Ketika Kemacetan Puncak Mulai 'Dirindukan'

DHF, CNN Indonesia | Minggu, 11/02/2018 09:29 WIB
Ketika Kemacetan Puncak Mulai 'Dirindukan' Puncak jadi kota mati (CNN Indonesia/Andito Gilang)
Jakarta, CNN Indonesia -- Hujan lebat mengawali Sabtu (11/2) pagi di kawasan Puncak Cipanas, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat. Usai hujan reda, matahari mulai menampakkan diri di ufuk timur.

Sinarnya yang perlahan mulai terang menjadi pertanda dimulainya aktivitas di kawasan destinasi libur akhir pekan favorit warga Jakarta ini.

Namun 'aura' berbeda terasa di akhir pekan kali ini. Tak ada lagi suara-suara klakson mobil yang bersahutan, ataupun teriakan lantang penjual gemblong dan tahu Sumedang. 

Tak ada antrean mobil berpelat B di jalan-jalan raya menuju wilayah vila pun ada yang berbeda pada akhir pekan kali ini. Jalanan Puncak Cipanas tak ramai dilintasi kendaraan. Meskipun jam sudah menunjukkan pukul 09.00 WIB, jalanan Cipanas Puncak terlihat lengang, kosong, bak jalan utama di Jakarta waktu Idul Fitri.


Tertutupnya Jalan Raya Puncak akibat longsor Senin (5/2), membuat akses favorit dari Jakarta ke Puncak Cipanas terputus. Cipanas yang bergantung pada kunjungan warga Jakarta di akhir pekan, kini layaknya "kota mati".

Akhir Pekan 'Sendu' di 'Kota Mati' Cipanas PuncakFoto: CNN Indonesia/Fajrian

CNNIndonesia.com menyusuri jalan di Puncak Cipanas yang biasa dilalui pelancong domestik dari Jakarta dan sekitarnya. Perjalanan dimulai dari kawasan Ciloto menuju Pasar Cipanas.

Di Ciloto, kawasan dataran tinggi dengan banyak villa di kanan-kiri, jalanan hanya dilewati sepeda motor warga lokal dan angkutan umum.

Tak cuma Cipanas, Cimacan dan dan Sindang Laya yang mengandalkan pariwisata dengan banyaknya hotel di kiri dan kanan jalannya juga terlihat lengang. Tak terlihat bus pariwisata dan mobil pribadi pelancong yang memadati jalanan di kawasan ini seperti biasanya.


Bahkan CNNIndonesia.com bisa berdiri di tengah jalan untuk mengambil foto tanpa menghalangi atau diprotes pengendara yang melintas.

Titik terakhir yang dikunjungi adalah pusat kemacetan Pasar Cipanas. Pertigaan penghubung Kabupaten Cianjur dan Bogor, aktivitas pasar, dan terminal bayangan angkutan umum jadi kombinasi paling pas dalam menimbulkan kemacetan.

Akan tetapi hal tersebut tak terjadi akhir pekan ini. Seperti jalanan lain di Puncak Cipanas, aspal hanya dilintasi sepeda motor warga sekitar dan angkot. Bahkan angkot bisa berlama-lama mengetem di depan Pasar Cipanas tanpa diklakson mobil-mobil berpelat B.

Akhir Pekan 'Sendu' di 'Kota Mati' Cipanas PuncakFoto: CNN Indonesia/Andito Gilang

Berdasarkan pengamatan  CNNIndonesia.com, tak hanya aktivitas di jalanan Puncak Cipanas yang mati. Sektor usaha juga lumpuh di akhir pekan ini.

Penginapan, baik hotel ataupun villa tak memiliki pengunjung pascalongsor. Okupansi penginapan di Puncak Cipanas berada di titik nadir.

"Sudah enam hari, dari tanggal lima, hanya terisi satu kamar. Sekarang weekend tidak ada sama sekali, biasanya ada saja tamu," kata Buldan Supiandi, Banquet Supervisor Hotel Indo Alam saat ditemui CNNIndonesia.com, Sabtu (5/2).

