Earth Hour, Aksi Serentak 'Satu Jam' demi Lindungi Bumi

Elise Dwi Ratnasari, CNN Indonesia | Sabtu, 24/03/2018 10:00 WIB
Earth Hour, Aksi Serentak 'Satu Jam' demi Lindungi Bumi Pada hari ini, Sabtu (24/3), sejumlah negara di dunia termasuk Indonesia memeringati Earth Hour dengan mematikan seluruh lampu selama 1 jam, dari 20:30-21:30. (Ilustrasi/Foto: REUTERS/Dinuka Liyanawatte)
Jakarta, CNN Indonesia -- Berawal dari acara mematikan semua sumber cahaya di Sydney pada 2007, aksi 'Earth Hour' kini dilakukan di 180 negara termasuk Indonesia. Hari ini, Sabtu (24/3) dunia melakukan aksi Earth Hour dengan mematikan seluruh lampu serta perabot lain yang memakan daya listrik selama satu jam yakni mulai pukul 20:30-21:30.

Dikutip dari situs resmi World Wide Fund for Nature (WWF), mematikan lampu selama 60 menit menjadi simbol yang menunjukkan solidaritas untuk planet bumi. Mengapa harus berpartisipasi dalam aksi ini?

WWF menyebut bumi sedang krisis. Kerusakan bumi berjalan begitu cepat. Dari laporan WWF-UK Living Planet Report, sebanyak 80 persen spesies air musnah, sedangkan lebih dari 50 persen populasi hewan darat punah. Ada 40 persen hutan berubah menjadi lahan pertanian dengan 15 juta pohon hilang tiap tahun untuk bahan baku produksi minyak.


Selain itu, perubahan iklim membuat satu dari enam spesies dalam ancaman kepunahan.


Ada beberapa langkah yang bisa diambil untuk memperbaiki kondisi ini, termasuk dengan Earth Hour. Hemat listrik jadi salah satu cara untuk meminimalisir dampak perubahan iklim.

"Earth Hour adalah kesempatan untuk menggunakan kekuatan kita, sebagai individu atau kolektif, untuk menuntut dan mengambil tindakan melindungi jaring kehidupan ini sebagai imbalan atas semua yang diberikannya kepada kita, untuk kepentingan semua kehidupan di Bumi dan masa depan kita sendiri," kata Marco Lambertini, Direktur Jenderal WWF International dikutip dari laman resmi WWF Indonesia.

Pelaksanaan Earth Hour di Indonesia akan fokus pada empat isu utama. Ini terdiri dari inisiasi kampanye kawasan bebas sampah di 31 kota, penanaman mangrove sebanyak 26 ribu bibit di lebih dari 15 wilayah di Indonesia, inisiasi komitmen 9 kampus di 9 kota untuk pembangunan kesadaran konsumen akan pola konsumsi yang berkelanjutan, dan menggerakkan kampanye pembangunan kesadaran terkait keanekaragaman hayati dan kampanye anti perdagangan liar.


Selama sekitar 10 tahun lebih terlaksananya aksi, Earth Hour telah membantu penciptaan 3,4 juta hektar kawasan lindung laut Argentina, adanya hutan Earth Hour seluas 2.700 hektar di Uganda dan membantu undang-undang baru untuk perlindungan laut dan hutan di Rusia.

"Earth Hour di Indonesia dikenal dunia sebagai gerakan komunitas terbesar. Selama tiga tahun ke depan Komunitas Earth Hour bersama WWF-Indonesia akan mendukung pemerintah Indonesia untuk pencapaian komitmen pengurangan emisi sebanyak 26 persen pada 2020 melalui gerakan reforestasi," ujar Dewi Satriani, Manajer Kampanye WWF-Indonesia.

Pada perhelatan Earth Hour ini, sejumlah landmark terbesar dunia dikabarkan akan mematikan lampu display mereka sebagai bentuk komitmen kepedulian, seperti Menara Eiffel, Istana Buckingham, dan Sydney Opera House. Di Indonesia sendiri, aksi kepedulian ini juga dijadwalkan berlangsung di Monumen Nasional, dan beberapa tempat dengan sejumlah aksi seperti yoga, berlari dan atau melukis dalam gelap. (rah/asa)