Pasar Papringan, Revitalisasi Desa yang Berujung Wisata

CNN Indonesia, CNN Indonesia | Kamis, 24/05/2018 12:22 WIB
Pasar Papringan, Revitalisasi Desa yang Berujung Wisata Ilustrasi (Foto: Thinkstock/rikirisnandar)
Jakarta, CNN Indonesia -- Dalam bahasa Jawa, papringan berarti rumpun bambu. Sekilas tidak ada yang menarik dari rumpun bambu, bahkan sangat dekat dengan suasana angker. Namun hal ini tidak menyurutkan niat sekelompok orang di Temanggung untuk membongar citra itu demi kesejahteraan warga.

Seorang perwakilan dari LSM Spedagi, Fransisca Callista, bercerita tentang sejarah terbentuknya pasar Papringan di dusun Ngadiprono, Kabupaten Temanggung, Provinsi Jawa Tengah.

Menurutnya pasar ini tercipta karena dilatarbelakangi dampak urbanisasi. Atau kata lainnya banyak pemuda desa memilih pindah ke kota untuk mencari pekerjaan. Ia mengaku, LSM Spedagi selaku kelompok yang bergerak di bidang revitalisasi desa harus bertindak sesuatu.


Bambu, ia melanjutkan, adalah aset yang sudah dimiliki oleh dusun Ngadiprono. Namun sayangnya justru dicampakkan begitu saja, bahkan lokasinya dijadikan tempat pembuangan sampah.

"Permasalahannya adalah bagaimana cara menciptakan upaya kreatif, biar anak mudanya tinggal di desa dan berkarya di desa. Makanya harus melakukan upaya kreatif," kata perempuan yang akrab disapa Sisca, dalam acara buka puasa bersama forum wartawan pariwisata, di Restoran Bunga Rampai, Jakarta, Rabu (23/5).

Untuk itu, Sisca menambahkan, kebun bambu itu 'disulap' menjadi pasar yang bisa menjadi etalase produk khas warga sekitar. Mulai dari kerajinan tangan, kuliner, hasil bumi, dan lain-lain.

[Gambas:Instagram]

Satu hal yang unik dari pasar ini adalah waktu operasionalnya. Pasar ini hanya buka pada Minggu Wage dan Minggu Pon, atau dua kali selama 35 hari, sejak pukul 06.00 hingga 12.00 WIB.

"Jadwal bukanya pun berdasarkan filosofi penanggalan masyarakat Jawa. Kami ingin membangun kembali budaya pasar di Jawa yang buka pada saat-saat tertentu," katanya.

Ia mengatakan selain membuka pasar Papringan, pihaknya juga mengadakan pengayaan, pelatihan, demi menjaga kualitas pasar para pedagang, yang 100 persen merupakan warga lokal.

"Kegiatan ini dilkukan untuk meningkatkan kepercayaan diri warga. Jadi warga enggak cuma jadi penonton, tapi pelaku," katanya.

[Gambas:Instagram]

Sisca melanjutkan hal ini bisa terlaksana karena sebagian besar warganya memahami pentingnya merevitalisasi desa mereka. Hal ini, ia melanjutkan, bisa berjalan karena kesadarannya sudah terbangun dari akar rumput. Hal ini tentu menguras waktu dan tenaga, namun hasilnya bukan hal yang percuma. (agr)