'Pesan Berantai' Selamatkan Harimau Sumatera

Endro Priherdityo, CNN Indonesia | Sabtu, 30/07/2016 14:40 WIB
'Pesan Berantai' Selamatkan Harimau Sumatera Sebanyak 371 patung harimau Sumatra menghiasi main atrium Senayan City sebagai tanda perayaan Hari Harimau Sedunia, Jumat (29/7). (CNN Indonesia/Endro Priherdityo)
Jakarta, CNN Indonesia -- Harimau Sumatera atau Phantera trigris sumatrae, telah dicap sebagai satwa selangkah menuju punah atau critically endangered species menurut kategori International Union for Conservation Nature (IUCN). Dalam kondisi ini, arah kampanye penyelamatan diarahkan menuju penyadaran masyarakat untuk ikut menyelamatkan satwa langka ini.

"Masyarakat tahu harimau dan langka? Tahu. Tapi banyak yang belum tahu harus berbuat apa. Kadang masyarakat lupa bahwa gaya hidup yang dijalani dapat menjadi faktor harimau sulit untuk bertahan hidup," kata Nyoman Iswarayoga, direktur komunikasi dan advokasi WWF Indonesia, saat ditemui CNNIndonesia.com dalam perayaan Hari Harimau Sedunia di Senayan City, Jumat (29/7).

"Misalnya adalah penggunaan kertas yang berasal dari kayu di hutan. Kalau hutan tidak ada, maka tidak ada lagi rumah untuk harimau. Kami ingin meningkatkan pemikiran ini kepada publik, sehingga ketika publik sudah paham akan jadi tekanan dan perhatian pemerintah," lanjutnya.


Nyoman berdalih, penggunaan barang-barang yang berasal dari hutan seperti kertas, air, dan tenaga lainnya secara tidak sadar dilakukan berlebihan. Menurutnya, ada koneksi terputus antara kegiatan gaya hidup masyarakat kota dengan sumber penopang hidup yang berada jauh dari daerah urban.

Harimau Sumatera merupakan satu dari enam subspesies harimau yang masih ada jejaknya di dunia. Sebelumnya, sudah ada lima subspesies harimau yang dinyatakan punah, seperti harimau Bali dan harimau Jawa. Seperti namanya, harimau Sumatera hanya dapat ditemukan di Pulau Sumatera, Indonesia.

Menurut catatan Population and Habitat Viability 2015 yang digunakan oleh WWF, sejauh ini harimau Sumatera tercatat hanya berjumlah 371 individu yang tersebar dari Aceh hingga Lampung. Jumlah ini hanya 9,5 persen dari total harimau di dunia sejumlah 3871 ekor.

"Dari yang kami catat dari 2010 sampai 2014, ada 19 ekor harimau yang mati, baik secara alami ataupun karena penyebab lain. Mengetahui penurunan harimau sangat sulit, berbeda dengan gajah yang mudah diketahui," kata Nyoman. "Kalau harimau, kulit dan taringnya diambil, sedangkan dagingnya dibakar atau ditanam sehingga sulit terlacak.”
populasi harimau di Indonesia menunjukan angka penurunan drastis karena tingginya angka perusakan hutan di Indonesia, terutama populasi Harimau Sumatera mengalamai penurunan 75% dalam 25 tahun terakhir. (ANTARA FOTO/Maulana Surya)
WWF menyebutkan bahwa kehilangan jumlah harimau yang terjadi dapat disebabkan dua hal. Pertama, adalah berkurangnya area tempat tinggal atau habitat harimau karena eksploitasi, pembabatan, dan peralihan lahan hutan. Hal ini menyebabkan harimau semakin sulit untuk mendapatkan makanan guna bertahan hidup.

Hal kedua yang disebut WWF adalah karena masih banyak bagian tubuh harimau yang diperdagangkan. Beberapa bagian yang sering diincar dari harimau adalah kulit untuk menjadi pakaian jadi, dan tubuh harimau sendiri untuk dibekukan dan jadi pajangan. 

Lapor Lewat Aplikasi

Direktur Jenderal Penegakan Hukum Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Rasio Ridho Sani mengatakan publik pun dapat dengan mudah membantu dari tangan mereka.

"Ada aplikasi yang dikembangkan untuk mengecek keberadaan hewan liar ataupun bagian dari hewan tersebut di masyarakat," kata Rasio. "Masyarakat dapat melapor melalui aplikasi tersebut ataupun secara daring di laman kami," lanjutnya.

Aplikasi yang dimaksud oleh Rasio adalah aplikasi Gakkun milik Direktorat Jenderal Penegakan Hukum Kementerian Lingkungan hidup dan Kehutanan. Aplikasi ini dapat diperoleh baik pengguna iOS ataupun Android.

Selain Gakkun buatan KLHK, ada pula aplikasi buatan Freeland Foundation bernama WildScan. Aplikasi ini dibuat secara khusus untuk mendeteksi kejadian penjualan hewan liar secara ilegal.

Aplikasi tersebut membantu pengguna untuk mengidentifikasi, melaporkan, dan mengendalikan baik hewan ataupun bagian dari hewan liar yang dikoleksi atau diperjualbelikan secara ilegal.

"Kejahatan ini tidak bisa kami lakukan sendirian dan memang harus dihadapi bersama-sama," kata Rasio. "Sebelum 2016, kami menangani 50 kasus terkait harimau, saat ini mungkin dapat bertambah karena dari laporan daring dan kesadaran masyarakat yang semakin meningkat berupa laporan,"

Sebagai salah satu tokoh publik yang digandeng oleh WWF untuk kampanye ini, musisi Nugie berpendapat bahwa dengan upaya menyelamatkan harimau berarti membantu menyelamatkan masa depan Indonesia.

"Masyarakat Indonesia yang memiliki satwa ini harusnya mengetahui mengapa harus melakukan penyelamatan. Indonesia masih memiliki harimau, badak, gajah, dan nanti kalau mereka punah, tidak ada lagi yang bisa diperlihatkan ke generasi mendatang," kata Nugie.

“Tinggal kembali ke masyarakatnya, dan jangan sampai hanya berakhir pada seremonial peringatan semata." (les)