Sebagai perbandingan, Buldan mengatakan di hari kerja biasanya hotel bintang dua di Sindang Laya itu memiliki okupansi sepuluh hingga lima belas persen. Pada akhir pekan bisa mencapai angka lima puluh persen.

Hal sama dialami Talita Mountain Resort di kawasan Ciloto. Penginapan ini biasanya memiliki okupansi 40 persen pada hari kerja dan di atas 70 persen pada akhir pekan.

"Zero. Setelah bencana, nol pengunjung," ujar Marketing Manager Talita Mountain Resort Andy Noverico kepada CNNIndonesia.com, Sabtu (10/2).

Pelaku usaha kuliner pun terkena dampak. Amen, restoran makanan khas China dan Indonesia ternama di kawasan Puncak Cipanas sepi pengunjung.

Reni Rusnaeni, HR Supervisor Amen Group Restaurant mengatakan biasanya lima belas meja selalu terisi sepanjang hari. Tamu dari Jakarta silih berganti mencicipi makanan di restoran ini.

Akan tetapi akhir sampai akhir pekan ini, hampir tidak ada pengunjung di restoran ini. Amen, kata Reni, akan tutup operasional untuk mengurangi kerugian. Keputusan ini menyusul diliburkannya restoran-restoran lain di Cipanas pascalongsor.

"Pada Senin sampai Rabu kita akan tutup sementara. Akan buka kembali Kamis menjelang Imlek," ungkapnya kepada CNNIndonesia.com.

Saat CNNIndonesia.com mengunjungi tiga tempat itu, memang tak ada aktivitas pengunjung. Lahan parkir di restoran, hotel, dan factory outlet lengang. Meski begitu, operasional tetap dijalankan seperti biasa.

Akhir Pekan 'Sendu' di 'Kota Mati' Cipanas PuncakFoto: CNN Indonesia/Andito Gilang

Kemacetan yang Dirindukan

Hilangnya kepadatan lalu lintas yang menyesaki Puncak Cipanas di akhir pekan ini ternyata tak serta merta membuat warga bersuka ria. Bahkan jika bisa memilih, mereka lebih memilih kemacetan di jalan-jalan Cipanas seperti biasanya.

Heri misalnya, ia mengakui saat ini suasana di Cipanas lebih damai. Namun tukang ojek di dekat RSUD Cimacan ini mengaku pendapatannya menurun drastis.

"Lebih damai sih, tapi secara ekonomi berkurang," ucapnya kepada CNNIndonesia.com, Sabtu (10/2).

Biasanya Heri mendapatkan Rp100 ribu dalam sehari dari antar-jemput pengunjung villa dan warga yang hendak bekerja. Ia juga menjadi juru parkir dan calo villa di daerah dekat RSUD Cimacan.

Setelah longsor, ia hanya mengantongi sekitar Rp30 ribu dari mengojek tiap hari. Pendapatan sebagai perantara villa juga tak ia dapatkan akhir-akhir ini.

Hal serupa dialami seorang pedagang dari Ciloto bernama Marwan. Ia mengaku usahanya lesu akhir-akhir ini.

Marwan mengungkapkan tak masalah jika warga Ibu Kota menyesaki tempat tinggalnya ini. Karena menurutnya, kemacetan itulah yang membawa berkah bagi warga Puncak Cipanas.

"Macetnya itu berkah untuk kami. Dengan macet, berarti banyak tamu atau banyak pengunjung yang datang ke kami ke Puncak," tuturnya kepada CNNIndonesia.com, Sabtu (10/2).

Tak terkecuali bagi Lili, supir angkot Cianjur-Cipanas. Ia lebih merindukan kondisi bermacet ria dengan pengunjung dari arah Jakarta.

Pasalnya, ia biasanya bisa mengantongi minimal Rp100 ribu dari menarik angkot. Namun sekarang mendapat Rp50 ribu saja sudah untung baginya. Ia biasa mengantar pengunjung serta tukang sayur untuk restoran dan hotel.

"Mendingan macet, tapi penumpang selalu ada, pendapatan juga kayak biasa," ujarnya kepada CNNIndonesia.com, Sabtu (10/2). (chs/chs)