Celoteh Wisata

Riza Marlon dan Seluk Beluk Fotografi Alam Liar

agr, CNN Indonesia | Rabu, 23/05/2018 16:24 WIB
Riza Marlon dan Seluk Beluk Fotografi Alam Liar Ilustrasi (ANTARA FOTO/Yusran Uccang)
Jakarta, CNN Indonesia -- Tak sedikit orang yang berdecak kagum saat melihat foto seekor Burung Elang atau Harimau menerkam mangsanya. Hal itu menandakan fotografi alam liar sudah memiliki tempat yang spesial di hati.

Namun bagi fotografer, ranah fotografi alam liar memiliki tantangan berbeda dengan fotografi peristiwa, karena ada beberapa disipin ilmu lain yang harus dipelajari.

Minimal fotografer alam liar juga harus memiliki bekal pengetahuan tentang satwa sekaligus bertahan hidup di alam liar.


Salah seorang fotografer spesialis alam liar, Riza Marlon, menuturkan kunci utama untuk menjadi fotografer alam liar harus senang berwisata dan mencintai alam.

"Kalau bisa porsinya sama besar, tapi kalau gak seimbang juga gak masalah. Karena pada akhirnya perpaduan itu yang menjadikan hal itu jadi langgeng," ujar Riza, saat dihubungi CNNIndonesia.com pada pekan kemarin.

Menurut Riza, fotografi alam liar adalah soal ketertarikan, riset, konsistensi, investasi, dan komitmen.

Memahami setempat

Riza sendiri sudah menekuni fotografi alam liar sejak tahun 1990-an.

Baginya hal yang paling mahal dari fotografi alam liar bukan soal peralatan, tetapi orang lokal yang ahli atau yang ia sebut local expert.

Menurut Riza local expert yang mengetahui secara spesifik tentang tabiat satwa, mulai dari waktu keluar hingga tempat mereka menampakkan diri.

"Lensa, kamera, dan perlengkapan lain bisa dibeli. Teknik fotografi bisa dilatih. Tapi kalau kita gak ketemu ahlinya, kita cuma mikul kamera di hutan aja," kata pria yang sudah menerbitkan tiga buku fotografi ini.

Riza mengungkapkan awalnya kebanyakan local expert berprofesi sebagai pemburu hewan. Tapi begitu dibina dan diberikan bayaran yang layak, mereka lama-lama mengubah profesinya menjadi pemandu orang yang mau menjelajah hutan.

[Gambas:Instagram]

"Dengan datangnya pariwisata, menjadi local expert bisa mendapat penghasilan rutin. Kalau berburu kan ga menentu," ujarnya.

Sepuluh tahun pertama menjadi fotografer alam liar Riza banyak menyamakan persepsi dengan para local expert, karena mereka kurang paham mengapa ada orang yang mau masuk hutan dan memotret hewan di dalamnya.

Lama kelamaan para local expert paham bahwa hewan memiliki beragam tingkah laku yang menarik untuk diabadikan dalam foto. 

Keunikan tersebut tak terjadi setiap hari, sehingga hasil fotografi alam liar sangatlah bergengsi.

Riza berpendapat geliat pariwisata yang akhir-akhir ini sedang marak tidak menganggu konservasi.

Karena menurutnya lewat pariwisata kesadaran menjaga kelestarian alam bisa dibangun. Yang penting, kata Riza, masyarakat setempat diberi wawasan dan pengertian mengapa mereka wajib menjaga alamnya.

"Itu kan intinya konservasi. Masalahnya sekarang kan, masyarakat belum kenal terus gimana mereka mau peduli? Saya tidak menyelamatkan harimau, atau satwa-satwa lainnya. itu tugas orang lain. Tugas saya adalah membangun rasa kepedulian, memperkenalkan satwa Indonesia ke publik," kata Riza, yang saat ini sedang menyusun buku selanjutnya dengan tema burung-burung endemik Walacea dan primata Indonesia.

[Gambas:Instagram]

Masih butuh banyak fotografer

Terkait buku fotografi, Riza mengaku ketiga karya yang sudah dibuatnya belumlah cukup. Namun hal itu sudah bisa menjadi bekal untuk dirinya mencari donatur ke instansi-instansi guna memiringankan bebannya sebagai fotografer alam liar.

"Selama 27 tahun ini belum ada bantuan dari instansi, paling bantuan dari individu aja yang minjemin kamera dan lain-lain. Saya lebih sering jalan pakai uang pribadi," katanya.

"Di Indonesia kan harus ngebuktiin dulu pakai uang sendiri. Jadi kalau ada yang ngeluh mahal, menurut saya itu cengeng karena gak mau berkorban untuk mimpinya," lanjutnya.

Riza mengaku nekat menjalani profesinya sebagai fotografer alam liar, karena ia menyadari laju kehancuran alam lebih cepat dari laju pendokumentasian.

Ketika ditanya alasan memilih format buku, Riza menjawab karena buku adalah warisan yang bisa disimpan dengan baik. Namun ia mengingatkan untuk membuat buku fotografi yang bagus, jangan yang asal jadi.

Karena menurutnya yang sedang menjadi 'lawan' adalah buku-buku fotografi dengan standar orang luar negeri.

"Kriteria buku fotografi yang bagus itu punya foto bagus, tulisan bagus, tata letak bagus, cetakan bagus, dan lainnya. Standar kita harus mengikuti standar orang asing, karena itu yang diakui. Memperbanyak referensi buku-buku bagus itu penting," katanya.

Perkembangan teknologi, Riza melanjutkan, makin memudahkan. Ia mengaku dulu ia berkorespondensi dengan local expert lewat surat, kemudian masih harus membawa beberapa kamera analog beserta roll film dalam jumlah banyak.

"Sekarang udah lebih mudah, pilihan perangkat motretnya juga banyak. Saya sering bilang '1000 Riza Marlon kurang untuk mendokumentasikan seluruh Indonesia', artinya masih banyak banget hal yang bisa digarap untuk bikin buku, dan harusnya makin banyak yang menggeluti ini," kata Riza.

"Gue kasih petunjuk nih. Hutan indonesia itu gelap, nah sekarang lo ulik aja tuh gimana baiknya buat dapet foto yang keren," ujar Riza mengakhiri perbincangan.

(ard)