Alasan Psikologis Anak dan Wanita Terlibat Aksi Teror

CNN Indonesia, CNN Indonesia | Rabu, 16/05/2018 18:13 WIB
Alasan Psikologis Anak dan Wanita Terlibat Aksi Teror ilustrasi (Thinkstock/zabelin)
Jakarta, CNN Indonesia -- Aksi teror bom Surabaya dan Riau mengguncang Indonesia.

Selain soal maraknya ledakan bom yang menyebabkan korban tewas dan luka-luka, keprihatinan juga muncul karena adanya terduga teroris yang melibatkan keluarga, anak, dan perempuan dalam aksi terorisme tersebut.

Pemerhati anak sekaligus Ketua Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI) Seto Mulyadi atau Kak Seto mengungkapkan bahwa anak-anak tak boleh diikutsertakan dan harus dilindungi dari segala bentuk tindak kekerasan termasuk aksi teror.



Namun, dia meminta polisi dan masyarakat untuk tidak melabeli anak-anak itu sebagai teroris. Kak Seto menyatakan anak-anak itu juga merupakan korban dari tindak kejahatan orang tuanya.

"Mohon dikoreksi jangan ada kata-kata 'ketiga teroris termasuk anak-anak'. Anak-anak bukan teroris. Anak-anak ini korban," kata Seto saat ditemui di Seminar Kesehatan Gizi Remaja, Jakarta, Selasa (15/5).

"Mereka ini korban dari bujuk rayu maupun dari pemaksaan atau intimidasi (orang tua)."

Korban Orang Tua dan Lingkungan

Senada dengan Kak Seto, Ketua Indonesia Child Protection Watch (ICPW) Erlinda Iswanto mengungkapkan bahwa anak-anak tersebut sebenarnya merupakan korban dari orang tua dan lingkungan.

"ICPW dan pemerhati anak yang di dalamnya akan dilibatkan Kemsos, Kementerian PP & PA, KPAI, P2TP2A dan praktisi Psikolog akan memberikan penguatan pada Polri melakukan pendekatan pada anak yang dilibatkan pada aksi terorisme oleh orangtua mereka," tulisnya dalam pernyataan yang diterima CNNIndonesia.com, Rabu (16/5).

"Dugaan adanya regenerasi dan pengkaderan oleh kelompok radikalisme menjadi warning dan awarness pada seluruh elemen bangsa karena akan mengancam stabilitas, Ideologi dan keutuhan NKRI."

Dalam pernyataannya, Erlinda mengungkapkan ada beberapa alasan mengapa anak-anak bisa terpengaruh dalam hal terkait terorisme, dilihat dari sisi psikologinya.

Alasan pertama adalah orang tua memiliki peran penting dalam fase pembentukan karakter anak.


Hal ini akan membuat pola pikir anak sangat dipengaruhi oleh orang tuanya, termasuk soal pengambilan keputusan.

"Keluarga adalah pihak pertama yang memberikan dasar-dasar nilai bagi anak," ucapnya. "Perilaku tindak kriminal oleh anak atau remaja ini merupakan akibat dari aspek psikososial."

Remaja Rentan Disusupi

Selain anak-anak, remaja juga dianggap rentan disusupi paham radikalisme.

Pada remaja, kemampuan adaptasi mereka dipengaruhi oleh nilai yang didapatnya dari lingkungan sosial dan juga keluarga.

Mengutip Psikolog G. Stanley Hall, Erlinda menyatakan, masa remaja adalah masa transisi dari periode anak menuju dewasa dan remaja berada pada masa badai topan yang berarti memiliki jiwa yang meletup dan ingin diakui keberadaannya.

Berbeda dari anak, Erlinda mengungkapkan bahwa ada beberapa alasan mengapa tindakan terorisme mengikutsertakan perempuan.

"Saat diikat perkawinan, perempuan sangat mudah dipengaruhi disebabkan faktor taat pada suami," ucapnya.

"Ada ikatan kuat pada hubungan suami-istri sehingga perempuan menjadi 'pengikut setia dan selalu merasakan hal yang sama' oleh suatu doktrin."

Walaupun demikian, peranan ibu juga menjadi penting untuk menangkal radikalisme.

"Benteng utama penangkalan paham radikal terorisme adalah peran ibu dan perempuan dalam keluarga. Karena itulah, peran perempuan sangat strategis dalam edukasi dan literasi terhadap keluarga khususnya anak-anak agar terhindar dari paham kekerasan dan terorisme."

(chs)