Penggunaan AC Berlebih Bisa Picu 'Bell's Palsy'

Elise Dwi Ratnasari, CNN Indonesia | Rabu, 25/04/2018 01:10 WIB
Penggunaan AC Berlebih Bisa Picu 'Bell's Palsy' Temperatur dingin ekstrem di kantor, rumah, mal, dan bioskop bisa memicu 'bell's palsy', atau kelumpuhan pada salah satu sisi otot wajah dan harus dihindari. (Ilustrasi/Foto: Thinkstock/rene sedney)
Jakarta, CNN Indonesia -- Tanpa disadari, temperatur dingin ekstrem di kantor, rumah, mal, dan bioskop bisa memicu gangguan kesehatan pada tubuh. Di antaranya dapat menjadi pemicu kena 'bell's palsy', atau  kelumpuhan pada salah satu sisi otot wajah. Apalagi jika seseorang beralih tiba-tiba, dari suhu panas di luar rumah ke ruang ber-AC. 

Hal itu disampaikan fisioterapis Maria Kristina dari Canadian Specialist Hospital mengingat kini tingginya penggunaan pendingin ruangan atau air conditioner (AC). Meski penyebab pasti bell's palsy belum diketahui, kelumpuhan ini lebih umum dialami wanita hamil, penderita diabetes dan HIV.

"Kondisi ini bisa muncul dari transisi temperatur hangat di luar ruangan ke ruang dingin ber-AC. Temperatur dingin ekstrem di kantor, rumah, mal, dan bioskop bisa memicu kerusakan saraf wajah dalam beberapa kasus dan harus dihindari," papar Kristina, seperti dikutip dari Khaleej Times baru-baru ini.
 

Bicara tentang penyebab utamanya, Dr Caesar Zahka, konsultan neurologis di Burjeel Hospital mengatakan banyak orang yang terkena bell's palsy setelah bereka berpindah dari ruang yang panas (seperti hot shower) ke ruang dingin dengan semprotan AC tinggi.


Perubahan temperatur tiba-tiba ini ditengarai menjadi penyebab aktifnya virus yang menimbulkan penyakit. Proses kesembuhan dari 'bell's palsy' butuh waktu beberapa hari bahkan bisa bertahun. Bahkan sekitar 10-30 persen ada yang tak bisa disembuhkan sama sekali.

Salah satu contoh kasus diungkapkan Maria Kristina dari salah satu pasiennya. Ia bercerita soal Eliza, yang kena 'bell's palsy' usai berlibur ke Eropa. Setelah mandi air hangat, ia membiarkan jendela kamar terbuka dan tertidur dalam kondisi rambut masih basah. Keesokan paginya ia bangun dengan sekitar mulut terasa lumpuh. Kondisi Eliza semakin memburuk pada 48 jam berikutnya. Sisi kanan wajahnya lumpuh.

"Saat Eliza datang pada kami, dia tidak bisa benar-benar menutup mata kanannya dan menggerakkan alis kanan, dia tidak bisa tersenyum, bersiul, makan atau minum dengan baik," lanjut Kristina.


Eliza pun menjalani terapi. Metode yang digunakan termasuk stimulasi elektrik untuk mengembalikan kekuatan otot, radiasi infra merah untuk meningkatkan peredaran darah, pijat wajah untuk mencegah keluarnya air liur dengan tidak diinginkan dan latihan wajah untuk mengembalikan pergerakan otot. Setelah 8 sesi terapi, wajahnya kembali simetris dan ia dapat menggerakkan otot wajah seperti semula.

Jika bell's palsy dibiarkan maka pasien tidak dapat menutup mata dengan sempurna, akibatnya pasien tidak bisa menghindari paparan cahaya atau debu. Paparan polutan secara konstan dapat mengakibatkan kekeringan dan kerusakan mata.

Dilansir dari Doctor NDTV, bell's palsy menyerang baik pria maupun wanita. Gejala bell's palsy antara lain rasa tidak nyaman di sekitar rahang dan belakang telinga, sakit kepala, indera pengecap melemah, kelumpuhan pada salah satu sisi wajah, otot wajah pada kelopak dan mulut melorot serta kepala pening. (rah/rah)