Menkes: Resistensi Antibiotik Adalah Ancaman Serius

Elise Dwi Ratnasari, CNN Indonesia | Rabu, 28/02/2018 15:37 WIB
Menkes: Resistensi Antibiotik Adalah Ancaman Serius Menteri Kesehatan Nila Moeloek menilai resistensi publik terhadap antibiotik merupakan ancaman serius yang perlu kepedulian banyak pihak. (Foto: KaboomPics)
Jakarta, CNN Indonesia -- Persoalan kesehatan di Asmat, Papua beberapa waktu lalu masih terus diupayakan penyelesaiannya. Belum lagi persoalan kesehatan lain seperti kanker, malaria serta tuberculosis alias TBC turut menambah daftar panjang 'pekerjaan rumah' Kemenkes RI.

'Pekerjaan rumah' ini pun bertambah dengan adanya persoalan resistensi terhadap antimikrobial atau antibiotik.

"AMR (antimicrobial resistence) ini ancaman serius dan perlu campur tangan pemerintah, masyarakat dan profesi," tutur Nila saat memberikan keynote speech dalam simposium nasional di Balai Kartini, Kuningan, Jakarta Selatan, Selasa (27/2).



Resistensi terhadap antibiotik ini menurutnya tak boleh dipandang sebelah mata. Selain biaya perawatan yang lama dan biaya yang tak murah, kematian pun bisa mengincar mereka yang resisten terhadap antibiotik.

Pada 2013, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat total kematian sebanyak 700 ribu jiwa akibat resistensi terhadap antibiotik. WHO pun memprediksi, pada 2050 mendatang diperkirakan 10 juta jiwa per tahun. Gross Domestic Product (GDP) pun bisa 'menguap' sekitar US$100 triliun.

Oleh karena itu, perlu adanya peningkatan efektivitas pengawasan obat dan makanan baik dari sisi tenaga medis maupun pasien. Dari sisi tenaga medis, mereka perlu mengedukasi pasien tentang penggunaan antibiotik. Ini perlu mengingat presentase masyarakat yang sadar akan kesehatan tergolong kecil yakni 15-20 persen saja. Edukasi ini, misalnya dalam hal penggunaan antibiotik sesuai dengan anjuran dan harus habis dalam jangka waktu tertentu.

"Tenaga kesehatan perlu sadar, kalau gini masyarakat yang tidak sadar kesehatan ya tidak patuh," tambahnya.

Hal ini pun juga berlaku bagi apotek. Nila bercerita, dirinya pernah meminta sang asisten rumah tangga (ART) untuk membelikannya obat. Namun, ART kembali dengan tangan kosong karena obat yang diminta harus dengan resep dokter.


"Saya bilang gini, pakai nama saya. Oh sudah, ternyata enggak bisa. Bagus itu apoteknya, jadi siapapun dia kalau enggak punya resep dokter ya enggak bisa beli obat tertentu," lanjutnya.

Waspada TBC 

Dalam kesempatan serupa, Nila mengingatkan publik untuk waspada pula terhadap ancaman MDR-TB atau multidrugs resistance tuberculosis.

Dikutip dari laman resmi WHO, MDR-TB ialah kondisi bakteri penyebab tuberkulosis bisa menjadi resisten terhadap obat-obatan antimikrobial atau antibiotik yang digunakan untuk pengobatan. Mereka yang mengalami MDR-TB, tuberkulosis yang diderita tidak merespons setidaknya dua jenis obat tuberkulosis yang paling ampuh sekalipun yakni, isoniazid dan rifampicin.


Nila berkata, MDR-TB jadi masalah serius di dunia. Secara global, 480 ribu orang mengalami MDR-TB per tahun. Ancaman MDR-TB pun mengintai Indonesia sebab ia menduduki peringkat kedua jumlah penderita tuberkulosis terbanyak setelah India.

"Kalau sudah resisten, pengobatan bisa dua tahun. Padahal TBC-nya saja enam.bulan. Saya kira ini tidak main-main, tak hanya antibiotik, saya kira seluruh obat juga harus tepat (penggunaannya)," tambah Nila. (rah/rah)