Kemenkes: Upaya Deteksi Dini Kanker Masih Rendah

Puput Tripeni Juniman, CNN Indonesia | Kamis, 01/02/2018 12:49 WIB
Kemenkes: Upaya Deteksi Dini Kanker Masih Rendah Kementerian Kesehatan mengungkapkan jumlah penderita kanker yang terus meningkat tak lepas dari minat deteksi dini yang masih jauh dari harapan. (Foto: Thinkstock/didesign021)
Jakarta, CNN Indonesia -- Jumlah penderita yang terus meningkat terutama pada kanker payudara dan kanker leher rahim di Indonesia membuat pemerintah gencar melakukan upaya pencegahan dan pengendalian berupa deteksi dini.

Sayangnya, upaya deteksi dini dengan metode inspeksi visual dengan asam asetat (IVA) untuk kanker leher rahim dan pemeriksaan payudara klinis (Sadanis) belum sesuai harapan.

"Terus terang saja, upaya-upaya penemuan dini kanker ini masih jauh dari harapan," kata Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan Mohamad Subuh saat jumpa media dalam rangka memperingati Hari Kanker Sedunia, di Gedung Kementerian Kesehatan, Jakarta Rabu (31/1). Hari Kanker Sedunia diperingati setiap tanggal 4 Februari.



Subuh memaparkan dari tahun ke tahun, sejak 2009 cakupan nasional deteksi dini terus meningkat. Hanya saja, angka itu masih jauh dari target yang ingin dicapai.

Pada 2009, deteksi dini masih berkisar pada 170 ribu orang dan meningkat perlahan menjadi 900 ribu orang pada 2004. Pada 2017, angka itu naik menjadi 3 juta orang. Padahal, Kementerian Kesehatan menargetkan bisa melakukan deteksi dini pada 37 juta orang.

"Kalau kita lihat begitu lambatnya kita, tahun 2017 masih 3 juta orang perlu waktu 20 tahun lagi mencapai target. Tapi, kami mau kejar supaya 10 tahun pada 2027 bisa tercapai target ini," tutur Subuh.

Hasil dari deteksi dini yang sudah dilakukan itu, ditemukan penderita kanker dengan prelvansi 1 per 1.000 orang. Dari 3 juta orang yang sudah melakukan deteksi dini artinya terdapat 3.000 pasien terkena kanker.

"Dan itu angkanya besar karena beban penyakitnya besar secara ekonomi itu besar, secara individu juga besar," ujar Subuh.


Subuh mengungkap penyakit kanker pada tahun 2017 (data per September) sudah menelan biaya Rp2,1 triliun yang ditanggung pemerintah. Menurut Subuh, jika deteksi dini dilakukan, biaya ini bisa ditekan dan kualitas hidup meningkat.

Selama ini, Subuh mengaku kesulitan terbesar melakukan upaya deteksi dini lantaran masyarakat yang kurang pengetahuan dan kesadaran terhadap kanker.

"Banyak metode sederhana sampai yang paling canggih, yang penting mau enggak kita semua melakukan deteksi dini terhadap semua kemungkinan yang terjadi," ucap Subuh. (rah/rah)