Harum Kopi Pembawa Damai di Rumah Kopi Sibu Sibu Ambon

Muhammad Andika Putra, CNN Indonesia | Minggu, 14/01/2018 10:14 WIB
Harum Kopi Pembawa Damai di Rumah Kopi Sibu Sibu Ambon Kedai kopi yang jadi saksi bisu perdamaian di Ambon. (CNN Indonesia/M. Andika Putra)
Jakarta, CNN Indonesia -- Jika datang ke Ambon dan bertanya letak kedai kopi, sebagian besar warga di pusat kota Maluku itu pasti langsung menjawab: Rumah Kopi Sibu Sibu.

Berada di Jalan Said Perintah, tak jauh dari perempatan Tugu Trikora, kedai kopi ini seakan menjadi saksi bisu perdamaian di Ambon.

June Manuhutu, pemilik Rumah Kopi Sibu Sibu, menceritakan asal usul kisah tersebut saat kedainya dikunjungi oleh CNNIndonesia.com pada akhir pekan kemarin.


Almarhum suami June, Victor Manuhutu, mengaku berang dengan konflik agama yang terjadi di kotanya pada tahun 1999. Tak hanya memakan korban nyawa, konflik itu juga merusak segala hal yang berasal Maluku. Seperti musisi yang jarang muncul dan regenerasi buruk pesepakbola yang diceritakan dalam film 'Cahaya Dari Timur: Beta Maluku'.

Awal tahun 2002, warga Maluku yang terlibat konflik menandatangani Piagam Malino sebagai bentuk perdamaian. Bagai angin lalu, piagam itu tidak membuat suasana panas mereda. Masih ada ketegangan di antara kedua pihak, yang baru mereda pada akhir tahun 2005.

"Pertengahan tahun 2006 kami mendirikan rumah kopi ini. Kami ingin mengembalikan kesan bahwa warga Maluku juga bisa berbudaya dengan damai. Kami ingin rumah kopi ini menjadi tempat bakudapa (berkumpul) damai," kata June.

Rumah Kopi Sibu Sibu tak langsung ramai ketika buka, banyak warga Maluku yang tidak tahu lokasinya.

Beruntung, Victor bekerja sebagai penulis di salah satu koran lokal Maluku. Ia biasa menulis tentang budaya dari tahun 2003 sampai 2009. Ia lalu menulis tentang Rumah Kopi Sibu Sibu sekaligus memberikan alamat lokasinya.

"Dia memang sedikit berpromosi, tapi nyatanya jadi banyak yang datang, Termasuk pihak yang sempat terlibat konflik. Setelah duduk bersama dan minum kopi di sini, mereka jadi berdamai," kata June.

Rumah Kopi Sibu Sibu memiliki slogan 'Hail Buan Lansyik' yang berarti saung pelepas penat. Slogan itu rasanya pas dengan sejarah perdamaian yang pernah tercipta di sini. 

Dulu, kata June, kedai kopi ini hanya berukuran 3 x 8 meter. Saat ini luasnya dua kali lipat. Hampir setiap hari warga Maluku yang beragama Islam dan Kristen dengan suku atau latar belakang beragam datang untuk minum kopi dan kongko. Terkadang sampai ada yang tak dapat tempat duduk.

Mereka yang datang, kata June, awalnya duduk bersama kelompoknya. Satu jam berikutnya, mereka perlahan berbaur dengan kelompok lain.

"Kami enggak pernah pilih-pilih dalam melayani yang datang," kata June.

Jane, pengelola Rumah Kopi Sibu Sibu. (CNN Indonesia/M. Andika Putra)

Victor, kata June, sangat senang ketika bisa melihat orang Maluku tertawa dan sedih bersama di ruangan kedai ini. Sayang, ia meninggal lebih dulu dan tidak bisa merasakan Maluku yang damai saat ini.

Menurut June, budaya minum kopi tak mengakar di Maluku, karena yang budaya ditinggalkan dari penjajah Belanda adalah minum teh. Di tengah perbincangan, pelayan kedai mengantarkan Kopi Rarobang yang CNNIndonesia.com pesan. Semua pelayan mengenakan baju cele dengan motif bunga dan kain sarung, yang merupakan pakaian khas Maluku.

Kopi Rarobang yang dipesan. (CNN Indonesia/M. Andika Putra)

"Saya ingin memanfaatkan rempah dari Maluku menjadi minuman. Kopi Rarobang ini dicampur dengan jahe dan kenari. Kami campurkan rempah agar ada rasa Maluku dalam cangkir kopi itu," kata June.

Remah buah kenari yang mengambang seakan menjadi biskuit peneman kopi layaknya kopi yang disajikan di kafe-kafe modern. Kenari yang terendam membuat kenari lunak untuk dikunyah. Jahe yang dicampur dengan kopi rarobang terasa sangat kuat pada setiap tegukan.

Ide racikan kopi itu datang dari Victor yang tidak ingin sekadar menyajikan kopi. Jahe, cengkeh dan kenari yang digunakan selalu dibeli dari petani di tempat kelahiran Victor, yaitu Pulau Saparua, Maluku Tengah. Sedangkan kopi dibeli dari Toraja.

"Di Pulau Buru ada sebenarnya kopi, tapi gak ada perkebunan yang besar karena untuk konsumsi sendiri. Maluku tenggara juga ada kopi, tapi kami gak bisa berharap dari sana karena permintaan kami banyak," kata June.

Selain kopi Rarobang, Rumah Kopi Sibu Sibu juga menyajikan Kopi Areng, Kopi Gingseng, kopi susu, teh jahe, susu, cokelat panas dan beragam jus buah. Camilan khas Maluku pun turut disajikan seperti sukun goreng, kue sagu kenari dan pisang goreng.

Ke depannya, June ingin menyajikan lebih banyak makanan khas Maluku.

(ard)


ARTIKEL TERKAIT
BACA JUGA