Mengetahui Waktu yang Tepat Konsumsi Antibiotik

Elise Dwi Ratnasari, CNN Indonesia | Rabu, 31/01/2018 10:58 WIB
Mengetahui Waktu yang Tepat Konsumsi Antibiotik Penggunaan antibiotik ada baiknya disesuaikan dengan jenis penyakit, dan itu tidak termasuk untuk sakit pilek, flu, demam, atau radang tenggorokan. (Foto: KaboomPics)
Jakarta, CNN Indonesia -- Bagi sebagian orang, sakit ringan seperti flu atau radang tenggorokan tak selalu ditindaklanjuti dengan pergi ke dokter. Mereka memilih mengonsumsi antibiotik untuk meringankan gejala. Ada beberapa label antibiotik yang dengan bebas ditemui di pasaran seperti amoxicillin, cefadroxil, erythromicyn, ciprofloxacin juga tetrasiklin.

Akan tetapi, temuan di Inggris bisa jadi akan sedikit mengubah pola pikir orang terhadap penggunaan antibiotik. Dikutip dari Huffington Post, setidaknya lima ribu kematian disebabkan oleh antibiotik yang tak bertahan lama menghadapi serangan infeksi. Bahkan menurut Public health England, ahli memprediksi bahwa dalam 30 tahun ke depan, resistensi terhadap antibiotik akan membunuh lebih banyak orang daripada kanker atau diabetes.

“Antibiotik yang bekerja beberapa tahun yang lalu tak akan efektif lagi. Ini khususnya pada kasus gonorea. Di Inggris utara, gonorea makin parah dan tak ada antibiotik yang mampu menyembuhkannya,” kata Kenny Livingstone, seorang dokter di Inggris sekaligus pendiri ZoomDoc dikutip dari Huffington Post (26/1).



Melihat hal ini, tentu orang tak bisa sembarangan mengonsumsi antibiotik meski dijual bebas tanpa resep dokter. Tenaga medis di MedXpress, Clare Morrison menuturkan, antibiotik hanya mengatasi infeksi bakteri dan tak seperti yang diyakini selama ini, (antibiotik) seharusnya tidak digunakan untuk infeksi virus seperti pilek dan infeksi telinga.

“Ini karena pilek dan banyak infeksi lain pada saluran pernapasan atas seperti infeksi telinga disebabkan oleh virus, bukan bakteri,” tambahnya.

Antibiotik akan tepat digunakan saat orang mengalami sakit infeksi saluran kemih, infeksi bakteri pada tenggorokan, pneumonia, sinusitis, infeksi bakteri pada telinga, infeksi bakteri pada dada, dan selulit atau infeksi pada kulit. Sedangkan beberapa penyakit atau gejala penyakit yang baiknya tidak diberi antibiotik ialah pilek, flu, batuk, demam, bronkitis, infeksi telinga dan radang tenggorokan.


Morrison berkata, jika orang mengonsumsi antibiotik saat terkena infeksi virus, maka bakteri baik dalam tubuh akan terkena dampaknya. Hal ini bisa mengakibatkan resistensi atau menciptakan kesempatan bagi bakteri jahat untuk menyisihkan bakteri baik. (rah/rah)