Bersepeda Terbukti Tak Sebabkan Gangguan Ereksi

Christina Andhika Setyanti, CNN Indonesia | Kamis, 18/01/2018 15:05 WIB
Bersepeda Terbukti Tak Sebabkan Gangguan Ereksi ilustrasi: Banyak orang mengungkapkan kekhawatiran mereka soal risiko menurunnya kesehatan seksual dan reproduksi karena terlalu lama bersepeda. (Vincenzo di Leo via Snapwire (CC0 1.0))
Jakarta, CNN Indonesia -- Sepeda sekarang ini kerap jadi pilihan warga ibukota untuk bepergian ke berbagai tempat. Beberapa orang misalnya, lebih memilih untuk menggunakan sepeda saat ke kantor dibanding memakai motor atau mobil.

Hal ini dianggap sebagai cara mudah untuk menyiasati waktu berolahraga yang rutin setiap hari demi kesehatan.

Tak dimungkiri, bersepeda juga dianggap bisa memangkas risiko serangan sakit jantung dan juga kanker sampai 50 persen.


Hanya saja, saat bersepeda terlalu lama ada banyak orang yang beranggapan akan menyebabkan masalah seksual, khususnya pada pria.

Ada banyak orang yang mempertanyakan adanya dampak duduk di sadel sepeda misalnya masalah infeksi saluran kemih (urinary tract infection atau UTI) sampai disfungsi ereksi pada pria.


Mengutip Metro, menurut studi yang dipublikasikan di Journal of Urology yang dilakukan oleh University of California, San Francisco, kekhawatiran soal ini tidaklah terbukti.

Penelitian dilakukan terhadap 3.919 pesepeda pria, perenang dan pelari, termasuk 1.642 pesepeda yang tidak rutin berenang atau lari, serta 975 pelari dan perenang yang tidak rutin bersepeda.

Partisipan direkrut melalui iklan facebook dan juga klub olahraga diminta untuk melengkapi kuisioner termasuk The Sexual Health Inventory for Men (SHIM), International Prostate Symptom Score (I-PSS), dan National Institute of Health Chronic Prostatitis Symptom Index (NIH-CPSI).

Partisipan juga diminta untuk mengisi kuis soal sepeda yang mereka pakai, tinggi setang, tipe sadel, sudut sadel, dan berapa lama mereka 'berdiri' di sepeda dibandingkan duduk disadel, perlengkapan yang dipakai, sampai penggunaan celana khusus sepeda.

ilustrasiilustrasi (Foto: CNN Indonesia/Resty Armenia)


Pria-pria tersebut dibagi dalam dua kategori berbeda, high intensity cyclist (bersepeda lebih dari dua tahun atau lebih, lebih dari tiga kali seminggu, rata-rata 35 mil per hari), dan low intensity cyclist (orang yang tidak termasuk dalam kriteria di atas).

Semua perenang dan pelari termasuk dalam low intensity category.

Hasil penelitian membuktikan bahwa kesehatan saluran kemih dan seksual para pesepeda sama saja dengan perenang dan pelari.

Studi bahkan menyebutkan bahwa high intensity cyclist atau pesepeda dengan intensitas tinggi ternyata memiliki fungsi ereksi yang lebih baik.

Akan tetapi, beberapa pesepeda juga menunjukkan gejala penyempitan saluran kemih (saluran kemih menyempity karena infeksi atau kecelakaan). Hanya saja hal ini tidak berpengaruh secara signifikan terhadap kesehatan reproduktif pria.

Penelitian juga menemukan bahwa tipe sepeda tidak memberi dampak pada kesehatan pesepeda.

Pesepeda yang lebih sering berdiri akan mengalami 20 persen risiko yang lebih rendah untuk mengalami masalah genital. Sedangkan setang yang rendah berpengaruh pada tinggi sadel yang berarti pesepeda akan mengalami risiko sakit dan nyeri yang lebih tinggi.


(chs/chs)