Dansa dan Makan, Keseruan dalam Peresmian Rumah Adat Jailolo

Ardita Mustafa, CNN Indonesia | Selasa, 01/05/2018 18:26 WIB
Dansa dan Makan, Keseruan dalam Peresmian Rumah Adat Jailolo Rumah adat Suku Sahu yang bakal digunakan sebagai pendopo. (CNN Indonesia/Safir Makki)
Jailolo, CNN Indonesia -- Sekelompok ibu-ibu sibuk memasak di dapur, sementara sekawanan remaja yang sudah berkostum adat sibuk menghapal gerakan tarian.

Siang itu Selasa (1/5) masyarakat Suku Sahu yang bermukim di Desa Akelamo, Teluk Jailolo, Maluku Utara, tengah bersiap meresmikan rumah adat mereka yang berasal dari sumbangan warga.

Rumah adat berbahan kayu dan beratapkan anyaman daun kelapa itu berukuran luas kurang lebih lima meter. Tidak ada pintu atau jendela, tapi atapnya dibuat tinggi untuk sirkulasi udara.


Di sisi ruangan dibangun meja dan tempat duduk yang menyatu, mirip dengan meja piknik.

Rumah tersebut bukan dijadikan tempat tinggal, melainkan sebagai pendopo untuk acara kumpul-kumpul Suku Sahu.

Walau terlihat sederhana namun harganya cukup membuat orang menelan ludah, kurang lebih Rp150 juta.

"Harganya mahal karena kami menggunakan Kayu Gofasa, kayu yang kami ambil dari hutan di pedalaman Halmahera. Kayu itu paling kuat makanya harganya mahal," kata Atik, salah satu ibu yang ikut membantu acara masak di dapur.

Acara peresmian rumah adat biasanya berlangsung dua hari. Rangkaiannya dimulai dengan sambutan dan doa dari ketua adat, tarian, peletakkan atap ijuk oleh orang dengan marga terpilih, lalu makan bersama.

Berbicara mengenai makan bersama, atau yang disebut masyarakat Teluk Jailolo dengan Oram Sasadu, suasananya sangat meriah.

Di tengah makan, tamu akan dihibur oleh musik dan tari. Yang sudah kenyang boleh turun ke "lantai dansa." Yang ingin mengunyah sambil menari juga boleh saja.

Dansa dan Makan, Keseruan dalam Peresmian Rumah Adat JailoloTarian penyambutan sebagai simbol keriaan di rumah baru. (CNN Indonesia/Safir Makki)

Menu yang dihidangkan dalam Oram Sasadu pun tak kalah meriah. Atik dan ibu-ibu dari Suku Sahu hari itu memasak ikan rebus garam lemon, sayur pare, kue wajik, sambal dabu-dabu, dan sang bintang utama, yakni Nasi Jala.

Semua menu itu merupakan menu wajib yang selalu dihidangkan saat ada acara adat Suku Sahu.

Hari itu ibu-ibu Suku Sahu ditugaskan untuk memasak 100 Nasi Jala, yang berarti 100 batang bambu.

Mirip lontong hanya saja Nasi Jala berbahan beras yang dibakar dalam batang bambu berukuran sekitar satu meter.

Dansa dan Makan, Keseruan dalam Peresmian Rumah Adat JailoloIbu-ibu Suku Sahu memasak menu Nasi Jala. (CNN Indonesia/Safir Makki)

"Beras kami rendam air, lalu kami bungkus dengan daun pisang. Selesai dibungkus, nasi kami masukkan ke batang bambu yang dibakar alami dengan arang dan batok kelapa. Kami tahu itu nasi matang setelah air banyak keluar dari batang bambunya," ujar Atik menjelaskan cara memasak Nasi Jala.

Sebelum dihidangkan, Nasi Jala dikeluarkan dari batang bambu dan dipotong-potong dengan ukuran empat jari orang dewasa.

"Saya makan satu potong saja tidak habis, itu porsinya besar satu piring nasi," kata Atik sambil tertawa saat ditanya ia sanggup menghabiskan berapa potong Nasi Jala.

Atik sudah turun ke dapur sejak jam lima pagi. Ia mengatakan kalau Oram Sasadu dibagi dalam dua sesi, makan siang dan makan malam.

Peresmian rumah adat hari itu juga didatangi oleh Bupati Halmahera Barat Danny Messy, sebagai rangkaian Festival Teluk Jailolo 2018.

Dalam gelaran yang ke-sepuluh alias satu dekade, acara ini tetap konsisten menghadirkan seni budaya suku-suku yang berada di bawah Kesultanan Jailolo.

Selain peresmian rumah ada yang bisa dilihat turis penggemar wisata seni budaya, Festival Teluk Jailolo juga menggelar bazaar kuliner khas, panggung musik dan tari tradisional, sampai ritual adat.

Festival Teluk Jailolo berlangsung mulai dari 30 April sampai 5 Mei mendatang.

(ard)