6 Penyebab Kematian Ibu Melahirkan Versi AIPI

Elise Dwi Ratnasari, CNN Indonesia | Kamis, 29/03/2018 20:04 WIB
6 Penyebab Kematian Ibu Melahirkan Versi AIPI AIPI menyebutkan kematian ibu dan bayi ketika proses kelahiran disebabkan oleh enam faktor berdasarkan penelitian literatur dan kajian lapangan. (Ilustrasi/Pixabay/RitaE)
Jakarta, CNN Indonesia -- Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI) merilis enam faktor penyebab kematian ibu dan bayi saat kelahiran. 

Keenam faktor ini didapat setelah melakukan kajian terhadap 71 karya literatur dan kajian lapangan, yang bertujuan untuk pembaharuan kebijakan kesehatan.

Keenam faktor itu adalah:


1. Kualitas pelayanan

Kualitas ini meliputi tempat, sumber daya manusia, peran sektor swasta serta partisipasi publik.

Terkait tempat AIPI mengatakan, seharusnya sejak awal ibu bisa menentukan tempat dia melahirkan, karena pendarahan merupakan faktor utama penyebab kematian saat persalinan.
AIPI menambahkan lokasi melahirkan dan rumah sakit rujukan harus bisa ditempuh sekitar 30 menit.

"(Terkait SDM) sistem secara tim seharusnya terdiri dari dokter, bidan serta petugas medis lain, akan tetapi 60 persen kasus hanya ada bidan sendiri. Ini perlu rujukan yang lebih baik," kata Akmal Taher, ketua tim peneliti Evidence Summit AIPI.

2. Sistem Rujukan

Rujukan harus dilakukan ketika ibu memerlukan penanganan di fasilitas yang lebih memadai, namun banyak kendala dalam penerapan.

Akmal memberi contoh bahwa puskesmas punya kualitas baik dan cepat merujuk pasien ke rumah sakit tetapi rumah sakit tidak menangani pasien dengan baik atau terkendala sarana dan prasarana.

Kondisi ini, menurut Akmal, membuat kematian ibu tidak bisa dihindari karena terlambat ditangani.

"Ini tidak ada continuous of car, pasien datang terlambat atau terlambat ditangani. Kalau mau memperbaiki sebaiknya satu daerah dari hulu ke hilir," kata Akmal.

3. JKN (Jaminan Kesehatan Nasional)

Skema Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) membuat pasien harus mengikuti alur rujukan sesuai aturan dan ini terkadang membuat pasien terlambat ditangani.
Akmal mengatakan bahwa empat tahun setelah JKN diterapkan belum ada bukti terkait perbedaan angka kematian ibu dan bayi baru lahir sebelum skema ini diterapkan.

Dia menambahkan perlu ada perlakuan berbeda untuk pasien ibu melahirkan sehingga tidak terjadi keterlambatan penanganan jika terjadi komplikasi.

4. Peran Pemda

Akmal mengatakan tim peneliti AIPI tidak menemukan kajian ilmiah soal pemerintah daerah (pemda) dan kebijakan di bidang kesehatan.

Akan tetapi, tambahnya, tim menemukan bahwa Kabupaten Kulon Progo di Yogyakarta memiliki pemerintah daerah yang berhasil menurunkan angka kematian ibu dan bayi baru lahir.
"Kabupaten yang bagus ini pemdanya aktif bikin peraturan, LSM bagus. Temuan kami di Kabupaten Kulon Progo itu bagus sekali. Bupatinya punya latar belakang obgyn, makanya faktor kepemimpinan sangat penting," kata Akmal.

5. ‎Budaya

Faktor budaya juga menjadi salah satu penyebab angka kematian ibu dan bayi baru lahir yang tinggi.

Akmal menjelaskan ada ibu yang tidak bisa memutuskan sendiri pilihan mengikuti rujukan ke rumah sakit atau tidak. Keputusan kerap diambil oleh suami atau bahkan keluarga besar kala suami tidak bisa ambil keputusan.

Hal ini tentu membuat penanganan komplikasi menjadi lambat.

6. ‎Pernikahan dini

Tak bisa dipungkiri tingginya angka kematian ibu dan bayi berkaitan dengan tingginya angka pernikahan dini di Indonesia. Dari analisis UNICEF dan BPS pada 2015, angka pernikahan di bawah usia 18 tahun mencapai 23 persen.

Dari sisi kesehatan, sistem reproduksi anak perempuan belum siap untuk memiliki anak. Anak yang melahirkan pada usia di bawah 20 tahun lebih berisiko kehilangan nyawa. (yns/yns)