Lancong Semalam

Menikmati Nusa Dua Selayaknya Turis

Priska Sari Pratiwi , CNN Indonesia | Minggu, 22/10/2017 11:20 WIB
Menikmati Nusa Dua Selayaknya Turis Turis yang sedang asyik berfoto di Nusa Dua, Bali. (REUTERS/Nyimas Laula)
Nusa Dua, CNN Indonesia -- Pertengahan tahun 2015.

Kawasan Nusa Dua Bali tak ubahnya tempat kerja bagi saya. Demi memenuhi undangan salah satu kementerian, saya harus mengikuti berbagai pertemuan dan diskusi formal yang jujur saja, cukup membosankan. 

Niat hati ingin meluangkan waktu untuk berwisata, malam hari berakhir dengan lelah luar biasa. Jangankan untuk berbelanja, sekadar menikmati pantai saja tak bisa.

Saya memohon dalam hati, jika ada kesempatan lagi berkunjung ke Nusa Dua jangan sampai untuk urusan kerja. Sampai akhirnya saya lupa karena benar-benar disibukkan dengan urusan kerja di Jakarta.

Namun nampaknya Tuhan mendengarkan doa saya.

Dua tahun kemudian, kunjungan ke Nusa Dua menjadi kejutan yang cukup menyenangkan bagi saya. Meski masih berhubungan dengan pekerjaan—untuk meliput Nusa Dua Fiesta 2017, setidaknya saya bisa mencuri waktu santai lebih banyak untuk menikmati Nusa Dua.

Terbang dari Jakarta selama kurang lebih 1 jam 45 menit, saya tiba di Bandara Internasional Ngurah Rai, Denpasar, Bali, pada Jumat siang menjelang akhir pekan pada pertengahan Oktober lalu. 

Kondisi Bandara Ngurah Rai tak terlalu ramai saat itu. Kabarnya jumlah wisatawan ke pulau dewata sedikit berkurang setelah status Gunung Agung yang baru beberapa minggu naik menjadi Awas.

Dari bandara, saya dan rombongan dijemput seorang sopir dari tempat sewa mobil bernama Bli Awan. Ia yang akan menemani rombongan berkeliling Nusa Dua selama empat hari ke depan.

Menikmati Nusa Dua Selayaknya TurisPeningkatan status Gunung Agung dari Siaga menjadi Awas sejak Jumat (22/9) belum memengaruhi lalu lintas penerbangan di Bandara Internasional Ngurah Rai, Bali. (ANTARA FOTO/Fikri Yusuf)

Selama di perjalanan, saya lebih banyak mengingat-ingat. Nusa Dua mungkin sudah banyak berubah. Jalannya cukup lengang dengan banyak pertokoan di sisi kiri dan kanan. Satu hal yang cukup mencolok, jarang ada pemandangan ojek online yang wara-wiri seperti di ibu kota.

Bli Awan bilang, turis di Bali lebih memilih menumpang taksi atau menyewa mobil. Ah, benar juga, saya pun demikian. Mobil terus berjalan menuju hotel tempat saya menginap.

Hari Jumat saya habiskan untuk meliput Nusa Dua Fiesta 2017, sehingga lancong semalam sata putuskan untuk dilakukan pada hari Sabtu.

09.00 – Keliling dengan Sepeda di Nusa Dua

Hotel Mercure di Jalan Nusa Dua Selatan menjadi tempat saya dan rombongan menginap. Lokasinya cukup strategis karena hanya berjarak lima menit dari kawasan wisata Nusa Dua yang dikelola Indonesia Tourism Development Corporation (ITDC). Perusahaan pelat merah itu sejak lama memang dipercaya mengelola kawasan wisata Nusa Dua. 

[Gambas:Instagram]

Untuk berkeliling di sekitar kawasan wisata, pihak hotel menyediakan sepeda dan fasilitas shuttle car yang menyerupai mobil golf berkapasitas enam sampai delapan orang. 

Lantaran untuk shuttle car harus menunggu tiap satu jam, saya memilih mengendarai sepeda yang bisa langsung disewa. Harga sewa sepeda cukup murah, yakni Rp25 ribu untuk sewa enam jam dan Rp50 ribu untuk sewa selama 12 jam. Meski tak sepenuhnya digunakan, saya memilih menyewa sepeda untuk enam jam.

