ULASAN PENGINAPAN

Lelap dalam Kedamaian di Magelang

Rahman Indra, CNN Indonesia | Minggu, 29/10/2017 16:26 WIB
Lelap dalam Kedamaian di Magelang Hotel yang berada di desa Majaksingi, Borobudur, Magelang ini sesuai namanya memberi rasa tenang dan damai. Ada kerinduan akan rumah dan jalan pulang. (Foto: CNN Indonesia/Rahman Indra)
Jakarta, CNN Indonesia -- Empat sajak dalam aksara Sanskrit itu menyita perhatian saya untuk beberapa lama. Menempel di sebelah kiri dan kanan dinding lobi, sajak-sajak itu menyambut saya begitu menginjakkan kaki di hotel yang berjarak satu jam berkendara dari bandara Adisucipto Yogyakarta ini.

Jika dialih ke dalam bahasa Indonesia, keempatnya berjudul Rumah, Keluarga, Tanah, dan Jiwa. Saya memberi perhatian pada dua bagian pertama.

Rumah/Di kediaman tanah mistis ini, kegembiraan akan menyentuh hati/Kamu akan menemukan damai dan merasa tenang.


Keluarga/Semua yang berada di bawah atapnya/akan mendapat ketenangan, menemukan cinta/ dan menikmati kenyamanan serta kemudahan.

Ditulis dalam aksara Sanskrit, dan bangunan yang menyerupai tekstur Candi Borobudur, hotel Amanjiwo membuat saya berada di dimensi yang berbeda. Seolah kembali ke masa silam, dan penuh ketenangan. Jauh dari rasa riuh dan bising Jakarta.

"Bangunan ini memang terinspirasi dari bentuk Candi Borobudur ketika dibangun, bahkan jika ditarik garis lurus dari pintu masuk ini hingga ke bagian dalam, maka akan mengarah tepat ke Borobudur," jelas Michel Bachmann, Manajer Resor AMAN, yang menyambut saya saat mengunjungi hotel itu pada akhir September lalu.


Kami lalu melanjutkan obrolan di ruang dalam yang dikelilingi tiang-tiang besar dan kokoh.

"Tiang-tiang ini adalah salah satu ciri khas resort Aman, tidak hanya di Indonesia tapi juga di luar negeri," ujarnya seolah menjawab pertanyaan yang melintas di pikiran saya.

Hari sudah menjelang sore sebelum kemudian ia melepas saya untuk beristirahat. Saya mendapat kamar 20, angka 'keramat' yang persis sama dengan peringatan ke-20 tahun Amanjiwo berdiri.

"Ya, kami bulan ini memeringati hari jadi yang ke-20 tahun, dua dekade menemani para tamu, baik dalam dan asing yang ingin menikmati perjalanan di Magelang, dan mengunjungi Candi Borobudur," ujar Michel menambahkan.

Amanjiwo adalah satu dari tujuh resort Aman yang ada di Indonesia. Lainnya ada di Bali, seperti Amanusa, Amandari, Amankila, Amanwana, Amanikan, dan Amandira. Resort Aman tersebar di Eropa, Afrika, AS, dan negara Asia lainnya. 

Amanjiwo, Menemukan Jalan Pulang di MagelangSalah satu kamar di Amanjiwo, Magelang. (Foto: CNN Indonesia/Rahman Indra)

Jiwa yang tenang

Setiap tamu didampingi satu orang petugas yang akan mengenalkan seluk beluk hotel. Saya bertemu dengan perempuan berambut pendek yang tampak berusia 30-an tahun dan murah senyum.

Mbak Uut, demikian ia biasa disapa, menemani saya mengenal setiap sudut kamar yang akan saya tempati. Ruangan cukup luas dengan dilengkapi tempat tidur di bagian tengah, meja dan kursi kerja, kamar mandi, dan bathtub di bagian belakang, serta balkon luar buat duduk santai. Kamar ini menjadi satu dari enam tipe kamar yang ditawarkan Amanjiwo.

Dari beberapa jenis kamar itu, di antaranya ada Garden Suite, Borobudur Suite, Garden Pool Suite, Borobudur Pool Suite, dan Dalem Jiwo Suite yang dihargai dari mulai US$700 hingga US$2.600 per malamnya.

Kami sempat berbincang sebentar tentang hal-hal yang bisa saya lakukan dan yang tidak. Menutupi pintu berlapis saat menjelang tidur dan lainnya.

Mbak Uut sangat ramah dan terbuka. Kelakarnya membuat penat yang tadi meraja sejak dari penerbangan dari Jakarta, sejam menuju hotel dan berbagai kegaduhannya seketika lenyap.

Namun, saya tak ingin segera tidur begitu saja. Kata mbak Uut, ada banyak hal yang bisa dilakukan di Amanjiwo. Anggaplah sebagai rumah sendiri, yang di setiap sudutnya masih ada ruang buat dijelajahi.

Ia lalu menyerahkan pada saya buku panduan tentang fasilitas yang ada di sekitar hotel, dari mulai tempat spa, pusat kebugaran, kolam renang, perpustakaan, galeri seni, dan ruang tengah yang diisi aktivitas bersama penduduk setempat seperti minum jamu, musik gamelan, atau kerajiinan tangan.

Di luar itu, ada dua tempat makan, satu di bagian atas dekat lobi utama, dan satu lagi dekat kolam renang di bagian bawah. Saya mengangguk mengerti sebelum ia berlalu meninggalkan saya kembali dalam suasan hening hotel.

