Aksi Nyata Peduli Sampah di Indonesia Masih Rendah

Elise Dwi Ratnasari, CNN Indonesia | Kamis, 01/03/2018 20:13 WIB
Sekitar 90 persen masyarakat Indonesia sadar bahwa ada persoalan terkait sampah, tapi aksi nyata menyikapi keadaan ini masih nihil. Sekitar 90 persen masyarakat Indonesia sadar bahwa ada persoalan terkait sampah, tapi aksi nyata menyikapi keadaan ini masih nihil. (Foto: CNN Indonesia/Elise Dwi Ratnasari)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pada 21 Februari lalu jadi momentum hari peduli sampah nasional. Tanggal tersebut diambil berdasarkan peristiwa longsornya Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Leuwigajah, Cimahi, Jawa Barat pada 21 Februari 2005. Publik tak akan lupa bahwa peristiwa ini menelan seratus lebih korban jiwa.

Dini Trisyanti, founder sekaligus peneliti dari Sustainable Waste Indonesia (SWI) berharap peristiwa serupa tak akan terulang. Ia pun ingin masyarakat khususnya rumah tangga mulai sadar dan bergerak sebagai bentuk kepedulian terhadap sampah.

"Tolong diubah mindset-nya. Sampah itu bukan sesuatu yang (harus) sesegera mungkin hilang dari pandangan kita dan itu harus berakhir di TPA (lalu) menjadi masalah orang lain," kata Dini pada CNNIndonesia.com usai diskusi publik bertajuk 'Kerja Bersama untuk Indonesia Bersih' di Bebek Bengil, Menteng, Jakarta Pusat, Rabu (28/2).



Ia berkata, masyarakat harus melakukan lompatan besar. Dulu, 'buang sampah di tempatnya' memang kerap digaungkan, tapi kini, itu tidak cukup. Masyarakat seharusnya mulai memaksa diri untuk mau memilah sampah. Tak semua sampah harus dibuang. Sampah-sampah organik malah sebaiknya berakhir di composter dan bisa jadi pupuk kompos.

Aksi ini mungkin hanya berskala kecil karena memang lingkupnya hanya rumah tangga. Namun, jika semua mau bergerak, kata dia, maka perubahan bisa dirasakan. Dini memberikan contoh gerakan bersih-bersih di pantai-pantai di Bali. Awalnya hanya komunitas kemudian menjalar pada komunitas yang lebih luas bahkan masyarakat sekitar.

"Kepedulian yang lebih, gerakan lebih terasa. Di Bali, komunitas-komunitas itu tiap minggu mereka bikin clean up beach. Makin banyak yang ikut bakal kelihatan," ujarnya.

Sementara itu, Dini berpendapat Indonesia sendiri, kesadaran akan pengelolaan dan kepedulian terhadap sampah masih rendah. Sekitar 90 persen masyarakat Indonesia sadar bahwa ada persoalan terkait sampah, tapi aksi nyata menyikapi keadaan ini masih nihil.


Beberapa hasil pengelolaan sampah menjadi bahan baku produk baru yang memiliki nilai ekonomis. (Foto: CNN Indonesia/Elise Dwi Ratnasari)


Dini mengatakan, dirinya tak menyalahkan individu. Menurutnya, hal yang perlu diperbaiki ialah koneksi antarlembaga.

"Saya melihat di Bali sampah kan ditangani rumah tangga di tingkat RT-RT, tapi kemudian yang nanganin di tingkat lanjut kan bukan mereka. Kan dioper. Nah pada saat ngoper itu terjadi banyak miss," paparnya.

Menurutnya, apa yang bisa dilakukan di tingkat rumah tangga ialah dari kebiasaan-kebiasaan kecil dalam melihat dan mengelola sampah. Kebiasaan bisa dimulai dari mengurangi produksi sampah dengan menggunakan barang-barang yang bukan sekali pakai.

"Hal-hal kecil ini bisa juga dengan makan secukupnya sehingga tidak buang-buang makanan," pungkasnya. (rah/rah)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK