Pengamat Sosial: Hubungan Sulit Diselamatkan Usai Selingkuh

Puput Tripeni Juniman, CNN Indonesia | Sabtu, 10/03/2018 09:44 WIB
Pengamat Sosial: Hubungan Sulit Diselamatkan Usai Selingkuh Selingkuh berkaitan dengan loyalitas dan kesetiaan. Ketika itu sudah tidak ada, pasangan merasa kecewa karena dikhianati dan hubungan sulit diselamatkan. (Ilustrasi/Foto: Thinkstock/AntonioGuillem)
Jakarta, CNN Indonesia -- Tak dimungkiri, selingkuh dianggap sebagai salah satu bentuk ketidaksetiaan dan pengkhianatan dalam hubungan. Seringkali, setelah ketahuan selingkuh hubungan bakal berada di ujung tanduk. Namun, bukan berarti tak ada harapan hubungan akan membaik.

Pengamat sosial budaya Universitas Indonesia, Devie Rahmawati menilai hubungan yang sudah rawan itu sulit diselamatkan.

"Ini berhubungan dengan loyalitas dan kesetiaan. Ketika itu sudah tidak ada, pasangan merasa kecewa karena dikhianati dan hubungan sulit diselamatkan," kata Devie kepada CNNIndonesia.com saat berbincang mengenai fenomena perselingkuhan beberapa waktu lalu.



Menurut Devie, hubungan bakal semakin sulit diselamatkan di era digital dan media sosial saat ini. Devie menyebut jejak digital menjadi salah satu alasan pasangan memilih untuk bercerai.

Perselingkuhan yang saat ini banyak terjalin di media sosial, membuat jejaknya tak bisa dihapus. Melihat rekam jejak yang tersimpan itu bakal membuat kedua pasangan semakin sulit melupakan.

"Karena semua tersimpan dengan baik. Ketika perilaku tercatat di media sosial, secara psikologi ini akan lebih sulit memperbaiki hubungan,"tutur Devie.

Devie menjelaskan melihat kembali ada orang ketiga dalam hubungan di media sosial membuat orang semakin susah memulai kembali hubungan baru. Normalnya, manusia membutuhkan waktu lama untuk membangun kembali hubungan yang retak.


Selain itu, anggapan orang sekitar seperti kawan, rekan kerja, tetangga juga menjadi faktor hubungan sulit diselamatkan. Setelah perselingkuhan, biasanya orang-orang sekitar bakal langsung memberikan cap terhadap hubungan dan orang yang selingkuh, seperti juga muncul istilah pelakor.

"Artinya pendapat publik menjadi salah satu dasar pengambilan keputusan. Bisa jadi karena emosi sesaat, gengsi dan malu justru berjung perceraian,"ujar Devie.

Meski sulit, bukan berarti hubungan tak bisa kembali utuh. Devie menilai masih terdapat harapan dan kemungkinan hubungan bisa diselamatkan. Ia menjelaskan alasan seseorang untuk berselingkuh dapat beragam. Salah satunya bisa jadi bukan karena ingin meninggalkan pasangan, melainkan penasaran atau keinginan mendapatkan warna baru dalam kehidupan.

"Saat ketahuan, bisa jadi orang yang selingkuh tersadarkan bahwa sebenarnya bukan itu yang dia cari," ucap Devie.

Faktor seperti munculnya rasa tanggung jawab yang besar dan cinta kasih kepada keluarga bisa membuat hubungan kembali terselamatkan.


Untuk mengatasi hal itu, Devie lalu menyarankan agar pasangan dapat berbicara terbuka, mengakui kesalahan, menerima dan saling memaafkan, serta memperbaiki diri. Tak ada salahnya juga untuk meminta bantuan pihak ketiga yang tepat agar hubungan dapat kembali membaik.

"Peran pihak ketiga dengan semangat rekonsiliasi bisa menjadi salah satu cara. Seringkali perceraian terjadi karena salah mencari bantuan," kata Devie.

Devie juga menganjurkan agar persoalan dalam rumah tangga, termasuk perselingkuhan tidak dibeberkan kepada publik. Menurut Devie, hubungan lebih baik hanyak diketahui oleh orang yang menjalankan tanpa campur tangan publik. (rah/rah)