Belajar 'Teori' Cinta dari Stephen Hawking

Christina Andhika Setyanti, CNN Indonesia | Rabu, 14/03/2018 20:56 WIB
Belajar 'Teori' Cinta dari Stephen Hawking Saat orang-orang hanya melihat kepandaian dan kehebatan otaknya, Hawking juga justru menyimpan 'kelebihan' lain dalam dirinya yaitu soal cinta. (Foto: AFP PHOTO / ANDREW COWIE)
Jakarta, CNN Indonesia -- Stephen Hawking meninggal dunia pada Rabu (14/3) di kediamannya.

Semasa hidupnya, banyak orang berpikir bahwa sebagai ahli fisika dan kosmologi, Stephen Hawking adalah sosok yang tepat untuk belajar fisika dan sains saja.

Namun kenyataannya, saat orang-orang hanya melihat kepandaian dan kehebatan otaknya, Hawking juga justru menyimpan 'kelebihan' lain dalam dirinya.



Kekuatan dan ketabahan Hawking patut diacungi jempol. Dia berjuang melawan depresi setelah didiagnosis menderita ALS. Namun, mengutip Your Tango, Hawking tak cuma mengajarkan soal teori sains semata, melainkan berbagai teori-teori lain soal cinta.

1. Cinta jauh lebih kuat daripada penyakit

Meski didiagnosa mengalami penyakit yang tak akan bisa disembuhkan, namun Hawking menemukan cinta sejatinya. Dia pun tak menghentikannya untuk menikahi pujaan hatinya. Mereka bersama selama 30 tahun dan ALS tak menghentikan dia untuk menemukan cinta.

Dalam buku biografinya, Stephen Hawking: His Life and Work, Hawking mengungkapkan bahwa Jane 'memberinya sesuatu untuk hidup.'

2. Pernikahan membutuhkan kerja keras

Akibat penyakit yang dideritanya, dia diprediksi hanya bisa hidup sampai usia 23. Hal ini membuat Hawking terus berjuang keras untuk tetap hidup, dan Jane berusaha keras untuk membantunya tetap hidup saat itu.

3. ALS tak berpengaruh pada seksual

Dalam filmnya The Theory of Everything, Stephen Hawking bertanya pada temannya apakah dia masih bisa berhubungan seksual karena penyakitnya. Temannya pun mengungkapkan bahwa karena seks dan penyakit berada dalam sistem yang berbeda, maka seks Hawking tak akan berpengaruh. Buktinya, Hawking dan Jane memiliki tiga anak.


4. Jangan malu ungkapkan cinta

Dengan kondisi kesehatan yang tak baik, didukung dengan sifat Hawking sebagai peneliti yang pemalu, canggung, namun soal cinta Hawking ternyata cukup berani. Dia berani meminta Jane untuk berkencan dengannya.

5. Tertawa adalah kunci

Setelah ALS mulai menggerogoti dirinya, Hawking pun perlahan tak mampu mengerjakan berbagai hal seorang diri. Namun hal ini tak membuat Hawking akhirnya kehilangan selera humornya. Tawa adalah salah satu kunci dalam pernikahan.

6. Anda tak bisa memilih dengan siapa jatuh cinta

Hawking mungkin bisa memprediksi, menghitung, dan menemukan berbagai teori soal lubang hitam, semesta, dan penjelasan sains untuk semua hal. Tapi tidak demikian soal cinta. Manusia bahkan Hawking tak bisa memilih dengan siapa jatuh cinta. (chs/chs)