Mitos atau Fakta: Makan Sambal Bikin Sakit Perut

Puput Tripeni Juniman, CNN Indonesia | Minggu, 08/04/2018 17:28 WIB
Mitos atau Fakta: Makan Sambal Bikin Sakit Perut ilustrasi (CNN Indonesia/Hesti Rika)
Jakarta, CNN Indonesia -- Seringkali orang enggan mengonsumsi sambal dengan alasan dapat membuat sakit perut. Di sisi lain, beberapa orang justru sanggup memakan ratusan cabai rawit sekaligus.

Fakta ini, justru menimbulkan tanya, benarkah sambal bisa membuat perut sakit atau hanya mitos belaka? CNNIndonesia.com mengusut kebenaran soal efek sambal terhadap perut dengan menyakan kepada para ahli.

Dokter ahli penyakit dalam Ari Fachrial Syam menjelaskan bahwa cabai yang merupakan sayuran mengandung beberapa zat diantaranya capsaicin yang memberi rasa pedas, vitamin C, vitamin A, mineral, antioksidan dan serat.



"Karena cabai merupakan sayuran kandungan di dalamnya seperti sayuran ada serat, vitamin, dan sedikit mineral. Yang membedakan ada capsaicin yang memberi rasa pedas," kata Ari yang juga merupakan konsultan penyakit lambung dan pencernaan itu.

Capsaicin yang terdapat pada cabai memberikan efek penghilang rasa sakit terutama sakit kepala, anti radang serta meningkatkan nafsu makan.

Cabai juga baik untuk orang yang memiliki masalah kesulitan buang air besar karena dapat meningkatkan kontraksi usus sehingga merangsang seseorang untuk buang air besar. Inilah yang membuat perut terasa sakit atau melilit.

Namun, efek sakit perut setiap orang berbeda satu sama lain.


"Efeknya tergantung, kalau sensitif pas makan bisa mules. Tapi ada juga yang kuat. Jadi sangat relatif. Asal jangan berlebihan saja," tutur Ari yang merupakan akademisi di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.

Pendapat yang sama juga diutarakan oleh ahli gizi klinis dokter Luciana Sutanto. Menurut Luciana, sambal dapat membuat sakit perut jika berlebihan.

"Sambal dengan bahan dasar cabai yang mempunyai kandungan Capsaicin mempunyai efek iritatif. Jika iritasi yang terjadi pada saluran cerna terjadi berlebihan akan menyebabkan sakit perut," kata Luciana.

Iritasi pada lambung atau saluran cerna lain yang berlebihan dapat melukai permukaan jaringan sehingga menyebabkan luka atau tukak. Luciana juga menyebut efek iritasi ini berbeda pada setiap orang dan hanya diketahui oleh orang tersebut.

Sementara itu, ahli gizi Institut Pertanian Bogor Dodik Briawan menjelaskan setiap individu memiliki tingkat toleransi yang berbeda-beda terkait jumlah makanan pedas atau cabai yang bisa dikonsumsi. Hal itu tergantung pada kebiasaan makanan yang dikonsumsi dan tubuh masing-masing individu.


"Sebagai contoh, ada seseorang warga di China dilaporkan bisa makan cabai hingga 1 kilogram. Namun ada juga yang makan dua hingga tiga cabai untuk satu porsi karedok dan itu sudah terasa sangat pedas," kata Dodik.

Untuk mengetahui batas jumlah makanan pedas yang masih aman dikonsumsi, Dodik menyarankan untuk melihat pada reaksi yang ditunjukkan oleh tubuh masing-masing. Jika terasa terlalu pedas di mulut, sebaiknya makanan tidak usah dilanjutkan.

"Untungnya manusia mempunyai sensor organoleptik berupa lidah, sehingga saat terasa pedas di mulut, sebaiknya tidak dilanjutkan ditelan," kata Dodik.

Penyakit-penyakit tertentu yang dimiliki tiap individu juga bisa menjadi indikator jumlah makanan pedas yang bisa dikonsumsi.

"Seseorang penderita penyakit maag sebaiknya menghindari makanan pedas, supaya asam lambung tdak keluar berlebih," ucap Dodik.

Jadi, sambal atau cabai memang dapat membuat sakit perut jika dikonsumsi secara berlebihan. Selain itu, kadar toleransi terhadap cabai hanya dapat diketahui oleh masing-masing individu. (rah)




BACA JUGA