'Bongkar' Data Klien dan Status HIV, Aplikasi Kencan Dikecam

Christina Andhika Setyanti, CNN Indonesia | Jumat, 06/04/2018 16:29 WIB
'Bongkar' Data Klien dan Status HIV, Aplikasi Kencan Dikecam ilustrasi (Unsplash/Pixabay)
Jakarta, CNN Indonesia -- Aplikasi kencan sesama jenis terbesar di dunia dengan jumlah pengguna aktif 3,6 juta setiap hari mengungkapkan bahwa mereka sudah membagikan daya pribadi pengguna kepada pihak ketiga, Apptimize dan Localytics.

Bukan cuma itu, perusahaan aplikasi yang berbasis di Hollywood Barat, California itu juga membagikan status HIV kliennya. Aplikasi kencan sesama jenis ini juga mempromosikan dilakukannya tes HIV secara reguler.

Banyak yang menduga hal ini berhubungan dengan kejadian bocornya data pengguna Facebook beberapa waktu lalu. Perusahaan raksasa media sosial ini berada di bawah pengawasan ketat sejak adanya kebocoran 50 juta data penggunanya yang dilakukan oleh Cambridge Analytica.



Hanya saja Scott Chen chief technology officer aplikasi tersebut, berusaha menjauhkan 'kecelakaan' skandal pembobolan data Facebook dengan sharing data aplikasi kencan.

"Ini tidak lebih dari sekadar standar operasi industri," katanya dikutip dari AFP.

"Sebagai perusahaan yang melayani komunitas LGBTQ, kami paham bahwa ada masalah sensitif soal pembukaan data status HIV."

Dia mengatakan bahwa kedua perusahaan pihak ketiga yang menggunakan data apliksai kencan ini hanya bertugas untuk melakukan optimalisasi perangkat lunak di bawah ketentuan kontrak ketat yang memberikan jaminan kerahasiaan tinggi, keamanan data, dan privasi pengguna.

"Tujuan kami adalah untuk mendukung kesehatan dan keselamatan pengguna kami di seluruh dunia."

Banyak ahli yang menyambut dengan antusias terkait hal ini. Sayangnya, hal ini juga menjadi bumerang bagi aplikasi tersebut karena memicu pemboikotan.

Hanya saja berbagai organisasi advokasi dan pengguna aplikasi mengatakan bahwa hal tersebut merupakan sebuah pelanggaran serius terhadap kepercayaan dan privasi.


Kekhawatiran lainnya adalah banyaknya orang yang meremehkan rekomendasi para ahli untuk pencegahan HIV secara teratur karena ketakutan bahwa status HIV-nya akan terungkap pada pasangan seksual potensialnya.

Salah satu pengguna aplikasi kencan Grindr itu, Danny, 'memuji' pilihan aplikasi kencan untuk mengungkapkan status HIV tersebut dengan kata 'luar biasa' karena memberi peringatan pada aplikasinya untuk melakukan tes HIV.

"Sebagai pria yang negatif HIV, saya masih memiliki sentimen anti(tes) HIV, tapi dengan adanya pengungkapan data ini saya dipaksa untuk belajar lagi," katanya.

"Saya benar-benar berpikir bahwa Grindr peduli dengan komunitas pecinta sesama jenis dan memaksa kami untuk punya dialog penting tentang kesehatan dan keselamatan kami."

Hanya saja di satu sisi, dia juga menyebut sharing data yang dilakukan aplikasi tersebut sebagai sebuah tamparan di wajah.

"Ini menyedihkan, karena saya pikir hal ini mendorong adanya diskusi di komunitas kami." (chs/chs)