sebidang tanah di Jl. Soendaweg (sekarang Jl. Gereja Theresia) untuk dibangun gereja.

Sekitar tahun 1933, Pengurus Gereja Gereja Katedral menugaskan arsitek J. Th. Van Oyen membangun gedung gereja St.Theresia yang dibangun tanpa tiang penyangga di tengah-tengah agar altar dapat terlihat dari segala arah. Pembangunan selesai pada tahun 1934, dan peresmiannya dilakukan oleh Pastor A. Th. Van Hoof SJ.

19.00 - Gereja Immanuel

Gereja Immanuel berdiri megah di seberang Stasiun Gambir dan sedertan dengan Galeri Nasional, Jakarta Pusat. Tak heran jika gereja bergaya klasisisme itu terlihat megah dengan pilar-pilar kokoh, karena dulunya kawasan ini merupakan bagian dari daerah elit kaum Belanda yang bernama Weltevreden.

Meraba Wajah Jakarta Lewat GerejaGereja Immanuel. (CNN Indonesia/Denny Aprianto)

Gereja Immanuel awalnya adalah gereja yang dibangun atas dasar kesepakatan antara umat Reformasi dan Umat Lutheran di Batavia. Pembangunannya dimulai tahun 1834 dengan mengikuti hasil rancangan J.H. Horst.

Pada 24 Agustus 1835, batu pertama diletakkan. Tepat empat tahun kemudian, 24 Agustus 1839, pembangunan berhasil diselesaikan. Bersamaan dengan itu gedung ini diresmikan menjadi gereja untuk menghormati Raja Willem I, Raja Belanda pada periode 1813-1840.

20.00 - Soto Betawi 'Happy Ending'

Mengakhiri wisata di hari demo ojek online ini, saya memutuskan untuk mencari makan malam di sekitar kawasan Cikini. Kawasan ini bisa dikategorikan sebagai salah satu yang menjadi saksi perkembangan ibu kota, beberapa bangunan bersejarah bisa ditemukan di tempat ini.

Sebut saja Gedung Joeang 45, Kantor Pos, Taman Ismail Marzuki (yang dulunya merupakan taman sekaligus kebun binatang milik pelukis legendaris Indonesia, Raden Saleh), rumah Raden Saleh yang kini telah menjadi Rumah Sakit PGI Cikini, Masjid Jami Al Ma'mur yang juga didirikan oleh Raden Saleh, hingga toko roti legendaris Tan Ek Tjoan.

Tamasya Gereja di JakartaSoto Jakarta Bawah Rel. (CNN Indonesia/Agung Rahmadsyah)

Namun saya akhirnya memutuskan untuk menepi dari hingar bingar kendaraan setelah seharian berhadapan dengan lalu lintas yang celaka. Jalan Cikini IV, tepatnya di Soto Jakarta Bawah Rel menjadi destinasi untuk menimbun kolesterol dalam tubuh.

Saya memesan dua porsi soto, semuanya berisi jeroan. Namun yang satu hanya murni berisi paru, sedangkan mangkuk satunya berisi babat dan usus. Soto Betawi atau Soto Jakarta, adalah salah satu menu yang tidak pernah mengecewakan saya.

Sayangnya rasa dari semangkuk soto dengan campuran susu yang dibanderol seharga Rp38 ribu per porsi (sudah termasuk nasi) ini agak hambar. Kuahnya nampak tidak pekat dan aroma rempahnya kurang kuat. Sambalnya pun tidak mencerminkan rasa yang seharusnya dimiliki.

Untungnya menu paru masih bisa 'terselamatkan' karena tidak terasa alot meskipun sudah digoreng terlebih dahulu. Setidaknya menu Soto Jakarta malam hari itu, masih bisa dikategorikan sebagai unsur penting dari happy ending.

(ard)