Dokter: Wabah Difteri Karena Keengganan Imunisasi

Rahman Indra , CNN Indonesia | Jumat, 08/12/2017 08:49 WIB
Dokter: Wabah Difteri Karena Keengganan Imunisasi Dokter Soedjatmiko, Sekretaris Satgas Imunisasi IDAI menilai wabah difteri terjadi karena keengganan orangtua memberikan imunisasi, khususnya imunisasi difteri. (Ilustrasi/Imunisasi/Foto: Dok. HelloSehat)
Jakarta, CNN Indonesia -- Merebaknya wabah difteri, penyakit menular akibat kuman Corynebacterium Diptheriae di berbagai provinsi di Indonesia ditengarai karena keengganan orangtua melakukan imunisasi. 

Ungkapan itu disampaikan Dokter Soedjatmiko, Sekretaris Satgas Imunisasi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) saat dihubungi di Jakarta, pada Kamis (7/12). Menurutnya, mereka yang selama ini anti-vaksin mestinya turut bertanggung jawab atas apa yang terjadi terkait wabah difteri saat ini.

"Itu karena mereka ikut-ikutan, karena tidak mengerti ketika ada orang yang membodohi masyarakat, padahal imunisasi berlangsung di berbagai negara di seluruh dunia," ujarnya menegaskan.


Lebih jauh Soedjatmiko menambahkan, semua negara mengakui bahwa imunisasi itu penting, aman dan bermanfaat. Yang mengatakan itu penting adalah para ahli yang memang bidangnya sehari-hari mengawasi vaksin. Di tiap negara, kata dia, pasti ada ahlinya. Tak hanya itu, ada ribuan bidan dan dokter yang terlibat imunisasi, dan sejauh ini tak ada masalah.

"Nah, yang mengatakan vaksin tak bermanfaat dan berbahaya itu hanya satu orang, tapi dia merasa ahli dan dipercaya pula. Padahal dia mengatakan itu, sementara ia tidak pernah melakukan imunisasi," ujarnya.

Data yang disodorkan orang itu, kata Soedjatmiko, adalah data yang sangat kuno. Katanya, ia pernah membedah beberapa buku dan tabloid, data yang digunakan adalah dari 1950, 1960, dan ada yang 1890 yang vaksinnya jaman sekarang sudah tidak ada.

"Vaksin yang mereka sebut berbahaya itu jaman purba, teknologi sederhana. Sementara, sekarang sudah beda tekologinya. Buktinya seluruh negara di dunia melakukan imunisasi, artinya semua negara mengaku imunisasi penting, dan aman," tuturnya.


Soedjatmiko lalu menilai mereka yang selama ini menolak imunisasi dan anti-vaksin patut dimintai tanggungjawab atas apa yang kini terjadi terkait wabah difteri.

"Patut digarisbawahi, publik bisa minta pertanggungjawaban pada mereka yang bilang imunisasi tak penting, dan berbahaya, supaya berbalik memojokkan mereka jangan sampai ikut-ikutan tak kasih imunisasi," tambah dia.

Umumnya, kata Soedjatmiko, ketika anak berusia di atas 1 tahun, orangtua mulai lupa untuk anaknya diimunisasi, dan itu jadi persoalan. Bahkan ada juga yang tak mau sehingga banyak anak yang kemudian berisiko kena sakit dan meninggal.


Dihubungi terpisah, Direktur Surveilans dan Karantina Kementerian Kesehatan, Jane Soepardi mengatakan hal serupa. Menurutnya, salah satu penyebab merebaknya wabah difteri karena menurunnya minat imunisasi dalam dua-tiga tahun terakhir.

"Dulu kelihatan sekali (ada yang imunisasi), sekarang jumlah yang tidak diimunisasi lebih besar. Kalau dulu paling yang diimunisasi tidak lengkap, kalau sekarang ternyata banyak yang tidak diimunisasi sama sekali," ujarnya saat dihubungi Kamis (7/12).

Lebih jauh ia memperkirakan menurunnya minat imunisasi ini sejak adanya media sosial.

"Ada satu orang yang anti vaksin, dari media sosial, lalu pengikutnya jadi banyak, dan orang mudah sekali percaya, padahal sebelumnya tidak begitu," ujarnya. (rah/rah)