Menikmati Nusa Dua Selayaknya TurisSepeda bisa jadi pilihan untuk berkeliling kawasan wisata Nusa Dua. (CNN Indonesia/Priska Sari Pratiwi)

Usai menyantap sarapan, dengan semangat saya mengayuh sepeda berkeliling kawasan wisata Nusa Dua. Kawasan Nusa Dua dikelilingi taman dan pepohonan yang masih sangat asri. Beberapa bangunannya pun menyerupai pura yang terlihat sangat khas Bali. Sepinya kondisi jalan dan udara yang masih segar membuat saya sejenak lupa dengan rutinitas di Jakarta. 

Di dalam kawasan ITDC terdapat sejumlah hotel, restoran, spa, pantai, tempat belanja hingga museum. Agar tak tersasar, ada sejumlah petunjuk jalan di beberapa titik. 

Tentu tak seluruh kawasan saya kelilingi dengan bersepeda. Rasanya tak cukup waktu sehari untuk berkeliling di kawasan yang luasnya mencapai hektaran itu. Walau kadang terengah ketika melintas di tanjakan, perjalanan pagi itu tetap terasa menyenangkan.

12.00 - Makan Siang di Sikut Satak

Sikut Satak merupakan bagian dari pusat perbelanjaan Bali Collection yang masih berada di kawasan ITDC Nusa Dua. Beragam restoran di dalamnya menyediakan berbagai menu mulai dari makanan Indonesia, Eropa, hingga Amerika. Pilihan saya jatuh pada Kodang Restaurant yang memiliki menu khas Indonesia.

Siang itu restorannya belum terlalu ramai karena baru saja buka. Salah satu pegawai memberi tahu saya, menu andalan di Kodang adalah Crispy Pork Belly.

Berbeda dengan tempat lain, Crispy Pork Belly di Kodang disajikan spesial dengan Sambal Kecombrang. Makanan ini dibanderol dengan harga Rp150 ribu.

[Gambas:Instagram]

Sayangnya saya tak makan daging babi. Menu Ayam Pongpongan atau Smoked Chicken akhirnya menjadi pilihan.

Ayam Pongpongan disajikan dengan bumbu rica-rica dan sambal matah yang dipatok dengan harga Rp99 ribu per porsi.

Rasanya pedas, gurih, dan segar karena dikucuri jeruk nipis. Bumbu ayamnya terasa begitu meresap.

Sementara untuk minumnya saya memesan satu gelas jus buah dan satu Es Gelato produksi rumahan rasa stroberi sebagai pencuci mulut.

14.00 - Belanja di Padi Art Market

Kenyang bersantap siang, kini saatnya berburu tempat belanja.

Mata saya tertumbuk pada satu gerai berlogo daun hijau cerah dengan latar kuning di belakangnya. Ya, Padi Art Market, salah satu pusat belanja yang masih berada di kawasan Bali Collection.

Di sini ada banyak kerajinan Bali, baju, tas, sandal, peralatan rumah tangga, aksesoris, hingga sabun mandi dan lulur yang cocok sebagai oleh-oleh. Saya membeli beberapa aksesoris dan sabun mandi beraroma rempah.

Menikmati Nusa Dua Selayaknya TurisKawasan Nusa Dua juga menyediakan tempat belanja oleh-oleh khas Bali. (CNN Indonesia/Priska Sari Pratiwi)

Selain di Padi Art Market, saya juga sempat berkunjung ke beberapa gerai serupa di Bali Collection.

Ternyata antara satu gerai dengan yang lainnya memiliki jenis barang yang hampir sama. Harganya pun tak berbeda jauh, berkisar antara Rp50 ribu hingga Rp500 ribu.

Satu hal yang harus diingat, di sini Anda tak bisa menawar harga.

16.00 - Bemo Corner Massage & Spa

Berkeliling kawasan Nusa Dua sejak pagi ternyata cukup melelahkan. Saya berinisiatif mencari tempat untuk spa dan pijat. Beruntung, di kawasan Bali Collection ada puluhan tempat spa yang bisa dijajal.

Dari sekian banyak tempat, saya tertarik menyambangi Bemo Corner Massage & Spa karena namanya yang unik. Saya cari-cari bemonya, ternyata tak ada. Rupa bemo hanya berbentuk logo yang terpasang di dekat pintu masuk menyatu dengan logo cangkir berisi kopi yang masih mengeluarkan asap.

Bemo Corner rupanya bukan hanya menyediakan tempat untuk spa dan pijat, tapi juga kedai kopi dan restoran.

Menikmati Nusa Dua Selayaknya TurisSelain makan, pijat juga menjadi kegiatan penting saat berada di Bali. (CNN Indonesia/Priska Sari Pratiwi)

Untuk spa dan pijat terdapat sejumlah perawatan yang bisa dipilih. Mulai dari massage therapy, body scrub, facial, manicure pedicure, hingga paket perawatan lengkap seluruh tubuh. Harganya dipatok mulai Rp100 ribu hingga Rp950 ribu.

Dari cerita salah satu terapis, pengunjung biasanya ramai sejak sore hingga malam hari. Tak hanya turis lokal, banyak pula turis mancanegara yang menjadi langganan di sini.

17.00 - Menikmati Sunset di Pulau Peninsula

Pulau Peninsula adalah pulau kecil yang berada di dalam kawasan ITDC Nusa Dua. Pulau ini memiliki lahan hijau yang sangat luas dan kerap digunakan untuk menggelar perhelatan acara besar tahunan seperti Nusa Dua Fiesta 2017.

Lokasinya yang dikelilingi pantai pasir putih semakin menambah indah panorama. Rasanya saya tak salah pilih menghabiskan sisa hari dengan duduk menunggu matahari terbenam di pulau ini.

Pengunjung biasanya memilih berjalan kaki atau naik sepeda dari pintu masuk Pulau Peninsula. Tentu saja tak dipungut biaya alias gratis.

[Gambas:Instagram]

Ada juga beberapa pengunjung yang memanfaatkan waktu dengan olah raga atau sekadar berjalan kaki di jalur jogging track yang tersedia.

Buat saya bisa duduk santai sambil mendengarkan musik sudah lebih dari cukup. Hawa segar dari laut dan pepohonan melengkapi suasana sore itu.

19.00 - Menghabiskan Malam di Nusa Dua

Suasana malam hari di Nusa Dua tak akan seramai di Seminyak atau Kuta. Waktu malam hari biasanya digunakan turis untuk makan malam atau sekadar bersantai bersama keluarga.

Kali ini saya memilih tempat makan di Restoran Pica Pica Churrasqueria di kawasan ITDC. Tempat makan bertema mediterania ini memiliki menu all you can eat Churrasqueria Rodicio yang menjadi menu andalannya.

Churrasqueria adalah istilah untuk menyebutkan restoran yang menyediakan daging panggang. Sementara Rodicio adalah menyajikan beragam jenis daging mulai dari sapi, babi, ayam, domba, dan beberapa jenis daging lain secara berurutan di atas meja.

[Gambas:Instagram]

Harga satu porsi Churrasqueria Rodicio sebesar Rp400 ribu yang bisa dinikmati oleh dua hingga empat orang.

Menu lain yang juga menjadi favorit di Pica Pica adalah Churrasqueria Brazilian Grill BBQ.

Untuk minumannya tersedia air mineral hingga beragam jenis wine, vodka, tequila, dan cocktail. Harganya mulai dari Rp35 ribu hingga Rp1 juta.

Restoran Pica Pica buka dari pukul 11.00 hingga 23.00 WITA. Sebagian besar restoran dan bar di Bali memang hanya diizinkan beroperasi sampai pukul 23.00 WITA.

[Gambas:Instagram]

Semakin malam restoran dan bar akan semakin bertambah ramai karena ada live music yang mengisi acara.

Riuh rendah suara pengunjung restoran bercampur dengan bau daging panggang yang telah matang.

Malam masih panjang dan nampaknya saya akan memilih menghabiskannya di sini saja. Tentunya sambil menjadi turis, tanpa obrolan tentang pekerjaan.