Saya berdiam sejenak untuk menikmati tenang yang dihadirkannya.

Amanjiwo, Menemukan Jalan Pulang di MagelangRuang pustaka, Amanjiwo, Magelang. (Foto: CNN Indonesia/Rahman Indra)
Ruang tengah

Menjelang matahari terbenam saya melangkah ke ruang tengah. Saya penasaran dengan apa yang disampaikan Mbak Uut sebelumnya. Ternyata benar, di situ sudah ada para pemain musik tradisional yang memainkan gamelan.

Di hadapannya, ada Bu Ngatirah, yang sedang sibuk meracik jamu. Saya melihatnya menumbuk rempah, lalu memasaknya di tungku kecil di samping kirinya. Lalu ia menuangkan jamu yang sudah jadi.

"Ini jamu jahe, baik buat tubuh," ujarnya sembari menyerahkan cangkir.

Saya meneguk dan merasakan ada enak yang tak terkira. Jamu ini berbeda dari biasanya. Dari Michel saya tahu, Bu Ngatirah sudah lama membuat jamu untuk hotel. Bahkan mungkin sudah dua dekade sejak hotel ini berdiri. Ia merupakan salah satu penduduk setempat yang ia ajak ke ruang tengah.

Selain Bu Ngatirah, ada juga pengrajin boneka wayang. Kata Michel, ruang tengah diisi aneka kegiatan dengan mengundang pengrajin, seniman, dan musisi di sekitar hotel.

Di hari lain, kata dia, bisa jadi ada pengrajin gerabah yang memberi kesempatan pada tamu untuk mencoba membuat gerabah sendiri. Aneka kegiatan ruang tengah membuat betah. Namun, jika ingin merasakan yang nyata, maka bisa melakukan perjalanan menyusuri desa di sekitarnya.

Amanjiwo, Menemukan Jalan Pulang di MagelangPemandangan di kolam renang Amanjiwo. (CNN Indonesia/Rahman Indra)

Makanan tradisional


Berada di tengah pedesaan di Desa Majaksini, Brobudur, Amanjiwo lumayan jauh berjarak dari keramaian. Sangat pas bagi tamu yang ingin bersantai sejenak dari kesibukan kota.

"Untuk makan malam, ada beberapa menu pilhan yang kami ambil dari inspirasi khas Magelang," ujar Michel. Ia kembali menemani saya dan tim untuk duduk bersama menikmati sajian makanan khasnya.

Seperti disampaikan oleh Michel sebelumnya, Amanjiwo mengusung konsep sebagai rumah bagi setiap tamunya. Maka, di dalamnya juga menyuguhkan aneka masakan rumah khas Jawa dan digabung dengan pilihan makanan internasioal bagi yang ingin memadukannya.

Aneka jenis makanan itu merentang seperti tiga makanan khas Magelang, yakni nasi goreng mie, bebek lombok ijo, dan ikan matah. Di luar itu, ada urap mentah bernama Terancam yang juga tak kalah mengundang selera.

Selain bisa memilih makanan sendiri, penyajian makanan juga ada yang ala nasi campur. Semuanya mendapat porsi kecil untuk nasi, sayuran, lauk dan lainnya. Sama seperti saat makan bersama keluarga, semua saling berbagi.

Suasana khas Jawa mengental ketika para pemain gamelan masih memainkan denting musiknya sembari kami menikmati makan. Saya kembali terlempar ke dimensi lain. Sunyi, bersama orang asing yang menjadi keluarga baru, dan atmosfer khas Jawa yang tidak pernah saya rasakan sebelumnya.

Dikelilingi desa wisata

Tak hanya dekat dengan Candi Borobudur, keberadaan hotel yang berada tak jauh dari pedesaan memberi kesempatan untuk mengenal Magelang lebih dekat. Lewat orang-orangnya, dan cara mereka menjalani keseharian. 

Saya sempat menyusuri desa-desa yang kini disebut desa wisata di sekitar hotel, seperti desa Tuksongo, Tanjungsari dan Karanganyar. Semua memberi pengalaman baru karena di setiapnya punya warna yang berbeda. 

Di luar itu, ada satu lagi tempat yang direkomendasikan untuk dikunjungi kala menginap di hotel, Selogriyo. Selain ada candi yang tersembunyi, walau tak berukuran terlalu besar, pemandangan di sepanjang perjalanan cukup mengesankan.

Sawah hijau berundak seketika mengingatkan pemandangan khas ala Ubud di Bali. Secara spontan saya menyebutkan bahwa di tengah desa di Jawa Tengah ini memberi ketenangan yang sama saat berada di Ubud. 

Amanjiwo, Menemukan Jalan Pulang di MagelangPersawahan di kawasan Selogriyo, Magelang. (CNN Indonesia/Rahman Indra)

Setelah menghabiskan dua malam di Amanjiwo, saya lalu memahami apa maksud sajak yang terdapat di lobi sewaktu pertama kali kedatangan.

Makna 'Menemukan ketenangan dan damai hati,' itu ternyata melekat pada apa yang ada di sekitar hotel. Pertemuan dengan Michel, Mbak Uut, bu Ngatirah, para pengrajin di desa wisata dan penduduk yang menyapa ramah dan terbuka adalah pengalaman yang memberi kesan berbeda.

Sejenak saya lupa akan penat dan beban yang sempat bertengger di kepala. 

Perjalanan ke Amanjiwo memberi saya ruang untuk berpikir dan rindu akan rumah. Saya tak ubahnya menemukan jalan pulang walau sesaat di Magelang.

(rah/rah)