Di Jalanan Jakarta 'Darth Vader' Melawan Penindasan Perempuan

Puput Tripeni Juniman, CNN Indonesia | Sabtu, 03/03/2018 12:34 WIB
Di Jalanan Jakarta 'Darth Vader' Melawan Penindasan Perempuan Darth Vadr dan Wonder Woman cilik dalam aksi Women's March Jakarta, Sabtu (3/3). (CNN Indonesia/Puput Tripeni Juniman)
Jakarta, CNN Indonesia -- Di antara sekitar seribu peserta aksi Woman's March pada Sabtu (3/3) pagi ini, ada seorang pria berjubah hitam meneriakkan aspirasi menentang penindasan perempuan.

Jubah dan helm hitamnya mudah dikenali oleh para penggemar film Star Wars. Ia adalah tokoh antagonis Darth Vader yang identik sebagai salah satu penjahat film paling populer sepanjang masa.

Tentu itu bukan Darth Vader sungguhan. Di balik kostumnya ada sosok Margianta, pria 23 tahun asal Bogor yang ingin menyuarakan aspirasi dalam memperingati Hari Perempuan Internasional.


Margianta ikut aksi bersama ibunya dan adik perempuannya yang memakai kostum pahlawan super Wonder Woman.

Margianta mengenakan kostum Darth Vader yang sudah dimilikinya sejak SMA itu karena terinspirasi dari karakter fiksi tersebut.

Ia menyebut, sosok Darth Vader adalah cerminan perilaku manusia yang baik.

"Karakternya baik, terus jahat lagi, lalu baik lagi. Saya percaya, kita manusia juga bisa seperti itu. Ayo respek dan berubah menjadi baik," kata Margianta saat berbincang dengan CNNIndonesia.com di sela-sela aksi.

Karakter Darth Vader juga disebut Margianta dekat dengan semangat feminis, karena lahir dari ibu yang merupakan orang tua tunggal. Anak Darth Vader, Princess Leia, yang menjadi jendral juga memiliki karakter kuat.

Margianta mendapat dorongan untuk beraksi dari pengalaman pribadi. Dia adalah anak dari ibu yang merupakan korban pernikahan paksa. Pengalaman itu membuat Margianta gencar menolak pernikahan paksa.

"Inspirasi saya dari ibu dan adik saya. Walaupun kami korban, tapi kami juga bisa menjadi penyintas atau survivor yang menyuarakan hak-hak korban," ucap Margianta.

Lewat Women's March kali ini, Margianta berharap perempuan dapat bersuara dan melawan kekerasan dan penindasan.

Magianta datang mewakili dua komunitas yang dibangunnya yakni Framework Convention on Tobacco Control (FCTC) dan Womencipate.

"FCTC itu organisasi yang menyuarakan kendali rokok untuk pemuda, sementara Womencipate untuk mengemansipasi perempuan dan mencegah perbudakan moderen seperti pernikahan paksa," tutur Margianta yang merupakan pekerja lepas.

Women's March Jakarta merupakan aksi yang digelar memperingati Hari Perempuan Internasional setiap 8 Maret. Selain di Jakarta, aksi ini digelar di kota-kota besar seperti Bandung, Surabaya dan Bali dan di seluruh dunia.

(vws)