Serat Pisang untuk Busana Ramah Lingkungan

Rahman Indra, CNN Indonesia | Selasa, 09/01/2018 14:56 WIB
Serat Pisang untuk Busana Ramah Lingkungan Sejumlah desainer dunia kini berlomba membuat busana ramah lingkungan, dari mulai serat pisang, lidah buaya hingga nanas. (Ilustrasi/FashionWeek/Foto: CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Jakarta, CNN Indonesia -- Penerapan eco-fashion dan sustainable fashion bukan lagi sekadar isapan jempol belaka. Sejumlah desainer dunia sudah mulai melakukannya dalam beberapa waktu terakhir.

Di antaranya ada yang menggunakan kain dan pewarna yang terbuat dari tanaman serta buah-buahan seperti pisang, nanas, lidah buaya, dan bambu. Selain itu, ada juga yang bekerjasama dengan melibatkan pengrajin tenun lokal daerah setempat. 

Pakaian dari bahan ramah lingkungan ini juga turut dipopulerkan sejumlah pesohor, sebut saja Sonia Gandhi, Smriti Irani, Michelle Obama dan juga beberapa selebriti seperti Emma Watson, Michael Fassbender, Gwyneth Paltrow, Vidya Balan, dan Priyanka Chopra. Aksi pesohor dalam memomulerkan busana peduli lingkungan diyakini akan turut memengaruhi masyarakat untuk bergerak ke hal yang sama. 



Dari sejumlah negara di dunia, perancang busana India ditengarai paling gencar dalam urusan eco-fashion. Dilansir dari The Better India, sejumlah nama desainer bahkan melakukan perjalanan ke daerah untuk mendapatkan bahan dan bekerjasama dengan pengrajin setempat. 

Desainer Vaishali Shahdangule misalnya. Perancang busana dari Mumbai itu melakukan perjalanan ke desa-desa di Bengal Barat dan Madhya Pradesh mencari bahan untuk kain Jamdhani dan Chanderi.



Selain Vaishali, ada Anita Dongre yang bekerja dengan tukang tenun dan pengrajin di Kutch untuk mendapatkan sutra dan kapas Bandhani.

Lalu, Nandini Bruva, perancang busana di Guwahati. Beberapa waktu lalu, ia menampilkan koleksi 'Bhumisattva' di Lakme Fashion Week tahun lalu, semua karyanya berpusat di seputar sustainable fashion. Nandini menggunakan kain yang terbuat dari pisang, nanas, dan sutra Eri. Bahkan beberapa koleksinya seperti tas dan sepatu juga terbuat dari bahan alami.

Nandini juga menjelaskan, benang yang terbuat dari tanaman harus diperlakukan dengan tepat. Benang dengan bahan alami memiliki tekstur, warna dan kemilau yang unik. Benang dari bahan alami ini juga perlu dipadukan dengan kapas atau sutra karena sebagian besar benang dari bahan alami ini kaku dan rapuh.

Namun, upaya ini bukannya tak menghadapi persoalan. Desainer Siddhant Beliwal mengungkapkan kain dengan serat pisang dan serat alami lainnya terancam hilang karena adanya kesulitan untuk memproduksi kain pisang ini secara massal. Ke depannya, Siddhant berencana untuk membuat kain menggunakan serat teratai, sutra laba-laba, wol alpaca, dan serat vicuna. 

Di Indonesia sendiri, sejumlah desainer pernah mengeluarkan beberapa koleksi yang diolah dari bahan alami. Sebut saja di antaranya Ria Miranda yang pernah mengeluarkan koleksi dari kain yang berasal dari kayu putih, di mana seratnya jadi bahan dasar tanpa campuran polyester.

Selain itu, ada desainer Merdi Sihombing saat tampil di pekan Eco Fashion Week Australia beberapa waktu lalu. Ia menggunakan pewarnaan dari bahan alam, seperti kulit pohon beringin, tanaman salaon, dan harimontong. (cel/rah)