Celoteh Wisata

Gemala Hanafiah, Surfer yang Suka Menyelam

agr, CNN Indonesia | Rabu, 14/03/2018 15:03 WIB
Gemala Hanafiah, Surfer yang Suka Menyelam Gemala mengaku malu saat video tentang sampah di Nusa Penida beredar dan menjadi 'santapan' media dunia. (Courtesy of Gemala Hanafiah)
Jakarta, CNN Indonesia -- Surfing dan diving, dua hal tersebut identik dengan Gemala Hanafiah, wanita asli Balikpapan yang dikenal sebagai peselancar profesional wanita asal Indonesia. 

Gemala sempat menjadi juara di beberapa ajang kompetisi surfing kelas dunia.

Sebut saja juara pertama Occy's Grom Competition Billabong 2010 (Malaysia), peringkat 3 Asian Surfing Competition 2011 (Thailand) 2011, dan peringkat 4 ASC Ripcurl Surf and Music Festival Halfway 2014 (Bali).


Ternyata menunggangi ombak saja tidak cukup untuknya mengeksplorasi laut Indonesia, Gemala pun mencoba 'masuk lebih dalam' dengan scuba diving.

Perempuan yang pertama kali mencoba kegiatan menyelam saat menjadi pembawa acara di TV ini mengungkapkan bahwa Indonesia adalah negeri yang kaya akan potensi lautnya.

"Indonesia kan negara tujuan untuk diving, gak suma surfing aja lho. Luar biasa kan sebenarnya potensi Indonesia itu?" ujar Gemala saat dijumpai CNNINdonesia.com di Jakarta pada pekan lalu.

Terkait panorama bawah laut, ia mengatakan setiap daerah itu punya spesialisasinya masing-masing.

[Gambas:Instagram]

"Mulai dari ikan sampai terumbu karang yang warnanya cakep-cakep semua ada di Indonesia. Indonesia juga punya danau stingless jellyfish (ubur-ubur tak menyengat) gak cuma satu. Kakaban, Togean, Missol, Rote. Sebenarnya di Komodo juga ada tapi sedikit," kata Gemala, penuh semangat.

Namun, ia menyayangkan keindahan bawah laut dinodai oleh oknum-oknum yang kerap membuang sampah sembarangan. Ia menganggap masalah sampah adalah masalah nasional, tidak bisa hanya menyalahkan satu pihak saja karena semuanya sudah harus peduli soal sampah.

Gemala mengaku malu saat video tentang sampah di Manta Point, Nusa Penida, Provinsi Bali, beredar dan menjadi 'santapan' media dunia.

Menurutnya generasi yang lebih tua mungkin akan lebih galak jika diingatkan untuk tidak membuang sampah sembarangan.

[Gambas:Instagram]

"Kalau generasi angkatan kita mungkin udah sadar untuk gak buang sampah sembarangan. Karena mereka udah sering traveling, dan pastinya merasakan langsung dampak buruknya buang sampah sembarangan," kata Gemala.

Gemala juga mengungkapkan bahwa akses menjadi salah satu kendala bagi para diver di Indonesia. Pasalnya ada beberapa destinasi yang transportasinya tidak beroperasi setiap hari.

"Gue sendiri mengalami itu waktu ke Rote tahun 2013, waktu itu belum ada pesawat ke sana. Saat itu kami cuma mau lima hari, tapi karena badai jadwal kepulangannya terpaksa diundur. Berhubung bawa uang ngepas, jadi kami nemuin warga lokal untuk menego pembayaran saat kami sudah sampai Jakarta," ujarnya sembari tersenyum geli mengenang hal itu.

Saat ditanya soal bedanya sensasi scuba diving dan surfing, perempuan yang punya program petualangan sendiri ini, menuturkan diving memerlukan koordinasi banyak pihak terkait keselamatan si penyelam. Untuk itu, ia menyarankan jangan ragu mengambil kursus jika ingin mencoba scuba diving.

"Bukannya nakut-nakutin, tapi mulai dengan benar. Jadi harus ngambil kursus kalau mau diving, meskipun nyoba-nyoba juga gapapa tapi jangan melebihi kedalaman tertentu. Intinya belajar yang benar, karena kalau salah belajar takutnya malah trauma karena gak ngerti," pungkas Gemala.

[Gambas:Instagram]

(ard)